[Cerpen] Pelopor Keselamatan

“Pakai helm ga?”

Nisa berjalan mendekati suaminya yang sudah berdiri di samping sepeda motor matic-nya. Ia lalu menjawab pertanyaan sang suami, “Ga usah ah, lagian jarak rumah nenek kan dekat!”

“Pakai helm itu bukan karena jauh dekatnya, Ayang! Tapi, karena keselamatan. Aku kan pelopor keselamatan!”

Nisa sedikit memanyunkan bibirnya. Ia tersindir ucapan suaminya.

“Kalau gitu aku juga pakai ah. Aku kan istrinya pelopor keselamatan!”

Hahaha…

“Sudah atau belum?” Ardi sang suami memastikan istrinya sudah membonceng dengan benar. Ia lalu menengok ke belakang.

Tuh kan! Pastikan bunyi klik!”

Lagi-lagi, bibir Nisa manyun. Ia malu bercampur kesal. Tali pengaman helmnya kedapatan belum dikancingkan benar. Suaminya hanya merenges sambil membenarkan helm istrinya. Ibu Nisa tersenyum melihat keduanya dari bibir pintu rumah.

“Ibu, kami berangkat!”

“Iya, hati-hati di jalan!”

Keduanya merupakan pasangan muda. Ini adalah pertama kalinya kunjungan Ardi ke kampung halaman Nisa di Klaten setelah pernikahannya delapan bulan lalu. Ia memanfaatkan sisa masa cuti untuk berkunjung ke keluarga istri.

Di kampung halaman istrinya yang di desa itu memang sepertinya memakai helm masih merupakan hal aneh kecuali untuk jarak jauh atau melewati pos polisi.

Hadeeuuh… hari gini sadar memakai helm masih karena takut ditilang,” ejek suaminya.

Sebagai jurnalis, Ardi kerap meliput kecelakaan lalu lintas. Data tahun 2014, jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas 120 orang per harinya, 70 persen di antaranya adalah pengendara sepeda motor. Pengendara sepeda motor yang tidak mengenakan helm SNI atau full-face peling rentan terhadap kerusakan wajah, kepala, dan otak apabila terjadi kecelakaan. Terjatuh dari sebuah sepeda motor berkecepatan 21,5 km/jam tanpa helm sama dengan terjatuh dari ketinggian enam kaki atau 183 meter dengan kepala terlebih dahulu. Ngeri!

Nisa mempererat pelukan di pinggang suaminya. Kaca helmnya menumbuk bagian belakang helm Ardi.

“Ayang, tutup kaca helmnya!”

“Ga enak ah kalau ditutup!”

“Daripada jedug-jedug berbenturan gini! Lagian biar ga…

Belum selesai Ardi bicara, Nisa sudah mengaduh kesakitan. Ada sesuatu menabrak bola matanya.

“Aduuhh…. Ayang… ” Nisa mengucek-ucek matanya sambil meringis kesakitan.

“Ada apa?”

“Kelilipan…”

Ardi menepikan motornya. Ia hendak meniup mata istrinya yang kelilipan. Nisa makin merengek kesakitan. “Tuh, makanya dengerin, disuruh nutup kacanya juga!”

“Ya sudah nanti dulu marahnya. Ini sakit beneran kaya ada hewannya!”

“Sini coba aku tiup!”

“Sakit kalau matanya dibuka, Ayang!”

“Ya sudah merem dulu!”

“Merem juga sakit…. uhhhh….”

Nisa makin merintih. Merasa bukan kelilipan biasa, Ardi langsung membawa Nisa ke puskesmas terdekat. Dokter menanganinya dengan cermat. Ternyata mata Nisa kemasukan serangga.

“Lain kali ditutup ya, Mbak, kaca helmnya!”

Nisa tersenyum. Ardi mencoleknya pinggang istrinya.

“Kaca, tali pengaman, itu bukan hiasan helm!”

Tuh dengerin!” kali ini Ardi ikut ngompor-ngomporin.

“Banyak korban kecelakaan lalu lintas tewas akibat helm. Helm yang tidak ditutup misalnya. Pecahan kaca bisa masuk ke wajah, fatalnya merobek bagian mata. Kalau tidak di-klik tali pengamannya, saat benturan helm bisa lepas. Benturan di kepala ini bisa mengakibatkan hematoma atau darah mengumpul di organ maupun jaringan. Apabila pendarahan terjadi di otak, darah tidak bisa terlepas karena otak adanya di dalam tengkorak. Tahu sendiri kan otak itu vital buat manusia?”

“Iya, Bu!” jawab Nisa manggut-manggut. Kali ini penjelasan Bu Dokter berjas putih benar-benar didengarkan dengan seksama. Usai mendapat perawatan dan tes untuk mata, keduanya berpamitan.

