Merindukan Manglayang

Hi Buddies,

Feed Instagram yang saya ikuti, lagi rame ngebahas liburan. Harapannya sama, Corona segera berakhir dan bisa traveling lagi. Saya sendiri jika aktivitas sudah membaik, ngebet menapakkan kaki di pucuk Manglayang.

Manglayang merupakan rangkaian keempat deretan Gunung Burangrang – Tangkuban Parahu – Bukit Tunggul – Manglayang. Gunung Manglayang berada sekitar 36 kilometer di timur laut Kota Bandung dengan waktu tempuh kurang lebih satu setengah jam.

14-3ok

Berlibur di Manglayang (Foto: Koleksi Pribadi)

Saya sendiri terbilang cukup sering ke sini. Namun belum pernah menapakkan kaki ke puncak. Kawasan lerengnya dibuka sebagai objek wisata yang dikenal dengan nama Wana Wisata Batu Kuda. Tegakan pinus dan area camping ground sangat cocok untuk ngadem dari riuh sejenak Kota Bandung.

14-2

Tegakan Pinus di Wana Wisata Batu Kuda (Foto: Koleksi Pribadi)

Rencana mendaki gunung ini sebenarnya sudah ada. Akan tetapi, Corona membuat kami harus menundanya. Ohya, kenapa ingin mendaki dan menggapai Puncak Manglayang?

Pertama, jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Akses dan akomodasinya tidak terlalu sulit.

Kedua, ketinggian gunung ini sekitar 1818 mdpl. Rata-rata dari pengalaman orang yang sudah saya baca hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai puncak. Atau sedikit di atas pendakian terakhir saya di Gunung Andong yang berketinggian 1731 mdpl.

Ketiga, cocok buat pemula.

Dari ketiga alasan tersebut, artinya sudah oke, jika saya membawa dua bocah. Waktu itu saja Kakak yang masih berusia lima belas bulan sudah bisa mencapai 1170 mdpl ke tempat situs batu kuda berada. Insya Alloh, tahun ini sudah bisa sampai puncak ya, Kak!

Bonus pendakian Manglayang yang terkenal adalah panorama Bandung dan Sumedang dari ketinggian. Jika beruntung, di gunung ini kita akan mendapat sunset dan sunrise yang ciamik. Saya belum tahu spot-nya sih apakah di puncak atau bukan. Tapi jika berdasarkan ulasan yang saya baca, pesona ini didapatkan di puncak bayangan. Karena di Puncak Manglayang, katanya rimbun dan tidak bisa melihat apa-apa. Ini mengingatkan saya pada Puncak Pangrango yang tidak lebar dan rimbun. Sihirnya justru di Lembah Mandalawangi, sebuah lembah luas yang datar dan dipenuhi edelweiss. Saya kok jadi pingin menulis ulasan mendaki Pangrango, tujuh tahun lalu. Tapi skip dulu dech 😀

Kalau Buddies pingin liburan kemana setelah Covid-19 berlalu?

 

2 pemikiran pada “Merindukan Manglayang

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.