Hutan Babakan Siliwangi – Menyusuri Forest Walk Terpanjang Se-Asia Tenggara

bs-1

Jelang tahun baru 2019, biasa sih ingin ikut hebring-hebring menutup tahun. Waktu itu rencana dari rumah inginnya ke Dago Atas, tapi pas di Jl. Dago dekat-dekat perempatan menuju Dipati Ukur kok tiba-tiba teringat Hutan Kota Babakan Siliwangi (Baksil). Padahal bisa dibilang cukup sering juga ke sini. Dari masih lajang, pedekate, punya anak satu, hingga sekarang memiliki duo krucil. Tapi baru ini ditulis di blog 😀

bs-12

Memang sih dari pertama ke sini dan setiap kunjungan, Baksil selalu berbenah. Dari lagi rame-rame akan dibangun wisata terpadu (apartemen, mall, restoran), dikelola swasta, diambil alih pemkot Bandung, belum ada forest walk, lagi dibangun forest walk tahap pertama, dan akhirnya kemarin kami pun menjajal forest walk yang diklaim terpanjang se-Asia Tenggara dengan total 2,2 kilometer ini.

20151224_143155

Hutan Baksil ini awalnya bernama Lebak Gede yang terbentuk dari delta Sungai Cikapundung. Kalau mau berjalan sedikit tak jauh dari Baksil dilintasi sungai yang membelah kota kembang ini. Pengelolaannya sudah ada sejak zaman Belanda dan menjadi area rekreasi terpadu dengan Kebun Binatang Taman Sari dan Cihampelas. Luas hutan ini 3,8 hektar. Jadi, Kota Bandung tidak hanya memiliki fashion, kuliner, taman tematik, tapi juga hutan kota kebanggaan yang telah ditetapkan menjadi hutan kota dunia oleh UNESCO, 27 September 2011.

bs-10

Ohya, menyusuri forest walk ini rasanya menyelami hutan dari ketinggian. Kadang rasanya risih saat masuk hutan, menginjak seresah, takut bertemu hewan seperti ular, kelabang, pacet, tanahnya yang berlumpur menempel dan susah dibersihkan pada sepatu, belum lagi bunyi ngang nging nyamuk, dan tangan harus menyingkap sarang laba-laba yang menumbuk ke muka. Nah, lewat forest walk ini bisa jalan-jalan di hutan dengan nyaman apalagi jika membawa anak kecil.

bs-5

Biasanya juga untuk pohon-pohon yang tinggi kepala harus mendongak sampai leher sakit, dengan bantuan forest walk malah bisa bersentuhan langsung. Meski beberapa pohon memang tetap harus mendongak. Di sini, bisa banget belajar mengenal nama-nama pohon, dan mencintai lingkungan khususnya hutan sejak dini. Makanya, aku lebih setuju kawasan ini tetap pada fungsinya sebagai paru-paru kota bukan pembangunan wisata terpadu yang harus membabat hutan untuk alasan komersil. Ga lucu kan kalau nanti kita punya cucu tapi sudah tidak ada hutan?

20151224_142525

Makanya, aku bersyukur duo krucil Namiya dan Oziel masih bisa bersentuhan langsung dengan hutan meski tinggal di kota besar, Bandung. Oksigen yang murni sangat baik untuk pertumbuhan dan kekebalan anak kota yang rentan polusi. Nah, di Baksil mengurangi polutan dengan menghirup udara bersih.

20151224_145013

Selain suara angin meniup dedaunan, waktu itu pas tongeret berlomba-lomba mengeluarkan suara. So, simfoni alam banget dech malah jadi keingat judul novel Haruki Murakami “Dengarlah Nyanyian Angin. Di dalam hutan baksil ini juga terdapat menara pandang, beberapa mata air alami, tempat adu domba Garut, pondok seni, dan mushola. Baksil pernah juga digunakan untuk menyelenggarakan Helar Fest. Aku pun membuka salahsatu stand merajut waktu itu.

bs-4

Lokasinya berbatasan langsung dengan Sabuga atau gelanggang olahraga dan Kebun Binatang Taman Sari. Selain itu tidak jauh dari Kampus ITB, Cihampelas, Teras Cikapundung, Jalan Dago (Ir. Djuanda) makanya strategis banget dan menjadi incaran banyak developer.

20151224_142556

Meski forest walk bukan berarti jalannya datar terus. Kadang menanjak dan kadang menurun disesuaikan dengan kontur di ketinggian 3-4 meter dengan lebar 1,5 meter. Ada titik turunan yang malah jadi arena perosotan dadakan bagi anak-anak. Dasar anak-anak, rasanya semua tempat adalah arena bermain. Masih tebal muka 😀

Makanya, saran dari aku memakai alas kaki yang nyaman, usahakan jangan memakai high heels atau sepatu yang licin. Bawa juga air mineral, karena forest walk yang panjang dan memutar bisa bikin haus di tengah jalan dan jauh kalau harus balik lagi. Lagian ga seru kan balik lagi.

bs-11

Di awal forest walk ini banyak tempat duduk dari bangku kayu, insya alloh ga akan kehabisan tempat duduk. Uniknya bangku dibuat dengan satu sisi model senderan. Tapi namanya anak-anak, senderan bangku malah dijadikan wahana perosotan lagi 😀 Ohya, ada juga menara pandang.

bs-8

Ehhh hampir lupa, dari atas forest walk selain banyak spot instagramble terdapat juga titik yang bisa digunakan untuk mengabadikan matahari terbenam. Jadi kepikiran ngapain jauh-jauh mengejar sunset kalau ternyata di sini juga bisa. Tapi ya emang beda sensasi ya?

Terakhir tapi bukan yang terakhir, untuk ke sini, tidak dikenai HTM hanya retribusi parkir saja. Gimana, tertarik kan menyusuri forest walk terpanjang se-Asia Tenggara?

Semoga bisa menjadi inspirasi jalan-jalan buat Kalian ya 🙂

*foto-foto koleksi pribadi diambil tahun 2017 dan 2018

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.