Mengembangkan Kemampuan Sosial Anak di Era Digital Melalui Pre-School

 

Oziel dan Namiya

Kemampuan sosial sangat membantu anak dalam mengoptimalkan prestasinya, setuju ya, Moms? Namun, sayangnya tidak setiap anak memiliki kemampuan sosial yang sama. Dalam arti, ada anak yang supel bergaul, ada anak yang susah bergaul, mungkin ada juga yang takut dengan orang yang baru dijumpai.

Saya pernah membaca, untuk mengasah kemampuan bersosialisasi dapat dilakukan sejak bayi berumur lima bulan atau bisa menatap sempurna. Ada juga yang bilang, kebiasaan yang dilakukan sang ibu saat hamil akan memengaruhi perilaku anak.

Bukan bermaksud membandingkan karena setiap anak itu berbeda dan istimewa, saya hanya ingin berbagi kisah antara Kakak (4,5 tahun) dan Adik (2,5 tahun). Siapa tahu bisa menjadi inspirasi buat Moms yang lain.

Ketika mengandung anak pertama, saya masih aktif ikut pameran dan workshop. Begitu juga saat ia sudah lahir. Ia pun sudah saya ajak ikut pameran meski masih dalam masa ASI Ekslusif. Tentu saja, saat pameran tersebut ia akan berpindah dari satu tangan ke tangan lain alias banyak yang mengajak. Intensitasnya bertemu orang “asing”  sangat tinggi.

Bersosialisasi sejak kecil

Kini diusianya yang belum genap lima tahun, Kakak dikenal sebagai anak yang supel dan pemberani. Bahkan, ketika kami harus berpindah kota, kendala bahasa tak membuatnya berubah. Di sekolah, ibu dari para murid bilang kepada saya, kalau anak saya itu berani. Karenanya, di saat anak-anak setempat masih banyak ditunggui ibu/ayahnya, dengan percaya diri sejak hari kedua, saya sudah melepasnya.

Namun berbeda dengan Adik. Karena jarak kehamilan yang pendek, saya total mengurangi aktivitas. Karena masih harus mengasuh anak pertama dan pertimbangan kesehatan jabang bayi, saya hampir tidak melakukan kegiatan “di luar”. Begitu pula saat anak kedua lahir, saya murni menjadi seorang ibu rumah tangga.

Perbedaan keduanya nampak saat bertemu orang lain selain orang tuanya. Anak pertama saya gampang kenal dan relatif mudah jika ingin mengajaknya. Sedangkan adiknya, sama sekali tidak mau ikut orang lain selain ibu dan ayahnya. Bahkan, jika dulu si sulung setiap pulang kampung langsung mau ikut “Mbah” (nenek/kakek) dan “Pakde” (Kakak saya) berbeda dengan si bungsu yang tidak mau ikut siapa-siapa.

Begitu menyadari hal tersebut, mengembangkan kemampuan sosial si bungsu menjadi PR saya sebagai ibu.

Usaha yang saya lakukan di antaranya mengajak adik saat ada agenda di luar dan mengusahakan setiap akhir pekan jalan-jalan agar si kecil bisa bertemu banyak orang. Kemudian saya mulai menitipkan si kecil jika harus ke luar kota meskipun harus pergi secara diam-diam.

Namun tentu saja tidak serta merta keberanian dan kemampuan sosial si kecil bertambah. Justru dia semakin tidak mau lepas dari saya. Begitu saya tidak nampak sebentar saja dari pandangannya, ia akan memanggil-manggil sambil menangis kencang.

Barulah setelah usianya dua tahun, ia mulai mau “good bye” saat berpisah dengan orang lain. Ia mulai mau pergi dengan orang lain yang sudah dikenal sebelumnya tanpa harus ada ibu disampingnya. Ia pun mulai mau main sendiri tanpa harus ditungguin. Saya pun tak harus selalu pergi diam-diam jika ingin melakukan aktivitas lain.

 

Tantangan Mengembangkan Kemampuan Sosial Anak di Era Digital

“Nanti kalau sudah besar juga berani sendiri.”

Ada yang menanggapi demikian terhadap perilaku si bungsu. Tapi pertanyaan kapan? Bagi saya kalimat tersebut hanyalah kalimat menghibur.

Sebagai ibu masa kini, saya tentu tidak boleh pasif. Apalagi saat ini merupakan era digital. Dunia digital sudah tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Tingkat penetrasi internet di Indonesia hingga Maret 2017 mencapai 50,4 persen. Tidak memungkiri kedua balita saya pun begitu antusias jika sudah melihat smartphone.

Oziel dan Gadget

Saat anak sudah asyik dengan smartphone, dia akan melupakan dunia sosial di luarnya.  Anak bungsu saya, begitu melihat smartphone dia akan betah berjam-jam menggunakannya jika perhatiannya tidak segera dialihkan. Begitu juga dengan si kakak.

Mengingat dampaknya, anak dan gadget telah menjadi menu menarik bagi para pemerhati anak, pendidikan, dan kesehatan. Badan kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan bayi di bawah satu tahun untuk tidak menatap layar sama sekali. Anak baru boleh menatap layar gadget pada usia dua tahun. Anak usia dua sampai empat tahun hanya boleh menonton layar gadget dengan waktu kurang dari satu jam.

Tapi berdasarkan pengalaman, sulit melakukan pembatasan waktu. Sebab, anak-anak akan mengandalkan jurus andalan jika smartphone ditarik seperti menangis teriak-teriak. Sehingga pendekatannya harus kembali ke sifat anak. Beda anak, beda perlakuan.

