Perumpamaan Tujuh Bulir Padi

20190414_132734

Bulir padi (foto: koleksi pribadi)

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya adalah serupa dengan benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.”

Belum lama ini, saya membaca kisah inspirasi tentang Pemilik Masjid Kubah Emas, Sosok Pengusaha yang Suka Bersedekah. Melalui cerita tersebut saya teringat akan perumpamaan tujuh bulir padi.

Tamsil yang menggambarkan balasan kepada seseorang yang berbagi kebaikan/sedekah sebesar 700 kali lipat. Sebuah angka yang didapat dari hasil satu benih menjadi tujuh bulir, dalam satu bulir berisi 100 biji.

Bersedekah artinya memberikan sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya sesuai dengan kemampuan di luar kewajiban zakat. Dengan kata lain dari segi keuangan sedekah merupakan bagian pengeluaran. Karena menyisihkan sebagian pendapatan untuk diberikan kepada orang lain atau lembaga untuk disalurkan kepada yang membutuhkan.

Sebagai orang Jawa, Ibu memberikan teladan lewat sangkan paran. Sangkan paran bisa diartikan rezeki atau kebaikan yang tidak disangka datangnya. Ibu senantiasa membantu orang lain yang membutuhkan. Dulu saya sering kesal karena kebaikannya kepada orang lain itu. Sebab, banyak yang dibantu tapi tidak tahu diri. Istilahnya, dikei ati ngrogoh rempelo, dikasih hati minta jantung.

Namun, jawaban ibu hanya sangkan paran. Hingga dua kata itu telah menjadi semacam doktrin di kepala saya. Walaupun Ibu tidak pernah secara langsung menyuruh anaknya agar sepertinya. Senada dengan Ibu, Bapak juga pernah berkata kepada saya bahwa jangan melihat yang orang lain lakukan kepada kita tapi yang penting kita niat berbuat baik.

Keajaiban sangkan paran yang dilakukan keduanya dengan ikhlas tanpa imbalan tersebut saya rasakan saat di perantauan. Jauh dari sanak saudara bahkan datang tanpa teman sekalipun di Kalimantan, saya justru mendapat orang tua baru. Saya diangkat menjadi anak oleh seorang karyawan dan dianggapnya menjadi anak sulung. Saat ditugaskan di Ciamis, saya juga beruntung. Induk semang saya adalah pasangan yang tidak dikaruniani anak. Mereka memperlakukan saya tidak kalah dengan perlakuan orang tua saya sendiri. Bahkan hingga kini setelah lebih dari tujuh tahun dan sudah tak sekota, kami tetap bersilaturahim.

Ketika saya bercerita tentang bantuan mereka dan keajaiban lain saat di perantauan, lagi-lagi ibu hanya menjawab itulah sangkan paran. Rezeki, pertolongan itu tak terduga datangnya. Buah sedekah yang ibu dan bapak lakukan, saya tuai. Saya pun ingin seperti ibu.

Lalu bagaimana peran sedekah dalam keuangan?

Konsultan keuangan Prita Gozhie memasukkan sedekah dalam alokasi Zakat, Infaq, dan Sedekah atau yang disingkat ZIS dalam balanced budgeting untuk yang berpenghasilan mapan. Metode yang dipakai yaitu ZAPFIN (Zakat, Assurance, Present Consumption, Future Spending, INvestement).

Alokasi pembagian keuangan ideal untuk bulanan menurut CEO ZAP Finance ini adalah:

  • ZIS sebesar 5%,
  • dana darurat dan premi asuransi 10%,
  • biaya hidup rutin 50%,
  • tabungan untuk kebutuhan dalam setahun 10%,
  • investasi untuk kebutuhan jangka panjang dan menengah 15%, dan
  • biaya untuk senang-senang dan gaya hidup 10%.

20190411_150834_0000

Saya sendiri sejak mengetahui teori ini berusaha menyisihkan ZIS. Walaupun belum bisa memaksimalkan di angka 5% tapi di angka minimal 2,5%. Karena ada harta orang lain yang dititipkan kepada kita.

“Dibalik rezeki kita, ada harta orang lain yang dititipkan kepada kita.”

Sebagai ibu rumah tangga, dengan mengalokasikan ZIS kecuali kewajiban zakat bagi saya sangat membantu untuk dana sosial. Ketika ada undangan hajatan, teman melahirkan, menengok orang sakit, hingga takziah/melayat atau tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah menyodorkan amplop sumbangan.

Sebelum menikah, saya menyepelekan anggaran ini. Karena lebih masuk ke ranah tak terduga dan dana bisa diambil darimana saja. Tapi begitu menikah, dana sosial ternyata bikin ruwet juga kalau tidak dikelola dengan baik. Adanya alokasi ZIS justru sangat membantu mengetahui aliran keuangan.

Lalu apakah dengan mengalokasikan ZIS keuangan akan menjadi buruk?

Saya sendiri mengatakan tidak. Sebab di antara manfaat ZIS adalah untuk membersihkan harta.

Dibandingkan menghamburkan uang untuk menuruti gengsi alangkah lebih baik jika kita menggembirakan orang. Sebagai makhluk sosial sudah menjadi kodrat kita tidak bisa hidup sendiri. Ketika tetangga ditimpa musibah misalnya sakit parah, sudah seharusnya menolong sesuai kesanggupan. Dengan niat diawal bukan karena pujian, karena menjadi bermanfaat. Bukan sebaliknya ketika tetangga sakit, kita malah pamer. Tanpa disadari akan ada sanksi sosial yang menjerat seperti gunjingan bahkan hingga hilangnya harga diri di mata tetangga.

Adanya ZIS membantu mengangkat perekonomian masyarakat bawah. Dahulu sewaktu masuk kuliah saya mengenal istilah subsidi silang. Ada sumbangan masuk yang bisa dipilih sesuai kemampuan. Nominal besar akan membantu bagi yang menyumbang sedikit bahkan nol rupiah. Sehingga semuanya mendapatkan pendidikan dan fasilitas secara adil.

ZIS membuat kaya. Saya tidak setuju harta akan berkurang karena sedekah. Apalagi jika sedekah dianggap akan membuat miskin. Justru dengan bersedekah akan membuat kita tambah bersyukur atas karunia-Nya.

Contohnya seperti yang sudah saya uraikan di atas. Kedua orang tua saya tidak jatuh miskin. Justru malah bisa membeli sawah. Capaian yang mungkin tidak masuk akal bagi petani penggarap lahan seperti bapak. Hasil kerja keras dan keajaiban sedekah.

“Barangsiapa bersyukur akan dilipatgandakan nikmatnya.”

Seperti halnya pemilik Masjid Kubah Emas, Dian Al Mahri. Sosok yang juga dikenal karena rajin sedekah. Dengan habit tersebut mengantarkannya memiliki bangunan masjid yang disebut-sebut termegah se-Asia Tenggara.

Sedekah itu bagi saya seperti petani yang menyemai satu kilogram benih padi menghasilkan berkuintal-kuintal padi. Tidak hanya bisa dimakan sendiri tapi juga untuk orang lain.

Selamat bersedekah^^

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.