Keep safety, ya!” dokter memberi nasehat sembari melempar simpul senyuman yang manis di bibirnya.

Mata Nisa masih merah saat tiba di rumah nenek. Ia menggunakan tangan kirinya untuk menutup mata kirinya. Suaminya mengetuk pintu sedangkan Nisa memilih duduk di dipan sembari menunggu nenek membuka pintu.

Ya Alloh, Nisa, kenapa?”

Ga kenapa-kenapa kok, Mbah, cuma tadi kelilipan di jalan!”

“Bisa sampai merah gitu! Kelilipan pasir?”

“Bukan, serangga…”

Astaghfirullah… Nisa! Makanya kaca helmnya ditutup, kemarin pakde-mu sudah pakai kacamata, kaca helm ditutup masih kelilipan pasir juga. Jangan disepelekan yo, Nduk! Itu mata bukan hiasan.”

Dua orang sudah menyentilnya hari ini. Belum kalau ditambah suaminya jadi tiga orang. Ia memang kerap menyepelekan untuk tidak memakai helm apalagi menutupnya. Menurutnya ribet harus copat-copot helm hanya untuk jarak dekat. Ia juga merasa sumpek kalau kaca helmnya ditutup.

“Iya… Mbah!” Nisa tertunduk.

Ndot…ndottt….ndotttttttt…

Percakapan mereka terhenti sejenak oleh bising suara sepeda motor. Dari kejauhan nampak anak berpakaian seragam merah putih naik motor dengan menjamping-jampingkannya. Bagian roda depan sepeda motor diangkat ke atas tinggi-tinggi. Sesekali ia menoleh ke belakang menunggu temannya. Lalu motor kembali tancap gas.

“Pasti si Ragil!” tebak nenek sembari geleng-geleng.

“Ragil, anak yang rumahnya di depan itu?” tunjuk Nisa.

“Iya! Padahal kakinya saja belum nyampai ke tanah kalau naik motor, sudah ngebut kaya gitu. Dasar, anak zaman sekarang pada dimanja!”

“Terus kalau mau berhenti gimana?” Ardi ikut nimbrung.

“Nyari pancatan!”

Ardi nampak tak paham.

“Itu nyari pondasi,” jelas neneknya.

Nisa dan Ardi geleng-geleng.

“Sekarang zaman serba enak. Anak-anak SD sudah diajari naik motor. Naiknya bukan naik yang beneran. Kalau sudah naik, aduhai, ngebut, ga ngerti tanggoh[1]

“Soalnya belum tahu rasanya jatuh kaya gimana?” timpal Ardi.

Rata-rata pengendara sepeda motor baru trauma dan hati-hati di jalan apabila sudah mengalami kecelakaan fatal. Padahal kecelakaan bisa dicegah maupun dihindari jika waspada. Bukan memasrahkan pada takdir. Dalam dua tahun terakhir oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), kecelakaan lalu lintas tercatat sebagai penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung koroner dan tuberculosis di Indonesia.

“Ayang, pernah jatuh?”

“Ya pernah tapi ga sampai yang masuk rumah sakit atau patah tulang atau dijahit gitu. Jangan sampai. Na’udzubillah. Lagian, ayang, untuk sadar berlalu lintas tidak harus menunggu harus jadi korban dulu kan?”

Nisa mengangguk.

Tak terasa dua jam mereka berbincang. Terik mentari sudah meredup. Bakda asar keduanya berpamitan pulang. Jalan raya masih relatif lengang. Kepadatan para penglaju dari Kota Jogja maupun Solo belum terasa. Kondisi ini dimanfaatkan beberapa kendaraan untuk memacu kecepatan maksimal.

“Ayang!” tangan Nisa reflek memeluk erat tubuh suaminya. Ia baru saja terkaget saat seorang pengendara wanita mendahului mereka dari sisi kiri.

Ardi geleng-geleng.

“Ini perempuan, pakai matic, nylonong sesukanya. Udah nyalip dari kiri, ngebut lagi… Tidak nglakson lagi. Padahal sebelah kanan kosong… ga sayang nyawa apa… hadeuuhhh…” umpatan demi umpatan Ardi keluar dari mulutnya. Ia nampak lebih kaget dari Nisa.

“Jangan-jangan kamu kalau naik motor kayak gitu juga!” tuduhnya pada Nisa.

Enggak-lah” jawab Nisa cepat sambil merengut.

