[Review Buku] Berkelana dalam Rimba

Halo Book Buddies,

Di postingan ini saya ingin mengajak Book Buddies bertualang menembus hutan Gunung Hitam melalui cerita yang ditulis oleh Mochtar Lubis. Mochtar Lubis selain jurnalis merupakan sastrawan kawakan di Indonesia. Beberapa karyanya mendapat penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Ini buku keduanya yang saya baca setelah Harimau! Harimau!

LUBIS, Mochtar

Berkelana Dalam Rimba/Mochtar Lubis; kata pengantar: Mochtar Lubis; — Jakarta: Yayasan Obor Indonesia 2002.

xii + 186 hlm.: 21 cm

ISBN 979-461-404-1

Menembus Rimba Raya Gunung Hitam

Gunung Hitam merupakan rimba belantara di bagian tengah Pulau Sumatera termasuk dalam Pegunungan Bukit Barisan. Kenapa gunung ini dinamakan gunung Hitam? Karena batu-batu di gunung dan di dalam berbagai sungai yang mengalir umumnya berwarna hitam.

Terbagi dalam lima bab, petualangan Paman Rokhtam dan rombongan kecilnya (anak-anak pramuka) yang berasal dari kota Air Jernih ke hutan belantara diawali “silaturahmi” dengan kepala kampung terdekat dengan hutan. Paman Rokhtam berharap akan ada seorang penduduk yang bisa menjadi penunjuk jalan saat masuk hutan. Namun, tak seorangpun bersedia.

Bahkan, kepala kampung masih saja melarang ketika rombongan itu hendak berangkat. Baginya gunung Hitam adalah  tempat orang bunian, setan jahat, dan tempat hidupnya berbagai binatang buas. Belum lagi katanya, ada perimba yang memberanikan masuk hutan lalu mencium bangkai. Entah bangkai mayat atau hewan yang tak berani diperiksanya karena sudah membuat mual.

Paman Rokhtam dan rombongan kecilnya yang terdiri dari remaja SMA satu sekolah bernama Rais, Poni, “Ayang” adik Paman Rokhtam, Aisa, Adnan, dan Pentil tak urung menghentikan niat mereka. Paman Rokhtam adalah lulusan IPB dan melanjutkan kuliah di Amerika Serikat, dengan bekal ilmu pengetahuan tentu saja apa yang dikatakan kepala kampong tak membuatnya ciut sebelum membuktikan sendiri.

Petualangan mereka menembus rimba gunung Hitam pun dimulai. Dari bukit lalang yang terik kemudian memasuki hutan sehingga cahaya semakin remang karena disaring daun-daun pohon. Dikatakan, sesekali cahaya matahari yang lepas ke bawah tak ubahnya sebagai cahaya senter di malam gelap. Hutan semakin senyap. Suara beruk sudah tak terdengar, burung terbang tak terlihat, hanya suara serangga aneh yang terdengar.

Paman Rokhtam mengingatkan sebelum beristirahat agar memeriksa batang kayu yang akan diduduki. Sebab bisa saja menjadi sarang ular atau binatang lain. Begitu juga saat hendak mendirikan pondok untuk bermalam agar memperhatikan apakah daerah tersebut merupakan area yang biasa dilintasi satwa saat hendak mencari air.

Sepanjang perjalanan Paman Rokhtam tak henti-hentinya berbagi kisah mengenai hutan, mengenai kekayaan flora dan faunanya. Pada bab kedua buku ini, diceritakan mereka menemukan anggrek tanah yang juga dikenal dengan anggrek kantong atau anggrek sepatu. Nama latinnya Paphiopedilum curtisii.  

“Menurut dongeng,” kata paman, “dulu seorang bidadari turun ke bumi, karena ingin mandi-mandi di sebuah danau. Ketika dia sedang mandi seorang lelaki tiba-tiba datang, bidadari terkejut dan takut, lalu lari. Sepatunya tertinggal, dan tumbuh jadi anggrek kasut ini…” – hal. 65

Pagi berikutnya atau pada hari ketiga mereka ke hutan akhirnya mereka mencium bau bangkai yang dikisahkan kepala kampung. Poni yang berada di depan sebagai pembuka jalan lari terbirit-birit kembali ke arah rombongan. Dengan hati-hati Paman Rokhtam memeriksa asal bau bangkai tersebut. Lantas tertawa usai menemukan sumber aroma yang menusuk itu yang membuat anak-anak bingung. Paman menyuruh mereka mendekat dan melihat bunga bangkai raksasa.

Bunga Amorphopallus titanu hanya terdapat di Indonesia. Baunya sungguh busuk, tak ubahnya seperti bangkai busuk. Banyak lalat beterbangan di sekeliling bunga. Tingginya mencapai hampir dua meter. Ketika sampai di sini, saya jadi teringat kisah Junghuhn yang menemukan kawah putih. Betapa “kita” seringkali telah berasumsi sebelum membuktikannya dan dengan pikiran tersebut membuat kita terkungkung untuk tak pernah mencari tahu apa yang tersembunyi.

Tak hanya berbagai jenis flora yang mereka jumpai, mereka juga menemukan jejak-jejak binatang. Paman Rokhtam membantu mereka mengenali jejak binatang apa itu dan berapa lama mereka ada di situ. Mereka juga berkesempatan menyaksikan berbagai satwa hutan yang tengah minum di sungai, tentu saja dengan sembunyi-sembunyi.

