Wawancara “Doorstop” (2)

Hi Buddies,

Menyambung tulisan saya mengenai Teknik Wawancara sebagai Jurnalis sebelumnya, ada istilah atau teknik wawancara yang harus diketahui sebagai wartawan. Wawancara ini dilakukan spontan dengan mencegat narasumber. Wawancara ini dilakukan tanpa janji sebelumnya yang disebut “doorstop”.

Spontan bukan berarti tanpa persiapan. Biasanya wartawan sudah mempunyai isu yang akan ditanyakan kepada narsum yang merupakan tokoh penting/kunci. Ia rela menunggu di depan kantor, di selasar, kadang juga di tempat parkir. Teknik wawancara “doorstop” kerap dilakukan kepada narsum yang suka “kucing-kucingan” dengan awak media.  Media akan terus memburu hingga mendapatkan klarifikasi.

Sebagai gambaran, jika sering melihat siaran berita di televisi, ada seseorang yang begitu keluar dari ruangan langsung dikerumuni wartawan dan disodori pertanyaan , begitulah “doorstop”. Wawancara “doorstop” umumnya dilakukan kepada gubernur, walikota, anggota DPR/MPR, terpidana korupsi, dll. Seseorang yang rasanya “susah” untuk dijangkau wartawan karena saking sibuknya/pentingnya.

Dalam wawancara “doorstop”, antar wartawan biasanya berlomba untuk mengajukan pertanyaan. Karena waktunya singkat, biasanya dilakukan saat narsum ke luar ruangan hendak ke tempat lain, sehingga para wartawan dituntut secepat mungkin, baik saat bertanya maupun merespon jawaban.

Kiat dalam wawancara “doorstop”:

  • Tanya spesifik (jumlah, penyebab, kerugian materi, penanggulangan, dll)
  • Quick respon (saluran mampet kenapa? tata kota semrawut, penyakit, drainase, dll)
  • Tatap mata narasumber
  • Persiapkan alat perekam/pencatat, jangan sampai gagap masalah teknis ini. Sudah berjubal-jubal tapi tidak tahunya hasil wawancara tidak terekam.  Menyesakkan. Terlihat sepele tapi tidak sepele.

Ohya, karena sifatnya wawancara bersama sehingga pertanyaan kita akan diketahui wartawan lain, begitu pula sebaliknya. Jika kita memiliki isu “seksi” bisa saja itu juga akan diangkat oleh media lain sehingga nilai keekslusifan berita berkurang. Jika memang ingin sedikit ekslusif, kita bisa wawancara usai yang lain selesai atau agak belakangan dengan mengejarnya (sambil jalan kadang sedikit berlari). Namun, jika kita kurang cepat bisa saja kita tidak mendapat tanggapan dan harus “menunggu” Si Doi lagi yang “tak jelas rimbanya” sementara deadline terus mengejar ditambah rentetan “teror” dari redaktur.

Doorstop Jokowi

Doorstop Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Foto: koleksi pribadi)

Pengalaman saya dulu melakukan “doorstop” di balai kota DKI. Di kantor orang nomor satu itu tidak hanya ada gubernur dan wakil. Namun, ada kepala dinas yang kerap memberi laporan, ada pengamat, dan kerap ada rapat yang melibatkan anggota DPRD. Nah, usai wawancara biasanya merupakan kesempatan bagi saya untuk meminta nomor telepon narsum bersangkutan. Nomor telepon ini penting jika kita ingin klarifikasi atau melakukan wawancara berikutnya.

Etika meminta nomor telepon (calon) narasumber:

Perkenalkan diri terlebih dahulu, nama dan dari media mana (jika ada berikan kartu nama) baru minta nomor HP ke narasumber. Misalnya, “Maaf kalau bisa saya minta nomornya jika perlu klarifikasi.”

Semoga mencerahkan ya. Jangan lupa like, share, atau komentar jika bermanfaat^^

 

*Foto diambil tahun 2012

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.