[Review Buku] “Ring of Fire”; Indonesia dalam Lingkaran Api

Halo BookBuddies,

Awal tahun ini, Indonesia dilanda beberapa bencana secara bersamaan khususnya di bidang vulkano-tektonik-geologi. Gunung Merapi erupsi disusul Gunung Semeru di Jawa Timur. Banjir di Kalimantan, gempa di Sulawesi, dan bencana di daerah lain. Rentetan bencana ini mengingatkan saya juga tajuk yang diangkat beberapa media bahwa Indonesia merupakan “Ring of Fire”, cincin api di kawasan Pasifik. Indonesia berada dalam lingkaran gunung berapi dan lempeng yang masih aktif.

Terkait “Ring of Fire”, saya jadi ingat ekspedisi yang pernah dilakukan oleh tim kompas. Reportase perjalanannya pun dimuat di Harian Kompas dan ditayangkan pula di Kompas TV. Saya pun iseng browsing  buku “Ring of Fire”. Karena berdasarkan pengalaman, setiap ekspedisi yang diselenggarakan Kompas pun dibukukan. Tapi, saya justru menemukan buku “Ring of Fire” terjemahan karya Lawrence Blair dan Lorne Blair.

RING OF FIRE

Indonesia dalam Lingkaran Api

Diterjemahkan dari

Ring of Fire

An Indonesian Odyssey

Karya Lawrence Blair, Lorne Blair

Copyright ©2010, Lawrence Blair, Lorne Blair

Cetakan I: Oktober 2012

ISBN: 978-602-9346-07-7

Mengembara di Pelosok Nusantara

Awalnya, saya pikir buku ini semacam “dongeng” geologi yang menceritakan tentang pengembaraan dua kakak beradik dari satu gunung berapi ke gunung lainnya yang ada di Indonesia. Dari ekspektasi saya tersebut, hanya gunung Krakatau yang dipaparkan itu pun tidak spesifik dalam bab khusus dan disebutkan sambutan kerucut gunung di kepulauan Banda.

Namun lebih dari itu, menurut saya buku ini menawarkan decak kagum tersendiri. Dua saudara yang menjelajah di tahun 70-an dan 80-an ini bisa memberikan narasi berdasarkan fakta di pedalaman yang bahkan mungkin kita sebagai orang Indonesia menganggapnya hanya sebagai “mitos” (terutama sebelum era digital). Jangan ke Papua, di sana katanya begini… Jangan ke Kalimantan, katanya di sana…

Justru bagi kita yang “katanya” itu berhasil diselami oleh Lawrence dan Lorne. Mereka bisa berbaur dengan suku Asmat di Papua, mendapat keistimewaan menilik gua persemayaman terakhir Raja Toraja sebelum menuju bintang, hingga menjelajah rimba bersama Dayak Punan yang melegenda dengan hidup tak menetap di Borneo. Mereka pun bisa membuktikan sebagai orang asing bisa hidup damai dengan suku-suku yang dulunya terkenal sebagai suku pangayau.

Fokus pengembaraan mereka sendiri ada di wilayah timur Indonesia yang bagi saya sendiri masih serasa tak terjangkau. Tujuan mereka awalnya adalah mendokumenterkan burung Cendrawasih Besar-Kuning yang sudah tersohor bahkan sejak era perdagangan China, Arab, India di masa lampau. Burung yang dibawa ke Eropa sebagai bagian dari dongeng tersebut ternyata memang nyata dan berada di Nugini. Burung tersebut mulai dikenal kalangan Eropa setelah ekspedisi Alfred Russel Wallace di kepulauan timur Nusantara.

“…Wallace menghabiskan empat tahun menjelajahi cekungan Amazon, diikuti delapan tahun, sebagian besar sendirian, berkelana ke seluruh Kepulauan Indonesia demi mencari penjelasan mengenai divergensi evolusi spesies.” — hal. 40

Pengalaman mereka sangat unik, kadang sangat konyol, banyak hal diluar akal yang bahkan kadang membuat saya tertawa hingga keluar air mata. Namun, mereka bukanlah pengembara bermodal nekad tapi memiliki wawasan mumpuni tentang tujuan mereka.