Pada akhir petualangan mereka, “Ayang” dan Aisa terjebak oleh sebuah lubang yang dibuat oleh para penyamun margasatwa. Karena rasa kepedulian mereka terhadap satwa-satwa hutan, mereka akhirnya harus berkejar-kejaran dengan para penjahat ini.

Membaca Buku Ini

“Berkelana dalam Rimba” sukses membuat saya jatuh cinta (kembali) kepada hutan. Mochtar Lubis melalui Paman Rokhtam mengajak saya secara tidak langsung menyaksikan dan berada di hutan itu seperti apa. Namun, seringkali saat membaca buku ini saya bertanya apakah saya masih menyaksikan apa yag dikisahkan Paman Rokhtam ini. Karena edisi pertama buku ini dicetak tahun 1980, hampir empat dekade lalu, kondisi hutan kita sudah sangat berubah.

Saat membaca buku ini, saya melibatkan dua bocah saya, Kakak dan Abang. Adanya ilustrasi hutan, bunga, hewan, dan berbagai jejak satwa membuat mereka antusias mengikuti ceritanya. Tentu saja saya tidak full membaca setiap kalimatnya karena ini bukan buku khusus cerita anak yang tulisannya besar dan banyak gambar tapi bukan berarti tidak bisa dibacakan untuk anak.

Anak saya ikut tertawa ketika Pentil tiba-tiba menjerit dan melambung ke atas karena digigit pacet di belahan pantatnya. Kemudian saya tambahkan pengalaman penulis yang mengaku pernah digigit dua pacet di bagian ketiaknya hingga ukuran pacet sebesar ibu jari dan menyisakan bekas. Saya sendiri pernah digigit pacet di bagian atas mata kaki saat di hutan Semeru. Karena panik dan langsung mengibasnya, darah saya langsung mengucur deras saat itu. Bekas hitamnya pun masih sedikit terlihat. Dari buku ini saya mengetahui bahwa bukan begitu menangani ketika digigit pacet, tapi dengan diberi air tembakau sehingga pacet akan melepaskannya isapannya.

Kemudian anak-anak akan menyuruh saya berhenti cukup lama untuk melihat gambar jejak satwa dan gambar hutan. Mereka akan mulai menebak burung dan binatang-binatang apa yang ada dalam hutan.

Dalam buku ini disebutkan juga tiga nama naturalis, Wallace (Inggris), Rumphius (Belanda), dan Junghuhn (Jerman/Belanda). Nama Wallace dan Junghuhn sudah tidak asing bagi telinga saya. Ketiganya adalah sarjana asing yang berkorban untuk meneliti alam Indonesia.

Sudah tiba saatnya orang Indonesia sendiri meneruskan penelitian ini. –hal 154

Secara keseluruhan buku ini sangat edukatif dan inspiratif. Dalam pengantarnya, penulis mengaku kisah ini terinspirasi dari perjalanannya sendiri menembus hutan bersama guru sekolahnya SM Latief untuk mencari anggrek. Betapa beruntungnya Mochtar Lubis karena bisa berguru langsung dengan SM Latief, Bapak Anggrek Indonesia.

Hanya saja saya ada ketidakkonsistenan dalam penyebutan “orang utan” dalam buku ini. Di bagian-bagian awal masih dituliskan “orang hutan”.  Orang utan itu satwa sedangkan orang hutan merujuk pada orang yang tinggal di kawasan hutan. Karena dulu saya dan teman-teman kerap berkelakar, “Tak apa disebut “orang hutan” asal masih ada huruf “h”-nya?”. Kalau huruf “h” hilang kan menjadi “orang utan” hehe…

Apakah Book Buddies pernah masuk hutan? Ceritakan juga pengalaman Kalian ya!

Semoga tulisan saya bermanfaat^^

*Gambar koleksi pribadi diambil dari buku “Berkelana dalam Rimba”

Bandung #013

21 pemikiran pada “[Review Buku] Berkelana dalam Rimba

  1. Dulu pernah ikut latsar ke hutan (setidaknya menurut saya itu hutan🙈), menantang sekali belajar survival. Tak lama kemudian, ikut penelitian ke gunung leuser, bagus…bagus…bagus…banget. Pengalaman yang ketika diulang selalu senang 🥰

  2. Tempat asalku di Sulawesi Tengah masih ada hutan lebat walaupun sebagian sudah jadi hutan sawit Sekarang sudah jarang anak-anak main ke hutan, kalo jaman aku dulu sering main ke hutan buat nyari kacang hutan bareng teman-teman hihi

  3. Dulu pernah tinggal di pedalaman kalimantan timur, masih banyak hutan2 yang belum terjamah tangan2 manusia. Namun miris nya semakin kesini, hutan2 tersebut sudah berubah fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit😔. Buku ini bagus mba, mengedukasi anak mengenai hutan dan pentingnya mebjaga hutan di Indonesia.

  4. Aku pernah kesasar sampai di taman nasional Laiwangi Wanggameti, Sumba Timur, karena mengikuti pedagang ikan..hahah..selama 8 jam perjalanan biar keluar dari hutan..tapi malah menemukan tempat-tempat indah..cuma ya sambil deg-degan kok ga selesai-selesai jalannya..hahaha

  5. Buku seperti ini bisa membawa anak berimajinasi dan merasa benar-benar ada di dalam hutan…bisa jadi anak-anak akan mulai menyukai hutan dan memahami untuk tidak merusak hutan..bacaan berkualitas untuk anak yang mungkin saat ini jarang banget ada

Tinggalkan Balasan ke Sarah Mellina Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.