Parahyangan Scenery on The Lodaya Train

Cara lain menikmati pemandangan bumi parahyangan adalah dengan naik kereta. Melihat dari balik jendela kereta api keindahan yang tersembunyi. Sebab, umumnya jalur kereta api “tersembunyi”. Tidak seperti jalan raya yang sudah maju.

Kali ini, saya akan membagi apa yang saya lihat dari kereta api Lodaya dari Bandung dengan tujuan akhir Solo Balapan. Perjalanan saya sendiri akan berakhir di Stasiun Klaten, sebelum Solo untuk pulang ke kampung halaman.

Kereta api berangkat dari Bandung pukul 07.20 WIB tanpa delay. Sebuah reformasi perkeretaapian yang sangat terasa disamping kenyamanan dan keamanan. Perubahan yang begitu dinikmati oleh para pengguna kereta utamanya sejak Dirut KA dijabat oleh Pak Ignasius Jonan yang sekarang ditunjuk menjadi Menteri ESDM setelah sebelumnya menjabat Menteri Perhubungan di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo.

Ular besi gesit berjalan di atas jalurnya meninggalkan Kota Bandung. Pemandangan awal yang saya lihat adalah bangunan semi hingga permanen membelakangi jalur kereta. Sepertinya bangunan ini liar atau berdiri di atas lahan PT KAI. Membayangkan ada sebuah lahan semacam bahu jalan di jalan raya, baru jalan dan rumah menghadap ke arah jalur kereta. Pasti lebih cantik dilihat dari atas kereta. Di beberapa titik memang sudah ada cuma sebentar saja.

Jpeg

Stadiin GBLA dari kereta Lodaya (dok. pri)

Meninggalkan bangunan padat di Kota Bandung menyambut hamparan sawah padi menghijau. Nun kejauhan Stadion Gelora Bandung Lautan Api kebanggaan warga Bandung menyembul seperti kapsul raksasa atau siput raksasa ya… Mulai dari sini panorama akan berganti lansekap alami yang memanjakan mata.

“Mama…mama ada sawah!” tunjuk anak kecil girang kepada ibunya yang duduk di belakang saya. Lahan pertanian yang memang langka ditemui warga kota.

Jpeg

Jalan lingkar Nagreg dari atas Kereta Api Lodaya (dok. pri)

Rumah -rumah tradisional orang Sunda mulai menggantikan hunian modern. Bangunan yang bertahan ini akan mulai banyak dijumpai begitu masuk daerah Cicalengka. Rumah mungil semi panggung dengan dinding dari bambu. Di kiri kanannya kadang terdapat balong atau kolam ikan yang menambah kesan sejuk rumah. Sayangnya banyak rumah terkesan tak terawat dengan cat yang mulai pudar atau percikan tanah merah ke dinding yang tidak dibersihkan. Padahal ini unik.

Jpeg

Itu dulu ya ceritanya. Ini juga ditulis di atas kereta dengan keterbatasan sinyal.

Nantikan cerita selanjutnya. Don’t go anywhere 😀

 

3 pemikiran pada “Parahyangan Scenery on The Lodaya Train

  1. Do you re-write Parahyangan Scenery on The Lodaya Train?
    Now i need further advice about the idea even so i don’t have
    an understanding of anybody that is absolutely widespread it
    truly is like a fish in a water. Help to gratify!

  2. Excellent blogging site and good blog post! It is obvious that the article writer is knowledgeable and
    has a great practical knowledge in authoring. Is it possible you present a bit of you authoring talent with me?
    It would support a lot in that infinite paper composing for college.
    To stay away from this trouble you can buy a article from one of the composing firms which
    can be found in the internet. But many of them are undependable.
    That’s why I always read these folks Whitney.
    Their evaluations of composing services helped me a lot!

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.