#KAI – Tujuh Pemandangan Unik dari Kereta Api Lodaya

Seorang naturalis berkebangsaan Belanda Afred Rusel Wallace (1869)  menyatakan bahwa Jawa “bisa dibilang sebagai sebuah pulau tropis terindah di dunia”

family-trip.jpg

Salahsatu cara untuk menikmati keindahan sebagian Pulau Jawa adalah menggunakan Kereta Api Lodaya Pagi. Sejak 22 Oktober 2018, KA Lodaya yang melayani rute Bandung – Solo Balapan dengan waktu tempuh sekitar sembilan jam menjadi kereta eksekutif–ekonomi premium. KA ini menjadi andalan para traveler karena melintasi dua kota yang sejak dulu telah menjadi destinasi favorit, yaitu Bandung dan Yogyakarta.

Turis asal Inggris Charles Walter Kinloch (1852) menyebut Bandung sebagai Montpellier Jawa (kota pegunungan di Eropa dan Kanada) karena karakteristiknya yang berada di ketinggian dengan pemandangan Gunung Tangkubanparahu dan Burangrang yang indah. Sedangkan, Yogyakarta menurut Harold Forster (Inggris) yang ditugaskan menjadi dosen di UGM (1952) merupakan kota para Sultan yang penuh kegigihan, tempat perlindungan budaya Jawa Kuno, tempat lahirnya pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Terdapat lagi Kota Solo yang terus mencuat pamor dari kalender event wisatanya. Solo sendiri bagi pengelana asal Amerika Eliza Ruhamah Scidmore (1897) mengatakan jika Kota Solo menunjukkan budaya Jawa “Jawa-nya orang Jawa”.

Selain bisa mengeksplorasi setiap jengkal kota-kota tersebut, jika menggunakan KA Lodaya banyak suguhan yang bakal ditawarkan dan memanjakan selama perjalanan. Lodaya yang berarti macan Prabu Siliwangi yang bertugas menjaga gunung bakal menembus pegunungan Bumi Parahyangan kemudian masuk ke Tanah Jawa dengan dataran persawahannya yang menghampar. Sehingga perjalanan dengan KA Lodaya adalah traveling itu sendiri.

Setidaknya terdapat tujuh pemandangan unik yang dapat dilihat dari atas KA Lodaya, di antaranya:

  1. Dimanjakan dengan bangunan kuno dan bersejarah

Jpeg

Bergerak perlahan dari Stasiun Bandung, di sisi kiri penumpang akan memandang Sungai Cikapundung melalui viaduct (jalan kereta di atas jalan raya), kawasan Landmark, Braga yang berderet bangunan peninggalan Belanda. Di setiap stasiun banyak dijumpai rumah/bangunan kuno karena kereta api, stasiun, berikut penamaan stasiun adalah bagian dari sejarah itu sendiri. Ketika sampai di daerah Purworejo, Jawa Tengah walaupun agak susah dilihat akan tersuguh saluran irigasi peninggalan Belanda.

  1. Pesona alam Bumi Parahyangan

Jpeg

Dengan KA Lodaya pagi, penumpang akan diajak membelah Garut yang berjuluk Swiss Van Djava. Melalui KA, para penumpang dapat menjelajah setiap jengkal Garut yang dikenal akan keindahan alam dan banyaknya gunung. Kita akan melihat lembah, tebing, dan jurang dengan puncak keindahan saat di Stasiun Lebak Jero +818 mdpl. Dari KA ini pula penumpang bisa melihat Nagreg yang selalu menjadi titik utama saat mudik dari sisi berbeda.

  1. Menyaksikan Lintas Budaya

Jpeg

KA Lodaya melintasi tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta , dan Jawa Tengah dengan dua suku dan budaya Sunda dan Jawa. Di Daerah Cicalengka, Kabupaten Bandung pemandangan rumah khas Sunda yang sebagian besar masih mempertahankan bentuk tradisional dan berbahan bambu berderet. Di daerah Tasikmalaya rumah Sunda ini biasanya berdekatan dengan balong atau kolam untuk memelihara ikan. Selain itu, lewat KA Lodaya, penumpang juga dapat menjumpai rumah joglo khas Jateng dan DIY karena bentuk atapnya. Kemiripan budaya ini juga menjadi salahsatu aspek untuk membagi suatu wilayah.

