Ocean Hour; Memberi Kesempatan Bagi Laut Memulihkan Diri

Hi green buddies,

KBR 1-muara sungai

Muara sungai bertemu pantai di daerah Ranca Buaya, Garut (Foto: koleksi pribadi diambil tahun 2018)

Belum lama ini saya mendengarkan siaran Ruang Publik KBR bertajuk Menjaga Laut di Tengah Pandemi. Virus Covid-19 seperti kita ketahui memang telah meluluhlantakkan aktivitas manusia terutama di bidang perekonomian, tapi pada kenyataannya pandemi ini telah memberi kesempatan kepada alam untuk melakukan recovery termasuk laut.

Mendengarkan talkshow tersebut membuat saya teringat pada “Earth Hour”, sebuah aktivitas memadamkan listrik selama satu jam setiap sabtu di akhir bulan maret secara global. Mengapa kita tidak memberi kesempatan serupa kepada laut?

Berkelebat dalam pikiran saya, sea hour, beach hour, jam laut, jam pantai… lalu saya pun mencoba melakukan pencarian dengan kata kunci sea hour di google. Yang menarik, di halaman pertama hasil pencarian ada judul “Ocean Hour” yang berpusat di Florida. Ketika saya klik “Ocean Hour” yang dimaksud adalah membersihkan sampah di kawasan pantai di Florida setiap sabtu pada pukul 9-10 pagi waktu setempat.

Jika kita menilik kembali “Jam Bumi”, dari laman wikipedia menyebutkan Ontario dapat menghemat 900 watt listrik saat “Earth Hour”. Irlandia mengalami penurunan pemakaian listrik 1,5 persen pada malam itu. Begitu juga dengan negara lain yang berpartisipasi dalam pemadaman listrik mengalami penurunan pemakaian listrik.

Berpartisipasi dalam “Earth Hour” artinya kita berusaha berperan dalam menyelamatkan bumi dari ancaman krisis iklim. Ikut mematikan lampu yang tidak perlu artinya kita menghemat konsumsi energi dan menekan buangan karbondioksida ke bumi. Karbondioksida (CO2) merupakan salahsatu penyumbang emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer.

 

“Earth Hour” versi Laut

Perubahan iklim tidak hanya mengancam daratan tapi juga lautan. Prof. Muhammad Zainuri, Guru Besar Kelautan Universitas Diponegoro, Semarang mengatakan dampak perubahan iklim bagi lautan yang paling bisa dirasakan saat ini adalah naiknya permukaan air laut dan suhu di lautan. Hal ini berakibat adanya banjir rob dan penurunan muka air tanah di pesisir.

KBR 2-Rob Kamal Muara

Banjir rob di Kamal Muara Jakarta Utara (Foto: koleksi pribadi diambil tahun 2012)

Selama kurun waktu kurang lebih 30 tahun garis pantai utara mengalami perubahan. Menjoroknya garis pantai tersebut di antaranya dapat dijumpai di Semarang. Garis pantai bergeser 2,3 kilometer dari yang dulunya lahan sekarang menjadi genangan air laut. Ini bukan hanya wacana akademisi, karena kebetulan saya mempunyai paman yang ketika saya SD sekitar 20 puluh tahun lalu mengambil perumahan di dekat pantai utara. Namun, saat ini rumah tersebut tak lagi bisa ditempati karena ikut tergenang air laut.

Indonesia sebagai negara maritim dengan total panjang garis pantai yang mencapai 99 ribu kilometer sudah sepatutnya lebih aware terhadap krisis iklim. Sebab seperti dituliskan Daniel Murdiyarso dalam bukunya Konvensi Perubahan Iklim, naiknya permukaan air laut berpengaruh besar terhadap negara kepulauan kecil. Aliansi Negara Kepulauan Kecil (AOSIS) pun terancam tenggelam. Indonesia yang merupakan negara kepulauan juga tak luput dari ancaman ini.

KBR 5-gugusan pulau kecil

Gugusan pulau kecil di Kepulauan Belitung terancam dampak perubahan iklim (Foto: Koleksi pribadi diambil tahun 2017)

Pengelola Kampung Wisata Arborek dan CEO Arborek Dive Shop Raja Ampat Gita Anasthasia mengatakan sesudah adanya pandemi pertumbuhan coral reef terlihat perbedaan. Pertumbuhan karang terpantau cepat sekali, jumlah ikan-ikan meningkat. Ia juga mencontohkan tuna sering terlihat bahkan ikan hiu bermain sampai ke tepi.

