Ibu Hamil Harus Mandi Saat Gerhana Bulan, Mitos atau Fakta?

“Nanti malam jangan lupa mandi pas gerhana bulan,” ucapan bernada mengingatkan dari ibu “senior” itu tiba-tiba menghentikan percakapan kami, tiga ibu muda yang tengah bercengkerama sembari menunggu anak-anak bermain. Kami bertiga saling memandang dan tertawa. Bukan meledek tapi bergurau sehingga tidak ada yang tersinggung. Maklum satu di antara kami ada yang tengah mengandung delapan bulan.

Saya yang belum pernah mendengar mitos ini langsung bertanya, memangnya kenapa? Katanya kalau tidak mandi nanti ada tanda lahir atau bulatan-bulatan gelap di kulit si bayi. Nah, si ibu yang hamil, mengatakan ada empat tanda di kepala anaknya yang sulung (5 tahun) karena waktu tengah kehamilannya tidak mandi. Kebetulan atau memang fakta karena pengaruh gerhana bulan?

Saya juga menemukan di twitter, kalau di Jawa, ada juga mitos wanita hamil tidak boleh keluar rumah saat gerhana bulan terjadi. Sebab, dikhawatirkan jabang bayi di dalam kandungan akan memiliki bibir sumbing seperti bentuk gerhana. Karena itu, wanita yang tengah hamil harus membuat bubur merah putih sebagai tolak bala.

Sebagai ibu generasi millenial tentu tidak boleh memakan mentah-mentah informasi ini donk ya. Memanfaatkan google saya mencari tentang mitos ini, belum ada bukti ilmiah yang mengatakan bahwa gerhana bulan menyebabkan cacat pada bayi dalam kandungan saat lahir nanti. Namun, sebagian besar masyarakat Bandung masih mempercayai tradisi dan kepercayaan ini. Seperti dikutip inilah, tahun 2011 malah puluhan ibu hamil mandi bersama saat gerhana bulan.

Karena penasaran, begitu pagi hari dan bertemu teman yang tengah hamil, saya langsung bertanya, “Tadi malam mandi pas gerhana bulan?”

“Iya, setengah dua-an,” jawabnya.

Hmmm… Skip…

Selain searching lewat mesin pencari biasanya saya juga berdiskusi dengan suami. Saya menyampaikan dulu uneg-uneg lalu meminta tanggapan. Bla…bla…bla… kami ngobrol tentang gerhana bulan dan mitos yang baru saya dengar. Tiba-tiba saya berceletuk, “Jangan-jangan tanda lahir di tangan Oziel (anak bungsu saya, 10 bulan) gara-gara tidak mandi waktu gerhana, kalau tidak salah waktu hamilnya kan terjadinya gerhana matahari total.”

Suami langsung tertawa, “Ah…itu mitos!”

Kalau menurut teman-teman bagaimana dengan mitos ini? Memang kadang sedikit susah ya dengan mitos-mitos yang beredar di masyarakat ini terlebih mitos terhadap ibu hamil. Jika tidak menuruti takut sang jabang bayi kenapa-kenapa, kalau diikuti kok tidak masuk akal.

Oya, terkait bibir sumbing menurut dr.Boy Abidin, Sp.OG(K) tidak ada kaitannya antara kecacatan bibir sumbing dengan gerhana bulan. Seperti dikutip dari hai bunda, bibir sumbing merupakan bentuk cacat pada tubuh bayi yang tidak fatal, artinya tidak mengganggu atau tidak berkaitan dengan kelangsungan kehidupan janin. Bibir sumbing ini disebabkan oleh faktor keturunan, jadi ada keluarga yang punya riwayat keturunan dengan cacat atau kelainan genetik.

Btw, yang kelewat gak menyaksikan fenomena alam ini, ini penampakan gerhana bulan parsial Selasa, 8 Agustus 2017 sekitar pukul 00.30 WIB-02.15 WIB hasil jepretan suami, @chidarma.