Inilah tugas sebagai orang tua dan instansi pendidikan, bagaimana mengembangkan kemampuan bersosialisasinya di tengah tantangan era digital. Era digital bukan untuk dihindari. Smartphone bukan untuk dilarang. Tetapi lebih kepada bagaimana menyeimbangkannya, kemampuan bersosialisasinya bagus dan bisa memanfaatkan gadget dengan baik.

 

Pentingnya Pendidikan Pre-School di Era Digital

“Pendidikan itu tidak menyemai benihmu tapi membuat benihmu tumbuh.” – Kahlil Gibran.

 

Mengoptimalkan potensi anak

Salahsatu cara menjauhkan anak dari dampak negatif gadget adalah dengan pendidikan anak usia dini baik melalui instansi atau keluarga. Namun, bukan berarti anak benar-benar tidak mempunyai akses terhadap teknologi dan informasi. Sebab, dia akan gagap teknologi. Karena saya masih menemukan anak yang berkata dilarang menggunakan smartphone oleh gurunya.

Untuk itulah perlu adanya sebuah pendidikan dengan sistem pembelajaran modern yang berkualitas. Tidak hanya mengunggulkan di bidang akademis, tapi bisa menggali setiap potensi anak, menjadikannya berkarakter kuat, dan memanfaatkan perangkat teknologi dengan bijak. Jika setiap potensinya berkembang optimal, kesuksesan masa depan sudah di depan mata. Apalagi anak 0-6 tahun saat ini akan menjadi tulang punggung bangsa 25 tahun mendatang.

Sebagai orang tua tentu kita harus jeli memilih instansi Pendidikan Anak Usia Dini yang berkualitas karena kita memercayakan golden age masa perkembangan pesat otaknya kepada orang lain. Sebagai orang tua, tentu kita ingin setelah anak sekolah, grafik perkembangannya semakin naik baik pertumbuhan fisik, kecerdasan otak, kemampuan motorik, kemampuan mengontrol emosi, kemampuan bergaul, maupun kemampuan lainnya.

PAUD yang berkualitas mengetahui cara mengembangkan potensi anak dengan menciptakan lingkungan belajar dan bermain yang nyaman, melatih kemandirian dan tanggung jawab, serta tidak hanya berfokus pada nilai akademis tapi bagaimana minat dan bakat anak itu bisa berkembang optimal. Sehingga anak tidak merasa terpaksa setiap ia hendak sekolah tapi dengan kesadarannya ia bangga bersekolah.

 

Berkenalan dengan Apple Tree Pre-School BSD

Apple Tree Pre-School BSD memiliki kurikulum pembelajaran yang modern dan terintegrasi dalam upaya mengarahkan dan mengikuti perkembangan era digital. Berdiri sejak Juli 2000, Apple Tree Pre-School BSD memiliki visi untuk memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anak-anak masa kini dengan mendorong kepercayaan diri dan kemandirian setiap siswa.

Masa awal kanak-kanak atau yang dikenal dengan masa emas anak akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak di masa depan. Apple Tree Pre-School bertujuan menciptakan generasi-generasi emas bangsa yang tak hanya cerdas juga berkarakter.

Untuk mewujudkan generasi cerdas dan berkarakter, Apple Tree Pre-School mengadopsi kurikulum Singapura sehingga sejak kecil akan familiar dengan penggunaan Bahasa Inggris dan Mandarin. Upaya memberikan pengalaman nyata dan merangsang minat anak melalui agenda studi lapangan dan berbagai event di sekolah, menerapkan metode learning centre, dan dibimbing oleh para guru yang profesional, berdedikasi, dan peduli.

Dalam mendukung proses belajar tersedia berbagai fasilitas baik dalam maupun luar ruangan yang layak dan lingkungan belajar yang positif dan menyenangkan. Bagi orang tua siswa diberi laporan kemajuan dan prestasi individu anak secara komprehensif.

20190813_050458_0000

Apple Tree Pre-School BSD memiliki enam kelas yang dibagi berdasarkan usia anak dengan jumlah kelas kecil. Hal ini sangat menarik karena pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan anak sesuai umurnya. Jumlah kelas yang kecil memungkinkan setiap anak mendapat perhatian dari guru sehingga tidak ada yang luput dari pengawasan. Selain itu, interaksi antar anak juga menjadi semakin tinggi sehingga mendukung kemampuan sosialisasinya. Bagaimana, pasti tertarik ya, Moms?

20190811_201705_0000

Apple Tree Pre-School BSD bakal menggelar Open House Apple’s Neighbourhood, 7 September 2019 pukul 08.00-11.00 AM bertempat di Educenter Building lantai 3 dan 7, Kav Commercial International School II No. 8 BSD City Tangerang. Terdapat berbagai acara seperti seminar kesehatan, aneka lomba, hingga cek darah gratis. Pastikan sudah diagendakan ya, Moms and Paps! #appletreebsd

IG-Post-Open-House

Bagaimana kemampuan sosialisasi si kecil, berbagi yuk, Moms?

 

Referensi:

www.appletreebsd.com

WHO: Batas Penggunaan Gadget oleh Balita Maksimal 1 Jam. Dipublikasikan oleh www.kompas.com 28/04/2019 08:39 WIB

 

Infografis diolah dari www.appletreebsd.com  

*Tulisan ini mendapatkan apresiasi sebagai salah satu pengirim awal 😀

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.