[Feature] Aku Bukan Keranjang Sampah

“Jorok!”

Sepuluh-dua puluh tahun yang lalu, airnya masih jernih. Alirannya hampir selalu ada baik musim penghujan atau kemarau. Banyak anak kecil bermandi ria. Jika tanpa sengaja meminum airnya, tak akan takut kena diare. Ikan berenang. Katak bernyanyi. Kepiting merayap. Mata air-mata air kecil di kiri kanan sungai pun masih banyak dijumpai.

Kini yang tersisa, air yang menggenang di suatu titik saat musim kemarau. Itu pun sudah tak jelas warnanya. Jangankan mau mandi, melintas saja harus mengernyit dan menutup hidung. Bau. Campuran sampah dan limbah menjadi satu. Fauna tergeser habitatnya. Sumber-sumber mata air penyumbang aliran sungai sudah mati tergeser pembangunan di sekitarnya. Itulah gambaran singkat sungai di dekat kampung halaman saya di Klaten.

Masalah sampah kini telah menjadi masalah lingkungan. Kebanyakan kasus, hal ini dikarenakan minimnya lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan pengangkutan. Masyarakat yang masih rendah kesadaran akan kelestarian lingkungan sering memanfaatkan sungai sebagai jalan pintasnya. Alhasil, sungai-sungai termasuk sungai kecil menjadi keranjang sampah raksasa.

P_20151031_162525_1_p

Sungai dipenuhi sampah di Jogonalan, Kabupaten Klaten (Foto: dok. pribadi)

Sampah di alirkan melalui badan sungai. Padahal, sampah tersebut bisa terhenti di suatu tempat dan menumpuk. Di sudut-sudut tertentu, pinggiran sungai biasanya dekat jembatan menjadi langganan untuk membuang sampah. Volume sampah semakin lama kian melebihi ambang batas sungai untuk menetralkan dirinya sendiri. Adanya pembangunan di kiri kanan sungai juga menyebabkan matinya jutaan mata air makro maupun mikro membuat debit air sungai mengecil sehingga tak lagi mampu bisa menjadi faktor pengencer sungai. Kualitas air menurun. Padahal air sungai kerap menjadi bahan baku untuk air bersih termasuk pertanian. Jika air sungai sudah tercemar, manusia juga yang akan menanggung akibatnya.

Kemana sungaiku yang dulu?

Di kabupaten Klaten yang saya bilang kota kecil masalah sampah sudah dibilang serius. Menurut data non fisik program Adipura tahun 2011-2012, sampah yang dihasilkan dalam sehari rata-rata 250 meter kubik. Dari jumlah tersebut yang terangkut ke TPA baru sekitar 150 meter kubik per hari. Sisanya? Tak sedikit yang mampir ke sungai seperti foto di atas yang saya ambil belum lama.

Apalagi di kota besar dengan jumlah penduduk yang lebih tinggi. Sebagai contoh Kota Bandung, tempat domisili saya sekarang, setiap hari Kota Bandung menghasilkan sampah sekitar 1.600 ton. Dari jumlah tersebut sekitar 1.200 ton diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Sarimukti di Kabupaten Bandung. Sampah yang diolah warga sekitar 150-250 ton. Sisanya tidak terangkut dan dibuang liar.

Di dekat saya tinggal di daerah Pasirluyu, mengalir Sungai Cikapundung. Sungai yang membelah Kota Bandung, berhulu di Curug Ciomas daerah Lembang dan bermuara di Sungai Citarum. Seperti kebanyakan sungai lainnya, di sisi yang kerap saya lewati ini badan sungai sering dijadikan keranjang sampah. Dalam sehari sampah sungai Cikapundung bahkan bisa mencapai 6-7 ton (sumber: tribun.news). Padahal kata suami saya, saat dia kecil atau sekitar dua puluh tahun lalu, ia masih kerap mandi di sungai tersebut. Sekarang, sungai tersebut dipandang sebagai halaman belakang orang-orang bermukim alias tempat membuang sampah instan.

Di bagian sungai yang lain, pemerintah Kota Bandung tengah merevitalisasi sungai Cikapundung yang memiliki panjang total sekitar 28 kilometer sebagai area publik. Sungai yang melintasi Kota Bandung sekitar 15,5 kilometer seharusnya tidak ditangani secara parsial. Sebab ia menyumbang aliran ke sungai Citarum. Jika Sungai Cikapundung tidak ditangani, maka sungai Citarum yang berfungsi sebagai sumber air baku waduk, tidak akan berfungsi. Sehingga nantinya dapat pula berakibat tidak berfungsinya pembangkit listrik, irigasi, krisis sumber baku air bersih, dan tak dapat lagi menjadi sumber kehidupan.

11960189_561541323997693_2650061561376991874_n

Progres revitalisasi Cikapundung di area Babakan Siliwangi per tanggal 12 Sept 2015. Dengan Jembatan Merah sebagai landmarknya. Semoga beres dalam 2 bulan lagi. *Menuju Kota yang Manusiawi dan Bahagia.

