[REVIEW BOOK] Humaira; Ibunda Orang Beriman

CUOPFLoUYAE6W-I.jpg

Penulis: Khamran Pasha
Penerjemah: Hilmi Akmal
Penerbit: Zaman
Tahun terbit: 2010
Cetakan ke: -1
ISBN: 978-979-024-200-5

BLURB
Empat belas abad silam, di tengah gurun pasir Arabia, seorang nabi diturunkan: Muhammad sang terpuji.

Saat risalah pencerahannya menyapu seluruh Jazirah Arab dan menyatukan suku-suku yang semula bertikai, istri kesayangannya, Aisyah binti Abu Bakar, yang berjuluk Humaira—yang berwajah kemerahan—mengisahkan kesaksiannya atas perubahan Muhammad dari seorang nabi menjadi salah satu negarawan paling berpengaruh di dunia.

Namun, tak lama setelah momen puncak kemenangan sang Nabi, beliau jatuh sakit dan wafat dalam pelukan sang Humaira. Sebagai seorang janda muda yang dihormati, Aisyah menemukan dirinya berada di pusat imperium muslim yang baru terbentuk dan kemudian beralih peran sebagai seorang guru bangsa, pemimpin politik, dan bahkan panglima perang.

Ditulis dalam prosa yang indah dan berdasarkan riset teliti, novel luar biasa ini adalah kisah menyentuh tentang pergulatan hidup dan cinta seorang perempuan istimewa yang ditakdirkan untuk membantu mengantarkan Islam ke pentas dunia.

REVIEW
Humaira, Ibunda Orang Beriman, ini adalah kedua kali saya membaca buku ini setelah membelinya tahun 2011 lalu. Sebuah buku yang menceritakan tentang Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW setelah Khadijah. Gadis yang dinikahkan pada usia sembilan tahun, yang kemudian dijuluki Humaira.
“Dan kau akan menjadi Humairah-ku. Si kecil dengan Wajah Bersemu Merah.” (Hal. 131).

Aisyah merupakan gadis kecil rupawan, lincah, dengan otak cemerlang, dan berdaya ingat tinggi. Begitulah penulis menggambarkannya dalam buku ini. Di usia belianya, Aisyah telah ditunjuk menjadi Ibunda Kaum Mukminin. Dengan sematan tersebut tentulah tugasnya mendampingi Rasulullah dalam keseharian termasuk saat perang.

Aisyah lahir di saat Islam baru-baru mulai lahir, ayahnya Abu Bakar Ash Shidiq pun termasuk sahabat yang pertama masuk Islam di Mekah. Gadis kecil ini menyaksikan Islam tumbuh dan mulai tersebar dari sebuah gurun. Islam yang mulanya mendapat pertentangan keras dari pemuka Quraisy di Mekah hingga mengharuskan mereka hijrah ke Madinah.

Aisyah remaja menjadi saksi penyebaran Islam yang damai namun juga tegas. Hingga akhirnya sebuah firman Tuhan tentang perang turun. Pertumpahan darah menjadi opsi terakhir dalam membela agama ini. Beliau pun menemani sang suami dalam perang pertama di Bukit Uhud. Perang dalam kondisi tidak seimbang antara musuh dan pasukan Muslim yang kecil. Begitu pula, dalam perang-perang berikutnya. Sampai ia bisa menjadi ahli strategi militer.

Selain menjadi pendamping seorang negarawan, Aisyah juga harus menghadapi kenyataan sebagai takdirnya sebagai manusia biasa. Sebagai wanita, kesetiaan Beliau pun diuji saat di sisi Nabi SAW mulai hadir perempuan-perempuan lain dalam rumah tangganya.

Istri kesayangan Nabi ini bahkan hampir terkena fitnah jika pertolongan Alloh SWT tidak datang melalui firmannya. Sebuah tragedi yang membekas dalam jiwanya dan merubah kehidupannya kelak terutama terhadap hubungannya dengan Ali bin Abi Thalib, sepupu suaminya.

Hingga saat Rasulullah SAW wafat, tugasnya belum selesai. Putri Abu Bakar menjadi salahsatu perapal hadits. Ingatannya yang kuat tentang perkataan Nabi, perilaku, bahkan tanggapan Nabi akan suatu hal dihaturkannya kembali. Namun, kedamaian hatinya ini seakan tercoreng saat istri kesayangan semasa hidupnya Nabi ini terlibat dalam perang Unta dengan Ali.

Membaca novel ini, saya seakan menyaksikan sendiri sejarah awal Islam mulai menyebar. Khamran Pasha menuliskannya dengan detail baik dari penggambaran karakter tokoh hingga perilaku keseharian. Ia sendiri menyebut novel ini adalah fiksi dengan berlatar belakang sejarah.

Novel ini juga mengungkapkan peran perempuan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan bisa menjadi ahli strategi militer, melalui pemikirannya perempuan bisa mempengaruhi suatu bangsa. Bahkan Aisyah menyatakan bahwa Khadijahlah yang menjadi pusat Islam sepanjang waktu. Sebab, tanpa keyakinan Khadijah yang mempercayai turunnya wahyu kepada suaminya, Islam tak akan pernah menyala.

Selain itu, untuk saya pribadi, adanya novel ini lebih membuat saya memahami sejarah penyebaran Islam daripada saat mengikuti pelajaran tarikh (sejarah Islam) saat di bangku sekolah. Mungkin terkait penyampaian penulis yang juga mantan jurnalis. Novel ini ringan, runtut sehingga mudah dibaca dan dimengerti.

Kendati begitu, sebagaimana diakui penulis, novel ini juga terdapat beberapa hal yang kontroversial. Saya sendiri berpikir apakah boleh menggambarkan sosok (wajah) Nabi Muhammad SAW termasuk saat berhubungan intim mengingat selama ini sang junjungan kerap diwujudkan dalam cahaya saat saya menonton film.

Namun, terlepas dari semua itu, novel ini sangat memukau buat saya. Mencoba meneladani kepemimpinan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin dari sudut pandang Aisyah, sudut pandang yang digunakan penulis.

@Rina_Darma13

4 pemikiran pada “[REVIEW BOOK] Humaira; Ibunda Orang Beriman

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.