Perpaduan Langgam Art Deco dan Art Nouveau Stasiun Kejaksan Cirebon

Cirebon1

Stasiun Cirebon (koleksi pribadi)

Untuk pertama kalinya di penghujung tahun 2018 saya menginjakkan kaki di Stasiun Cirebon. Kalau sekedar melintas sudah beberapa kali menggunakan kereta api Senja Utama tujuan atau dari Jakarta. Itupun selalu sudah dalam kondisi gelap.

Saat bekerja di Kedawung Cirebon, beberapa kali melewati Stasiun Kejaksaan yang lokasinya tak jauh dari Alun-Alun Kota Cirebon. Tapi bersinggungan langsung dengan stasiun ini belum pernah kecuali skupi. Skupi kawan perjalanan saya selama merantau, pernah diantar ekspedisi Haruna Ekspress ke Jakarta dari stasiun ini oleh kakak.

Saya pantas berterima kasih dengan Rail Blogger Contest yang diselenggarakan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dengan IDN Times yang telah memilih artikel Tujuh Pemandangan Unik dari KA Lodaya menjadi salahsatu tulisan yang diapresiasi. Sehingga saya diundang bersama 29 peserta lain ke Stasiun Cirebon. Karenanya, saya pun dalam beberapa jam bercengkerama dengan stasiun bergaya perpaduan antara art deco dan art nouveau yang terlihat dari bentuk bangunan dan ornamen.

46354144_313188709288564_8085831756456001445_n

Sumber: instagram @idntimes

Art deco merupakan sebuah langgam yang dipakai hampir di semua bangunan stasiun yang ada di Indonesia. Gaya arsitektur ini juga banyak ditemukan pada bangunan peninggalan Belanda. Gaya ini berkembang sekitar tahun 1920-1930 dengan ciri memperhatikan detail ornamentasi bangunan. Di Indonesia gaya ini banyak digunakan arsitek Belanda sekitar tahun 1930-1940.

Art nouveau merupakan gaya desain internasional pertama yang berkembang tahun 1880-an hingga era awal 1920-an. Arsitektur yang mulai berkembang pertama kali di Belgia ini dibawa oleh arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen sekitar tahun 1905. PAJ Moojen kemudian mengarsiteki Gedung Stasiun Cirebon yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1911. Sentuhan art nouveau sejauh pemahaman saya berbentuk sulur-sulur atau flora seperti yang dijumpai pada ukiran mebel Jepara.

Fasade atau tampak depan dari bangunan cagar budaya ini terdiri dari bangunan utama dan diapit dua menara dengan bagian atap berbentuk seperti piramida.

Fasade bangunan yang menganut art deco sangat penting. Menurut saya karena bagian depan ini yang pertama kali dilihat orang sehingga harus bisa menunjukkan gaya elegan, canggih dan modern. Hal tersebut dilakukan sebagai makna munculnya art deco yang merujuk pada kemakmuran hidup.

Saya jadi teringat pada Gedung Sate yang bagian depannya juga tampak begitu mewah dan elegan. Membuat siapa yang melintasinya akan kagum. Seperti menyambut semangat hidup baru pasca perang dunia II.

Mengutip Radar Cirebon, gaya ukiran Art Deco tampak terlihat di bagian ujung puncak dinding atap bagian depan yang dihiasi dengan ornamen mahkota. Pada saat diresmikan, pintu masuknya berupa empat lubang pintu melengkung (busur panah). Untuk memberikan karakter kuat dari ciri hiasan yang sedang tren pada masa itu diberi semacam tonjolan garis yang membingkai lubang pintu dan dinding pembatas antar ruang.

Untuk bangunan di dalam Stasiun Cirebon beberapa sudah mendapat sentuhan baru karena pada tahun 2011 dilakukan renovasi dan pengecatan ulang. Dengan adanya renovasi, stasiun eksekutif ini memiliki ruang tunggu yang mewah dilengkapi wifi dan cafe yang bisa dijadikan lokasi event seperti saat ini. Fasilitas toiletnya sudah modern. Mushola dan tempat wudhunya pun cukup luas dan bersih.

Cirebon2

Matahari terbenam di Stasiun Cirebon (Koleksi pribadi)

Saya sendiri terkesima dengan senja di stasiun berketinggian 4 mdpl ini. Dari balik tangki air, sang mentari seolah menyapa para penumpang di peron. Di sebelah kiri dari tempat saya duduk, puncak Gunung Ciremai di kejauhan turut melambaikan tangan.

Saya sangat bersyukur dengan apa yang saya lihat termasuk sepanjang perjalanan dengan kereta api hari ini. Alloh telah memberikan banyak pelajaran, pengalaman, dan hikmah kepada saya dalam perjalanan ini. 

Cirebon3

Puncak Gunung Ciremai dari Stasiun Cirebon (Koleksi pribadi)

Sepotong senja di awal Desember tersebut juga menandakan saya harus mengucapkan sayonara pada Stasiun Cirebon. Mungkin jika saya kembali nanti, saya bisa lebih dalam lagi mengulik bangunan ini.

Catatan: Karena saya baru mulai tertarik lebih mendalami heritage, pengetahuan saya masih minim dalam membaca makna dibalik arsitektur bangunan. Jadi belum banyak informasi yang bisa saya berikan. Kalau ada yang mau menambahkan dipersilakan dan saya akan senang sekali.

Semoga tulisannya bermanfaat^^

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.