Tak Pernah Bosan Makan Tempe

12080506_1658887457683425_1945367139_n

Tempe goreng ijen (foto by Yunanta C Buana)

“Pagi ini tersisa tiga potong tempe sebagai lauk kami. Tempe ijen semacam ini favorit kawan saya yang namanya Sumeru. Tempe goreng tidak terlalu kering, gurih, dan masih hangat pas sekali buat lauk sarapan.”

Sebuah postingan Instagram milik @yunantabuana yang menggelitik buat saya. Ternyata tidak hanya saya yang doyan banget dengan lauk yang namanya tempe ini. Bahkan, saat hamil pun, saya pernah menghabiskan sepiring tempe goreng sendiri. Hingga oleh keluarga suami di Bandung, saya sering dijadikan bahan candaan. Kata mereka, mempunyai istri seperti saya ngirit, karena makannya cukup dengan tempe.

Eits, jangan salah ya, awalnya tempe memang diciptakan oleh rakyat makanya acap dipandang sebelah mata. Namun, kini pamor tempe tak kalah dibanding lauk lainnya. Warisan budaya bangsa ini telah menunjukkan tajinya di pentas global. Ia telah menjadi menu favorit di Jepang dan Korea. Dua negara macan Asia Timur yang tak bisa dipandang sebelah mata. Tempe juga telah merambah negara Asia, Eropa bahkan Amerika. Bahkan di Jerman, sudah dilakukan penelitian tingkat terkait tempe untuk mendapat lebih banyak manfaatnya.

Fakta menarik lainnya tentang tempe yang belum lama saya ketahui adalah ternyata lauk favorit yang saya makan hampir setiap hari tersebut telah ada lebih dari 400 tahun. Hal ini pernah dimuat dalam manga “Shokugeki No Souma” pada chapter 43 page 11. Dalam manga tentang masak-memasak yang ditulis oleh Tsukuda Yuto tersebut, tempe disebutkan berasal dari Indonesia. Kartun Jepang dengan ilustrator Shun Saeki/ TOSH yang berkolaborasi dengan seorang Chef terkenal bernama Morisaki Yuki telah terbit secara mingguan di Shonen Jump sejak November 2012.

Tempe dalam manga

Tempe dalam manga “Shokugeki No Souma”

Menurut sejarawan Ong Hok Ham, penemuan tempe adalah sumbangan Jawa pada seni masak dunia. Ia menyayangkan penemu tempe anonim karena tempe ditemukan sebelum zaman paten. Tahun 2014, hak paten yang berhubungan dengan tempe paling banyak dimiliki oleh Amerika Serikat sebanyak 35 buah kemudian Jepang 5 buah dan Indonesia dua buah. Hal tersebut diungkapkan oleh Guru Besar Teknik Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor Tien R Muchtadi.

Bukti lain jika tempe berasal dari Jawa dikemukakan oleh pakar tempe dari Universitas Gajah Mada Mary Astuti. Berdasarkan muasal katanya, tempe bukan berasal dari bahasa Tiongkok, tapi bahasa Jawa kuno, yakni tumpi. Artinya makanan berwarna putih yang dibuat dari tepung sagu dan tempe berwarna putih. Ia juga menemukan kata tempe dalam Serat Centhini jilid ketiga, yang menggambarkan perjalanan Mas Cebolang dari Candi Prambanan menuju Pajang. Ia mampir di dusun Tembayat wilayah Kabupaten Klaten dan dijamu makan siang oleh Pangeran ayat dengan lauk seadanya. Dalam serat yang dibuat sekitar abad ke-19 disebutkan, “…brambang jae santen tempe … asem sambel lethokan …” sambel lethok dibuat dengan bahan dasar tempe yang telah mengalami fermentasi lanjut. Pada jilid 12 kedelai dan tempe disebut bersamaan: “…kadhele tempe srundengan…“. Jadi, berdasarkan uraian tersebut menurut saya tempe bisa dikatakan berasal dari Klaten, kampung halaman saya. Makanan daerah yang kini mendunia.

