Judul Critical Eleven
A novel by Ika Natassa
Paperback, 344 pages
Published August 10th 2015 by PT Gramedia Pustaka Utama
REVIEW
Mungkin terlambat banget ya me-review novel yang edisi pertama sudah cetak dari tahun 2015. Sedangkan saya baru membeli edisi keduapuluh dengan cover film tentu saja karena novel karya ke tujuh Ika Natassa ini sudah difilmkan. Ini buku kedua Ika Natassa yang saya baca. Twivortiare adalah buku yang saya baca di tahun 2012 dipinjami teman waktu di Jakarta. Menggunakan twitter dalam ceritanya membuat saya kurang bisa mengikuti alur ceritanya ya karena dulu saya belum sefamiliar ini dengan twitter.
Novel Critical Eleven ini sendiri maupun setelah film-nya sudah rilis, saya belum tahu ceritanya sampai menamatkannya sendiri. Karena saya pada umumnya lebih suka novel perjalanan, rekam sejarah, dan motivasi seperti karya Mbak Hanum Salsabila Rais, Pramoedya Ananta Toer. Cerita novel ini bisa menjadi koleksi perpustakaan pribadi karena buku yang ingin saya beli di toko buku online sudah tidak ready (saya telat Pre Order) daripada ribet refund saya mengganti buku yang ready dalam 24 jam. “Ini novel sudah difilmkan dan pemerannya Reza Rahardian (kepincut di akting Habibie Ainun) pasti bagus.” pikir saya. Tapi sebenarnya yang paling menarik tangan gatal membelinya adalah hadiah special post card-nya.
Review ini sudah ada dua bagian yang saya tulis sebelumnya yaitu mengenai perjalanan dan belajar dari kehilangan. Di tulisan ini saya akan melihat secara keseluruhan.
Ringkasan kisahnya Tanya Letitia Baskoro (Anya) dan Aldebaran Risjad (Ale) bertemu secara meet-cute dalam penerbangan Jakarta-Sidney. Meminjam istilah penerbangan critical eleven, 11 menit waktu krusial dalam penerbangan yaitu tiga menit take off dan delapan menit landing, keduanya saling tertarik. Hubungan berlanjut hingga setahun dari pertemuan mereka memutuskan menikah.
Tidak ada hambatan berarti, pernikahan sempurna layaknya impian banyak pasangan di dunia meskipun mereka saling LDR. Karena Ale tetap harus bekerja sebagai tukang minyak di laut lepas Teluk Meksiko. Dia pulang kurang lebih sebulan sekali setelah menempuh 26 jam penerbangan.
Kehidupan pernikahan yang bahagia itu kandas setelah bayi yang dalam kandungan penuh semangat itu meninggal sebelum dilahirkan. Tak dijelaskan secara pasti tapi pembaca sudah bisa menebak alasannya adalah kesibukan Anya dan jam terbang yang tinggi, menurut saya. Suatu ketika Ale keceplosan mengatakan bahwa jika Anya tak terlalu sibuk Aidan – nama bayi mereka- pasti masih hidup. Kalimat inilah yang memicu prahara rumah tangga romantis mereka.
Selama enam bulan mereka satu atap tapi pisah kamar tak banyak bicara. Perubahan drastis ditunjukkan oleh Anya sedangkan Ale terus menerus berusaha membuat kondisi lebih baik. Mungkin sikap Anya ini lebay tapi ya itulah respon seorang ibu yang berduka. Setiap wanita adalah makhluk lemah yang ingin dilindungi dipenuhi kasih sayang oleh pendampingnya mungkin begitu maksud penulis. Tapi Ale tidak peka. Ia hanyalah lelaki dengan logika bukan sisi emosional.
Saya mengira-ira bagaimana keduanya rujuk. Aidan-lah yang membuat papa-mamanya bersatu. Keduanya bertemu di pemakaman dan hilanglah semua benci menjadi kerinduan akan cinta. Dan, Anya hamil kembali. Bagaimanapun seorang anak ialah pengikat antara seorang ayah dan ibu, benar kan?
Kisah kehilangan bayi merupakan cerita yang dekat dengan kehidupan kita tapi diracik dengan metropop, gaya hidup kaum urban yang glamour. Diceritakan bergantian dari sudut pandang Anya dan Ale. Meski novel berbahasa Indonesia banyak juga percakapan dalam bahasa Inggris. Saya yang sudah lama tak belajar bahasa Inggris pun harus membuka kamus agar tak kehilangan maknanya. Ciri khas novel Ika, selalu ada selingan percakapan Bahasa Inggrisnya. Maklumlah, Ika menyelesaikan novel pertamanya di usia 19 tahun dengan Bahasa Inggris.
Novel ini menunjukkan riset dan pengetahuan luas penulisnya. Tebakan saya terbukti di halaman belakang novel dimana penulis mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang telah membantunya dari Dewi Lestari, dokter kandungan, insinyur perminyakan, psikologi, tukang kopi, dan lain-lain.
Overall, saya suka buku ini, meski tidak dekat dengan kehidupan saya. Tapi memberikan gambaran baru tentang kehidupan kaum urban Jakarta sana yang mungkin tak terjamah oleh sebagian yang lain di Indonesia. Mereka rela menghabiskan uang demi liburan ke luar negeri, sepatu hak tinggi yang katanya membuat seksi, jam tangan super mahal simbol prestisius yang bahkan sebagian lain masyarakat Indonesia tak peduli dengan hal itu.
Pelajaran yang saya dapat adalah jangan pernah menganggap tidak penting setiap perjalananmu, selalu ada hikmah dibaliknya. Saat kita kehilangan bukan berarti kita kehilangan seluruh dunia tapi Alloh hendak menunjukkan siapa yang paling menyayangimu dan membuatmu naik kelas jika lulus dari ujian-Nya. Setiap kehilangan akan digantikan kado terindah. Sebagai manusia kita tidak boleh serakah bagaimanapun sempurnanya kehidupan tak ada gading yang tak retak. Karena itu setiap hari kita belajar, belajar menjadi manusia terbaik. Tidak perlu melulu belajar itu membaca buku tapi juga mendengarkan kisah orang lain, membaca apa yang kita lihat, belajar dari pengalaman orang lain, dan sebagainya.
Eh hampir kelewat padahal menurut saya ini menarik. Di bagian akhir cerita Ale flashback pertemuan pertamanya dengan Anya. Sewaktu keduanya telah saling mengucapkan salam perpisahan dan Ale meninggalkan Anya, ada dorongan yang membuat Ale menoleh. Saat itu Anya tengah menolong seorang kakek menurunkan bagasinya. Ale tersenyum tanpa diketahui Anya. Dalam hati Ale berkata benar-benar menginginkan Anya sebagai istrinya. Silakan dimaknai sendiri ya hehe…
Okay, sekian pandangan novel ini versi saya, kalau menurut Temans yang sudah membaca atau menonton filmnya bagaimana?
#ODOP # BloggerMuslimahIndonesia
oh bgitu… sy blm lihat filmnya. cuma tahu aktornya sj… hehe