  1. Belajar geografi

Jpeg

Siapa yang suka saat pelajaran geografi saat di sekolah dulu? Geografi merupakan ilmu bumi. Di antaranya belajar gunung dan sungai. Usai keluar dari Bandung, KA berada di pegunungan hingga terus turun dan pemandangan berganti pegunungan menjadi latar nun kejauhan. Perbukitan Serayu Selatan, Pegunungan Menoreh di eks karesidenan Kedu kemudian bersambung dengan Pegunungan Sewu yang dimulai dari daerah Jogja. Selain pegunungan, di daerah Banyumas KA juga akan melintasi Sungai Serayu yang membentang 181 kilometer yang bermuara di Samudera Hindia. Ada lagi Sungai Kulon Progo.

  1. Hamparan padi

Jpeg

Selain negara maritim, Indonesia juga dikenal sebagai negara agraris karena mayoritas mata pencaharian penduduknya di sektor pertanian. Begitu memasuki Jawa Tengah yang merupakan dataran, hamparan sawah sepanjang mata memandang bertumbuk pada hutan. Jika musim menanam tersuguh para petani yang tandur (ditata karo mundur) karena cara menanam padi adalah mundur ke belakang. Saat musim menyiangi gulma, mata penumpang akan menumbuk para petani yang tengah matun (mencabuti rumput dengan tangan) atau nyorok (membersihkan rumput dengan bantuan alat). Begitu juga saat panen, dengan alat perontok padi yang dibawa ke sawah.

  1. Mengenal Flora

jati

Ada yang pernah berpikir tusuk sate terbuat dari tanaman apa? Darimana lidi berasal?Melalui Lodaya, penumpang bakal menemukan berbagai jenis tanaman dan pepohonan yang mulai langka terutama yang lahir dan dibesarkan di kota besar. Kereta juga akan memasuki hutan jati di daerah Purworejo – Kulon Progo. Hutan jati dengan ciri khasnya yang akan meranggas di musim kemarau. Mengenal tumbuhan juga bisa menjadi wisata edukasi bagi anak. Tanaman tersebut di antaranya kelapa, pisang, jati, kapuk, lamtoro.

  1. Pabrik Genteng Sokka

Jpeg

Di daerah Sokka terdapat banyak pabrik genteng/atap rumah yang terbuat dari tanah. Genteng Sokka, Kebumen ini sangat terkenal dan berkualitas. Banyaknya pabrik genteng di daerah ini diawali dengan riset struktur kelayakan tanah saat masa Belanda. Di sini penumpang dapat menyaksikan tempat produksi dan pembakaran genteng.

Selain menyaksikan tujuh pemandangan unik, melakukan perjalanan dengan KA akan mendapat bonus dengan berinteraksi sosial. Para penumpang bisa sejenak mengalihkan perhatian ke penumpang lain dan bercakap. Perbincangan yang tulus bisa menambah jejaring yang mungkin akan saling membantu di lain kesempatan. Bisa saja kan dapat penginapan gratis, guide gratis saat traveling.

Tertarik untuk menjajal perjalanan ala Lodaya?

Referensi:
Buku Jawa Tempo Doeloe karangan James R Rush diterbitkan Komunitas Bambu, 2013

Foto:
Koleksi pribadi diambil dalam perjalanan menggunakan kereta api Lodaya Pagi

2 pemikiran pada “#KAI – Tujuh Pemandangan Unik dari Kereta Api Lodaya

  1. Melakukan perjalanan dgn menggunakan kereta api Lodaya semakin menyakinkan kita tentang betapa indahnya alam negri kita ini, dgn pemandangannya yg indah, kehidupan warganya yg beragam dan unik, serta peninggalan sejarahnya yg mempesona.

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.