Belajar Kehilangan dari Critical Eleven

20170815_063251-1-1

Mungkin kalau dulu kamu ga terlalu sibuk, Aidan masih…” (hal.77)

Sebuah kalimat dari Aldebaran Risjad (Ale) yang terus terngiang oleh Tanya Letitia Baskoro (Anya). Kata-kata yang menjadi sumber tragedi dalam pernikahan mereka.

Aidan Athaillah Risjad, nama calon bayi mereka digariskan untuk menjemput ibundanya kelak di surga. Anya melahirkan bayinya tanpa nyawa setelah hampir sembilan bulan mengandung. Ale yang begitu menantikan jagoan kecilnya menerima tubuh mungil itu dari dokter untuk dikembalikan kepada Pencipta-Nya.

Anya terus berduka sejak kehilangan bayinya. Kamar Aidan yang sudah disiapkan sebelum kelahirannya dibiarkan. Bahkan, ia selalu membawa pakaian atau sekedar kaus kaki Aidan untuk menemani perjalanannya. Setiap malam ia memeluk pakaian Aidan. Ia sudah kehilangan kepercayaan pada laki-laki yang dipilihnya untuk menjadi pendamping hidupnya yang dikenalnya dalam “11 menit” perjalanan di pesawat. Karena sebuah kalimat.

Jika kemarin kita belajar makna perjalanan melalui novel Critical Eleven oleh Ika Natassa ini, di tulisan ini kita belajar menghadapi kehilangan.

Saya merasakan emosi yang diaduk-aduk ketika membaca buku ini. Memang ini hanyalah fiksi tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar. Ibu saya kehilangan dua bayinya. Kakak dan adik saya. Traumanya sampai sekarang. Jika ada bayi tetangga yang meninggal atau saudara, ibu tidak akan pernah sanggup bertakziah. Meski sudah lewat 25 tahun, duka seorang ibu nampaknya tidak akan pernah terhapus waktu. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tinggal bagaimana kita menghadapinya. Temans yang sudah pernah kehilangan apapun itu, dia pasti orang yang kuat, benar kan?

Kita harus mengikhlaskan orang yang sudah meninggal dunia. Karena sejatinya semua bukan milik kita tapi milik Alloh SWT, tempat berpulang. Bukan saling menyalahkan. Seperti Ale. Mungkin itu hanya kalimat pengandaian tapi itu seperti tombak yang menghunjam ke jantung Anya berkali-kali. Dari kisah ini, kita belajar memilih kalimat jika ada saudara, teman, atau tetangga yang kehilangan. Jika kita tidak mempunyai kalimat lebih baik diam. Karena Alloh sudah menuntun kita mengucapkan, innalillahi wa inna ilaihi rojiun, ketika ditimpa musibah.

Back to cerita, apakah Anya dan Ale akan berbaikan setelah enam bulan berbeda kamar. Ale yang keberadaannya tak dianggap lagi oleh Anya. Dan, apakah Anya dan Ale sanggup mengikhlaskan Aidan?

Tunggu ya, saya selesaikan bacanya….

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

 

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.