Hal tersebut membuktikan bahwa pembatasan selama pandemi covid-19 telah memberi kesempatan kepada bumi untuk memulihkan diri. Sebagai generasi pertama yang merasakan dampak perubahan iklim dan generasi terakhir yang bisa menyelamatkan generasi mendatang seharusnya dapat memetik hikmah dari pandemi corona. Ini menjadi alarm bagi manusia untuk selalu memberi kesempatan kepada alam termasuk laut di dalamnya untuk kembali kepada keseimbangannya.

Selama pandemi, Prof Zainuri menuturkan limbah industri yang mengalir di sungai dan bermuara di laut berkurang. Sebagai gantinya jumlah limbah organik rumah tangga yang meningkat sehingga menjadi stimulator untuk biota berkembang. Penutupan lokasi wisata juga berpengaruh terhadap gangguan manusia yang terbatas di kawasan rehabilitasi hutan bakau yang meningkatkan keberhasilan penanaman mangrove di pesisir pantai.

Adanya Covid-19 dapat menjadi momentum bagi kita untuk kembali bijak memanfaatkan lautan tanpa merusaknya dan mencegah dampak negatif perubahan iklim terutama bagi warga pesisir. Dengan mekanisme yang mirip kita bisa meniru “Earth Hour”. Satu jam tanpa aktivitas manusia di lautan, bisa dengan tidak adanya kapal berlayar, jangkar di pelabuhan, wisata di laut, dan sebagainya.

Satu jam tanpa ada buangan bahan bakar fosil ke laut dan tanpa ada tumpahan minyak. Satu jam yang singkat bagi kita tapi sangat bermakna bagi kehidupan di lautan. Membiarkan ikan dan fauna berenang bebas, tidak ada kebisingan, dan kerusakan terumbu karang akibat baling-baling kapal maupun jangkar di pelabuhan.

KBR 4-kapal tangker

Kapal tanker salahsatu penyumbang pencemaran di laut (Foto: koleksi pribadi diambil tahun 2018)

“Ocean Earth” yang telah diagendakan rutin di Florida bisa diadaptasi untuk pantai-pantai di Indonesia. Aksi membersihkan sampah di pantai jangan hanya menjadi trend atau pencitraan tapi bisa menjadi jadwal rutin. Aksi memungut sampah di pantai bisa menjadi salahsatu atraksi wisata hijau di pantai.  Tindakan kecil yang berperan mencegah kerusakan laut dan perubahan iklim.

Kemudian saya ingin kembali mengutip closing statement dari Gita Anasthasia. Pesan tersebut wajib kita camkan dalam hati saat ingin mengunjungi destinasi khususnya pantai. Katanya, ketika wisata dimanapun sudah mulai buka tolong jangan berlaku seperti orang lapar, seperti orang serakah, tapi tetap bijak.

Ketika pariwisata dimanapun sudah mulai buka tolong jangan berlaku seperti orang lapar, seperti orang serakah, tapi bijak – Gita Anasthasia

Saat memutuskan traveling, sebaiknya kita sudah membekali informasi untuk mengenali potensi yang ada. Artinya, tidak hanya berwisata karena spot yang instagramable atau mengikuti trend. Wisata seperti iti tidak ada dampak baiknya untuk masyarakat lokal malah bisa merusak. Kemudian, kita memahami objek wisata yang didatangi. Ketika berwisata harus sebagai wisatawan harus bisa memberikan keuntungan bagi warga lokal misalnya apakah mereka membutuhkan masker, beras, atau kebutuhan lainnya.

Mari menjadi green traveler yang tidak membuang dan meninggalkan sampah di lokasi wisata serta tidak mengekploitasi. Tetap menjadi wisatawan yang bijak dan menjunjung prinsip konservasi. Hayuk, bersama kita wujudkan laut Indonesia bebas sampah.

KBR 3-sampah di pantai

Sampah di pantai Kepulauan Seribu (Foto: Koleksi pribadi diambil tahun 2018)

Tak lupa saya mengingatkan, untuk berhenti membuang sampah di sungai. Karena dari sungai, sampah akan bermuara di laut. Sampah anorganik maupun limbah berbahaya tersebut tidak akan hilang begitu saja. Iya, sampah tersebut hilang dari mata kita tapi dia menjadi bahan pencemar di laut yang tidak begitu saja bisa terurai.

 

Oh iya, jika green buddies tertarik juga ingin mendengarkan siaran Ruang Publik “Menjaga Laut di Tengah Pandemi” bisa langsung klik. Siaran ini bisa juga ditonton via youtube Berita KBR loh.

 

Jangan lupa ceritakan juga kesan kamu usai mendengarkan siaran ini, ya.

 

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini 

 

2 pemikiran pada “Ocean Hour; Memberi Kesempatan Bagi Laut Memulihkan Diri

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.