Pada dasarnya proses pembuatan tempe adalah proses menumbuhkan spora jamur tempe, yaitu Rhizopus sp., pada biji kedelai. Dalam pertumbuhannya, Rhizopus sp., membentuk benang hifa. Benang tersebut yang mengikat biji kedelai satu dengan yang lainnya menjadi tempe. Pada masa fermentasi, jamur tersebut juga menghasilkan enzim pencernaan yang mengurai protein dalam biji kedelai sehingga membuat tempe lebih nyaman di perut. Karenanya, tempe baik untuk semua kelompok umur.

Potongan tempe rebus dapat dijadikan bahan dasar resep Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI), baik campuran nasi tim maupun bubur. Saya pribadi pun tidak ragu memberikan kepada balita saya yang berusia satu tahun. Olahan tempe juga disarankan dikonsumsi oleh ibu hamil karena nilai gizinya. Tempe dapat membantu kebutuhan protein yang meningkat seiring pertumbuhan janin, dalam menyebutkan kebutuhan protein adalah 12 gram/kilo berat tubuh.

Dikutip dari laman http://www.kuherbal.com, pada 100 gram tempe mengandung sekitar 20.8 gram protein, sehingga cocok sebagai menu sehari-hari yang digunakan untuk diet tinggi protein. Namun, yang harus diingat untuk mengoptimalkan nutrisi tempe untuk tubuh adalah cara memasaknya yakni dengan direbus, dibacem, disemur, dan campuran berbagai sup. Sementara penelitian di Jerman telah membuktikan jika tempe mengandung superoksida dismutase yang bisa mencegah penuaan dini. Selain itu, dapat mencegah radikal bebas yang menyebabkan penyakit degeneratif (misalnya penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi, berbagai jenis kanker).

Mengingat kandungan nutrisi dari tempe yang begitu besar diharapkan pemerintah dan stakeholders makin serius melakukan penelitian. Penelitian juga harus dilakukan pada tanaman kedelai agar kedelai lokal tidak kalah bersaing dengan impor yang menyebabkan setiap tahun harga kedelai naik. Akibatnya, petani, pedagang, dan masyarakat dibuat dalam kondisi tidak menentu. Menurut Ketua Yayasan Tempe Indonesia Dr Sapuan, pemanfaatan tempe dalam industri di Indonesia pernah dijalin dengan PT Sari Husada. Namun, karena krisis ekonomi yang membuat bahan baku meningkat membuat produk susu instan dihentikan.

Untuk saya sendiri, tempe goreng dengan bumbu garam, bawang putih, ditambah sedikit penyedap rasa masih andalan. Bumbu tersebut dihaluskan manual lalu ditambah air matang secukupnya. Irisan tempe direndam kemudian ditiriskan dan digoreng. Resep warisan dari ibu saya, mudah dan hasilnya tempe gurih yang nyam-nyam. Seperti kata teman saya di atas, enak disajikan saat hangat. Olahan tempe lainnya yang kerap saya makan yaitu tempe bacem, kering tempe, dan tempe penyet pedas. Namun yang paling favorit masih makanan khas Klaten, lethok, yang berbahan tempe. Cocok dihidangkan dengan ditumpangkan pada nasi gudangan dan ditaburi sambal bubuk kedelai. Apalagi jika yang membuat adalah tangan ibu, rasanya semakin rindu dengan kampung halaman.

Referensi:
Cara Membuat Tempe. http://www.caramembuattempe.com
Hak Paten/Hak Cipta Tempe. http://arinifatimah35.blogspot.co.id/
Indonesia dalam Manga Jepang. Posting 18 November 2013. http://otaku-indon.blogspot.co.id/
Kandungan Nutrisi Gizi Tempe dan Manfaatnya Bagi Kesehatan. http://kuherbal.com/
Sejarah Tempe; Tempe makanan kita semua oleh Hendri F. Isnaeni. http://historia.id/kuliner/sejarah-tempe
7 Makanan Khas Indonesia yang Mendunia oleh Hadi Hariyanto. Posting 21 April 2015. http://www.asliindonesia.net//

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.