Bagi saya yang sangat berkesan adalah bagaimana mereka berambisi menuju Kepulauan Arafuru untuk melihat dengan mata sendiri sang burung surga dengan berlayar menggunakan pinisi layaknya penjelajahan yang dilakukan Wallace di masa lampau. Pinisi merupakan kapal kebanggaan suku Bugis yang konon merupakan bajak laut yang ditakuti di lautan bahkan hingga mendapat sebutan “boogie man” oleh orang-orang Inggris. Mereka bahkan rela menunggu pinisi di Bira, sebelum kembali ke Makasar kemudian melayari Maluku hingga Arafuru. Sebegitunya mereka ingin merasakan sensasi menaiki pinisi, sebuah perahu yang pernah tergambar dalam pecahan uang seratus rupiah.

Saya sendiri pernah menyaksikan pinisi di Museum Samudra Raksa di Candi Borobudur. Pinisi tersebut merupakan replika yang dibuat untuk melayari kembali ekspedisi pinisi yang pernah mencapai Ghana Afrika.

Baru membaca bab awal saja, saya dibuat begitu bangga dengan Indonesia yang bahkan saya tak menyadarinya. Belum lagi menjejaki tanah-tanah yang mereka injak selanjutnya di kepulauan rempah-rempah, di kepulauan burung cendrawasih, bertemu sang naga “komodo”, menari bersama prajurit sumba, hingga berkelana dengan pengembara mimpi di Borneo.

Walaupun isi buku ini semacam kisah perjalanan mereka tapi sangat memukau karena sangat membuka cakrawala lebih mengenal dan mencintai tanah air. Namun, yang kemudian membuat saya miris, seperti tertulis dalam pengantar edisi terbaru Lawrence yang kini menetap di Bali mengatakan bahwa kondisi hutan di Indonesia sudah sangat menyusut beberapa dekade terakhir, tentu saja itu sangat mengancam kekayaan flora dan fauna yang dibanggakan Wallace, terdesaknya suku pedalaman. Saat kedatangannya pun hutan rempah-rempah yang membuat orang Barat berlayar ke Timur telah gundul. Hutan cendana tak lagi bersisa. Bahkan sang naga pun teramati telah berubah perilakunya seiring dibukanya pulau naga sebagai tempat wisata.

Namun, sungguh mengganggu rasanya mendapati betapa banyak hewan-hewan ini tampaknya telah berubah sejak kami mengunjungi mereka pertama kali, baik sebagai pemandu wisata yang dielu-elukan maupun sebagai pembuat film independen. Seperti penjabaran David Attenborough mengenai mereka dalam pencariannya pada tahun 1950-an, Komodo tadinya cukup sulit ditemukan: pemburu soliter yang, begitu ditemukan, cenderung malu atau langsung beringas. Namun, kini mereka tampaknya telah mengalami transisi evolusi yang menyeramkan. Mereka telah menjadi pengangguran pemalas yang hidup bersama-sama, meringkuk malas selama berbulan-bulan di tepi tempat-tempat di mana mereka telah belajar bahwa, cepat atau lambat, makanan yang masih hidup ataupun sudah mati akan tiba untuk menjadi santapan gratis mereka berikutnya.” — hal. 299-300

Pada akhirnya, buku ini memang tidak menjawab rasa penasaran saya terkait bencana di Indonesia. Namun sekali lagi, lebih dari itu, buku ini bagi saya seperti menjabarkan Indonesia merupakan sebuah negara “antah berantah” laksana dongeng yang berhasil menyihir orang-orang Barat berkat kekayaan flora-faunanya, keragaman suku budaya, kemasyarakatan dan sebagainya. Maka sudah selayaknya, kita tak hanya bangga tapi juga melestarikannya.

Semoga tulisan saya bermanfaat ya^^

Bandung #014

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.