Pembatasan Sosial; Berjauhan untuk Berdekatan

Hi Buddies,

Sebelumnya saya akan meng-update jumlah pasien terpapar Corona di tanah air. Data per 24 April 2020 pukul 12.00 WIB terdapat 8.211 kasus Covid-19. Hari ini terjadi penambahan jumlah 436 kasus. Angka yang menurut saya cukup banyak. Berarti masih penyebaran Corona belum terputus. Artinya, jika kita keluar rumah belum aman dari ancaman virus ini.

Bagi saya sendiri, kampanye #dirumahsaja yang telah berjalan sebulanan ini lama-kelamaan sangatlah membosankan. Rasanya, hampir setiap hari ingin “kabur” saja. Namun, jika mengingat akan resiko tertular yang tinggi apalagi saya tinggal di zona merah, Bandung, mau tak mau, bisa tak bisa, saya harus berpartisipasi untuk menekan ego dan menyukseskan campaign.

Bandung telah memulai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak 22 April 2020. Jalan-jalan utama mulai ditutup. Aktivitas keramaian berkurang drastis. Meskipun, ada beberapa tetangga yang masih “nekad” ke luar, mungkin memang darurat. Suami saya sendiri pun masih tetap keluar karena kerjanya tidak libur.

Jika membicarakan mengenai pembatasan sosial, tak selamanya buruk.

Beberapa waktu lalu, saya membaca kisah fotografer Zoe Savitz yang justru menemukan keakraban selama masa lockdown di ruas jalan Dalston, London Timur.

Ia merekam potret tetangganya melalui kaca jendela dan mengobrol bersama mereka. Sesuatu yang ia tak pernah lakukan sebelum pandemi Corona mewah ke negaranya. Ia menemukan dari kisah para tetangga, dari sejak kapan pindah, mengapa pindah, darimana asalnya hingga mempunyai sahabat pena yang berusia empat tahun di ujung jalan.

“Ada generasi Windrush (periode kepindahan migran dari Karibia ke Inggris dari 1948 sampai 1970 saat terjadinya kekurangan tenaga kerja di Inggris setelah Perang Dunia II), hingga keluarga dari Kashmir, Mauritius, Jepang, Amerika, Australia, dan Eropa.” – Zoe Savitz

Bagi saya itu merupakan temuan menarik, bagian dari sejarah London itu sendiri.

Di sisi lain, saat manusia harus membatasi kehidupan sosialnya sehari-hari namun di sisi lain justru malah semakin mengenal sesuatu yang dekat tapi luput.

P_20200424_132001~2

Bonding antara saya dan si kecil semakin kuat selama #dirumahaja (Foto: Darma Legi)

Bagi saya seorang ibu, pembatasan aktivitas sosial di luar rumah telah menyebabkan Kakak harus menghentikan aktivitas belajar di sekolahnya. Namun, membuat saya lebih mengenalnya terutama di bidang akademik.

Mungkin selama ini, saya terlalu menggantungkan kemampuan akademik Kakak di sekolahnya. Sehari-hari saya hanya cukup menanyakan tadi belajar apa di sekolah? Bisa tidak?

Namun, ketika sebagai ibu saya juga dituntut menjadi guru selama kegiatan belajar di rumah, saya jadi mengetahui kemampuan anak. Oh, ternyata anak saya unggul di sini, anak saya susah belajar ini. Kakak memang masih TK kecil tapi hikmahnya bagi saya adalah walaupun ia sudah bersekolah, saya harus tetap aware dengan kemampuannya tidak hanya mempercayakannya begitu saja. Saya harus mendukung dan mengoptimalkan apa yang telah didapat di sekolah ketika di rumah.

Begitu pula, saat akhir pekan tiba. Naluri jalan-jalan selalu membuat kaki gatal. Tak ada waktu lebih bercengkerama di rumah maupun lebih intim bersama tetangga. Di masa pembatasan, rasa-rasanya intensitas saya bertemu tetangga menjadi lebih tinggi. Obrolan yang dulunya terkesan hanya basa-basi kini menjadi lebih akrab. Sebuah aktivitas sosial yang mulai luntur di kawasan perkotaan.

Tak selamanya pembatasan sosial itu buruk. Kembali, bagaimana kita menyikapi dan memandangnya.

Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan…

Dibalik musibah selalu ada hikmah.

 

Mari kita menyikapi pandemi ini, dimulai dari diri sendiri harus lebih aware dan disiplin. Semoga Corona segera berlalu dan semuanya berjalan lebih baik karena Corona telah mengajarkan banyak hal bagi kita manusia^^

 

Marhaban ya Ramadhan ya, Buddies. Selamat berpuasa. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

 

 

 

2 pemikiran pada “Pembatasan Sosial; Berjauhan untuk Berdekatan

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.