Namun, memorinya kembali mengiang masa kuliahnya. Ia penglaju dari Klaten ke Yogyakarta. Jarak 23 kilometer ditempuhnya sekali jalan. Dimanjakan jalan raya yang lebar, ia kerap menancap gasnya hingga mentok. Saat pulang dari kampus bahkan ia kerap sengaja menantang pengendara lainnya untuk balapan. Tandanya, ia membunyikan klakson. Jika pengendara tersebut paham dan setuju akan merespon balik. Kalau tidak dapat rekan balapan, ia tetap mengendarai hingga jarum spedometer mencapai kecepatan maksimal di angka 120.

Suatu ketika, Nisa malah pernah dijitak helmnya saat berhenti di lampu merah. Tangan sopir mobil di sebelahnya yang berhenti memukul helmnya. Dipikir-pikir, pasti saat itu sang pengemudi kesal dengan ulah Nisa yang salip kiri kanan. Ia tak sadar, selain membahayakan dirinya, ulahnya juga membayakan orang lain.

Puncaknya, saat seorang tetangga memergoki Nisa yang sedang kebut-kebutan di jalan raya. Tetangga tersebut melaporkan tingkahnya pada sang ibu.

Tuh, Mbak, Si Nisa kalau di jalan ngebutnya ampun deh sampai ada tetangga juga ga tahu!” kata ibunya menirukan ucapan tetangga.

Akhirnya, Ibu Nisa menarik “Si Ijo” motor Honda Supra X 125-nya. Motor yang sudah dianggap teman perjuangannya. Si Ijo diganti dengan Scoopy motor matic berkapasitas 110 cc. Scoopy yang masih keluaran awal kala itu. Harapan ibunya agar ia tak kebut-kebutan di jalan lagi.

“Pembalap itu ada sirkuitnya sendiri bukan di jalan raya,” pesan ibunya terngiang.

“Ternyata saat itu aku membahayakan!” ia membatin. “Untunglah, Tuhan menegurku dengan cara halus. Aku tidak harus menjadi korban kecelakaan terlebih dahulu.”

“Ah… betapa konyolnya aku berkendara kala itu!” simpul Nisa di dalam hatinya. Kepingan demi kepingan saat ia masih jadi penglaju beriak. Kebut-kebutan yang dibangga-banggakannya ternyata nol besar. Lampu merah yang kerap diterobos agar bisa memecahkan rekor waktu sampai rumah. Selap-selip di antara jeda mobil hingga kerap spionnya menumbuk spion mobil. Bahkan pernah pula saat ngantuk memaksa naik motor dan tertidur sejenak di atasnya. Dan, kekonyolan-kekonyolan lainnya.

Heh… kenapa jadi diam?”

“Ga kenapa-kenapa? Jadi berpikir aja aku dulu kaya gitu mungkin haha… Makanya ibu membelikan aku motor matic yang cc-nya lebih rendah. Secepat-cepatnya Si Skupi kan masih kalah sama Si Ijo hehe… ”

“Iya, maksud ibu baik. Modelnya ramping dan mudah dikendarai para perempuan. Namun, perempuan itu suka semau gue kalau naik. SIM-nya juga pasti nembak. Kalau pakai ujian sudah pasti tidak lulus. Beda cara mengendarai orang yang bisa dan sok bisa!” tegas Ardi.

“Iya juga sich,” Nisa mengiyakan.

“Padahal setiap pembelian sepeda motor baru pasti dilengkapi dengan panduan keselamatan dan leaflet berkendara dengan aman dan nyaman di jalan. Sayang, hanya sedikit yang mau meluangkan waktunya sejenak untuk membaca.”

Lagi-lagi Nisa teringat buku panduan dan leafletnya yang disimpan entah dimana atau mungkin malah sudah dibuang. Padahal isinya sangat penting. Dari panduan tersebut, setiap pengendara bisa mengecek kondisi motornya setiap harinya. Untuk mengecek kendaraan pribadi tidak harus menjadi teknisi mesin. Jadi, pemilik bisa mengetahui kendaraannya sedang prima atau tidak.

Selain pengecekan kondisi kendaraan, penting pula habit dalam berkendara. Pemanasan dan perlengkapan tubuh yang lengkap. Postur berkendara dengan posisi badan yang tidak terlalu di depan dan dibelakang. Menyalakan lampu sein 30 detik saat akan berbelok di persimpangan. Semua sudah lengkap di leaflet. Safety first.

“Ingat kata Pak Michael Gerald Gozal, pengendara tak pernah bisa tahu apa yang akan terjadi di jalan. Tapi ini bisa diminimalkan dampaknya jika ada persiapan.”

“Iya, Ayang. Btw, Pak Michael itu siapa?”

Safety riding analyst-nya Astra Motor”

“Ah, dasar wartawan!”

Hehe…

 

[1] cara mengendalikan

2 pemikiran pada “[Cerpen] Pelopor Keselamatan

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.