Konservasi sungai untuk kelestarian air

Konservasi artinya wise use atau pemanfaatan secara bijaksana. Artinya, kita harus bijaksana dalam memanfaatkaalami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan.

Karenanya, saya mencoba mengajak kita untuk mengubah sudut pandang. Mencoba berpikir dari sisi sungai yang kondisinya kian miris. Banyak tulisan atau poster-poster “Dilarang Membuang Sampah di Sungai” tapi pada kenyataannya kesadaran tidak membuang sampah di sungai masih minim. Mantan Menteri Lingkungan Hidup Sony Keraf mengatakan “Hidup di tempat” adalah hidup yang menjaga dan merawat ekosistem setempat yang sekaligus menggantungkan hidup pada mengolah alam demi kelanjutan seluruh kehidupan di dalamnya, termasuk kehidupan ekonomi manusia.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat yang mulai tumbuh dalam mengelola lingkungan seperti adanya kelompok bank sampah patut didukung dan diapresiasi oleh pemerintah. Misalnya, adanya kelompok Bank Sampah Sabilulungan di Linggawastu Kota Bandung. Masyarakat telah memilah-milah sampah secara pribadi. Sampah yang masih bernilai ekonomi bisa dijual melalui bank sampah sehingga menambah pendapatan rumah tangga. Kesadaran seperti ini harus ditangkap dengan cermat oleh pemerintah kemudian ditularkan ke masyarakat lain.

Pemukiman liar di sekitar sungai terlebih yang masuk bantaran sungai harus dikosongkan. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya endapan dan menyempitnya penampang sungai. Artinya selain limbah rumah tangga yang bisa masuk setiap saat ke sungai, banjir juga siap menerjang kapan saja.

Pemerintah yang tegas sangat diperlukan terkait hal ini seperti upaya yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta belum lama ini. Meski diprotes oleh sebagian warga, ia nekat membersihkan bantaran sungai Ciliwung. Kali Ciliwung yang dulunya mempunyai lebar hingga 40 meter terdesak pemukiman hingga menyisakan badan sungai lima meter. Tak heran, jika setiap hujan tiba atau hujan di hulu banjir siap menerjang di kawasan hilir (Jakarta).

Setelah mengubah mindset pentingnya sungai untuk kehidupan, maka selanjutnya adalah mengembalikan sungai ke semula. Ia sebagai habitat makhluk hidup baik flora dan fauna. Menata ulang sungai bukan hanya untuk kepentingan komersiil. Sungai yang baik memiliki garis sempadan sungai. Tugas kita adalah mempertahankannya.

Lalu, meminimalkan pentaludan maupun pembangunan tebing permanen untuk mencegah matinya mata air-mata air di sekitar sungai. Sebab, sungai juga bisa menjadi alternatif ketika kekeringan datang. Kiri kanan sungai bisa diganti dengan menumbuhkan vegetasi alami di sekitar sungai. Selain untuk menyimpan air juga untuk mendatangkan satwa. Sungai lestari, air lestari, sehingga tanpa eksploitasi berlebihan kita juga bisa memanfaatkannya sebagai sarana rekreasi.

Kelestarian air sebagai warisan untuk anak cucu

Kelestarian air sudah semestinya menjadi tanggung jawab bersama karena kita ada dalam rantai tersebut. Jika kelestarian sungai sebagai ekosistem yang didalamnya terdapat air rusak maka kehidupan manusia juga menurun. Sebab, air adalah sumber vital manusia. Air menjadi inti dari alam semesta, yaitu sebanyak 70 persen permukaan bumi merupakan air. Air juga menyumbang 75 persen dalam membentuk otak manusia.

Sungai harus dijaga dari hulu hingga hilir bukan hanya hulu, tengah, maupun hilir saja. Ia adalah satu kesatuan yang kompleks. Jika satu bagian rusak, rusak pula yang lain. Sebagai contoh, komitmen AQUA yang belum lama ini dilakukan adalah menjaga kelestarian hulu di Desa Pancawati Bogor dengan merestorasi hutan. Hutan sebagai penyimpan air yang akan mengalirkan ke sungai. Jika hulu sudah bagus, bagian hilir juga harus dijaga. Di bagian tengah, yang umumnya dihuni masyarakat harus dicegah pembuangan sampah sembarangan. sehingga, tidak menumpuk sampah yang akhirnya bisa mengakibatkan macetnya saluran air di hilir.

Anak saya saat ini berumur satu tahun, ketika ia sudah bisa bermain, ia mungkin tak bisa lagi bermain di sungai seperti saat kedua orang tuanya kecil. Sungai tempat yang menyenangkan telah berubah menjadi tempat berbahaya buat si kecil. Apa jawaban kita untuk mereka?

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.