Mitos lain gerhana bulan yang pernah saya alami

Suara kentongan bertalu-talu. Disambung dengan bunyi kentongan yang lain. Bulannya dimakan buto (raksasa jahat). Pukul-pukul terus kentongannya hinga buto memuntahkan bulan. Kami anak-anak bau kencur terus mendongak ke atas menanti bulan kembali bersinar. Lalu, ketika telah bersinar seperti biasa kami saling berceletuk, itu sudah dimuntahin, iya gak jadi dimakan, iya benar, dan lainnya. Itu ingatan kecil saya saat mendapati gerhana bulan ya sekitar awal tahun 1990-an bersama teman-teman kecil di Klaten.

Ketika telah memasuki era milenium, bergantilah bunyi kentongan menjadi ajakan sholat gerhana berjamaah lewat towa-towa masjid. Di Bandung, tidak hanya mengajak sholat berjamaah tapi lewat pengeras masjid juga bergema takbir layaknya menyambut hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Dini hari tadi Namiya (anak sulung saya) ikut-ikutan menyaksikan gerhana bulan, saya mengatakan kepadanya kalau bulan sedang dimakan buto seperti pemahaman saya saat kecil sambil menggendongnya dan menunjukkan bulan yang mulai tertutup bayangan hitam.

Lalu, apa katanya? “Bulannya dimakan monster, Ibu.” Hadeuuhh

Karena segera sadar tidak ingin memberi pemahaman yang salah, saya mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana yang bisa ditangkapnya, “Itu bulannya sedang tertutup bumi, makanya sinar matahari gak bisa sampai ke bulan.”

Dia yang baru mau tiga tahun pun menirukan, “Bulannya ketutup bumi ya, Ibu.”

“Iya”

Dan, malah ganti bertanya, “Mana bumi? Ibu, bumi mana?”

Ibunya mumet lagi mencari bahasa untuk menjelaskan 😀

Memahami Gerhana dengan Al-Quran

Jika saja bulan dan matahari bersujud atas keagungan Alloh SWT, mengapa sebagai manusia kita begitu angkuh? Kita eh saya pribadi kerap lalai melaksanakan sholat lima waktu. Setidaknya begitulah yang saya tangkap pada kultum usai sholat berjamaah gerhana tadi di Masjid Al Furqon, tempat saya tinggal. Peristiwa gerhana sudah seharusnya diambil pelajaran bahwa bulan dan matahari senantiasa tunduk dan sujud kepada Sang Pencipta dengan beredar pada garis atau poros yang sudah ditentukan.

Di masa Nabi Muhammad SAW dalam novel Humaira yang saya baca diceritakan terjadi gerhana bulan bertepatan dengan wafatnya salah satu putra Beliau. Namun, sesuai bimbingan Alloh SWT, Nabi bersabda bahwa peristiwa gerhana tidak berhubungan dengan kehidupan dan kematian manusia. Sepertinya ini sudah menjawab mitos ya. *mohon koreksi kalau saya salah.

Ada sepuluh ayat lebih yang menjelaskan tentang matahari dan bulan di Al-Qur’an di antaranya:

وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ دَآئِبَيْنِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ٣٣

Dan Dia (Allah) telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS. Ibrahim 14:33)

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa menangkap ayat-ayat Alloh SWT lewat penglihatan, pendengaran, maupun hati. Dan, termasuk orang yang bisa mengambil hikmahnya. Amiin …

Balik lagi, jadi ibu hamil harus mandi saat gerhana bulan, mitos atau fakta? 😀

*diupdate 26 Mei 2021 – gerhana bulan total, super blood moon

12 pemikiran pada “Ibu Hamil Harus Mandi Saat Gerhana Bulan, Mitos atau Fakta?

  1. Jujur, aku nggak pernah mandi karena nggak percaya gituan. Nah, dua kali hamil sempat gerhana bulan semua. Dan keduanya aku malah tidur nyenyak krn nggak kuat melekan. Heheheh … TFS, ya, Mbak. 🙂

  2. Aku tahu ada gerhana bulan, tapi aku terlalu malas untuk keluar rumah buat moto. Eh padahal sempat lihat bentar saat bukain pintu gerbang buat suami. Makasih fotonya ya, Mbak. Cakep banget.
    Ngomongin seputar mitos gerhana bulan, aku kok jadi keinget salah satu film Suzana ya. Eh itu ceritanya gerhana bulan apa matahari ya, aku lupa. Intinya ya gitu deh, pas gerhana, bayinya harus masukin wajan dan ditutup biar ga terkena gerhana.

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.