Memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu sebagai Produk “Beauty dan Wellness”

Halo Buddies,

Kalau bukan karena kompetisi yang diadakan Blogger Perempuan Network yang bekerjasama dengan Kabupaten Lestari dan Madani Berkelanjutan, mungkin saya tidak akan “ngeh” kalau ternyata produk perawatan baik kosmetik maupun kesehatan kita sehari-hari kita berdampak pada keberlanjutan bumi. Kok bisa? Pikir saya.

Untuk menjawab rasa ingin tahu, saya pun mulai berselancar di mesin pencari, mulai dengan kata kunci bahaya produk kecantikan bagi lingkungan hingga produk ramah lingkungan. Saya menemukan fakta dari liputan6.com yang mengejutkan bagi saya pribadi, misalnya penggunaan produk krim tabir surya yang dilaporkan bisa mencemari air laut dan merusak terumbu karang. Contoh lainnya penggunaan skin care seperti scrub biasanya mengandung microbeads exfoliator yang merupakan potongan plastik kecil. Manik-manik yang terbuat dari plastik ini terlalu kecil walaupun terasa enak di kulit namun National and Atmospheric Administration menjelaskan bahan ini terlalu kecil untuk melewati penyaringan di pusat pengolahan air limbah. Artinya bahan ini akan berakhir di danau atau lautan dan tanpa sadar akan dihirup atau dikonsumsi hewan yang berhabitat di tempat tersebut. Begitu juga penggunaan sabun cair yang memiliki jejak karbon yang lebih besar sebanyak 25 persen daripada sabun batang. Jejak karbon ini tentu berdampak negatif bagi bumi dan mempercepat pemanasan global.

Kemudian, pencarian saya berlanjut ke produk ramah lingkungan. Jreng…jreng…jreng… tak satupun produk yang saya gunakan. Astaga!

Sebenarnya terkait kosmetik, saya sendiri bukanlah perempuan yang akrab dengan make up. Saya memiliki lipstik berwarna, compact powder, dan paket make up karena mengikuti salahsatu event blogger. Saya pun hanya menggunakan lipstik dan compact powder, itupun bisa dibilang hanya hitungan jari saat ke kondangan tanpa embel-embel tambahan lagi apapun. Untuk produk perawatan dan kesehatan pun tidak neko-neko, paling banter pembersih wajah, body lotion, body wash, shampo, dan sesekali menggunakan toner. Sejak kecil saya sudah terbiasa menggunakan bahan-bahan dari sekitar yang diwariskan dari ibu saya.

Mungkin benar kata pepatah children see children do. Saya dahulu kerap melihat ibu membersihkan muka setiap bangun tidur dengan ampas teh. Setiap bangun tidur beliau akan mengawali rutinitas dengan segelas air putih hangat lalu membasuh mukanya dengan ampas teh. Karena tinggal di desa, kami tidak mengenal teh yang sudah dibubuk halus tapi teh masih yang kelihatan komposisinya. Nah, ibu memanfaatkan sisa daun, bunga melati, maupun ranting itu untuk membasuh mukanya. Saya kecil penasaran, ibu sedang apa dan biar apa? Katanya biar wajahnya tetap bersih. Dan benar, entah kebetulan atau tidak, seumur hidup rasanya saya tidak pernah melihat jerawat di wajah ibu.

Daun Seledri

Sewaktu kecil, rambut saya ini berwarna agak kemerahan bukan hitam dan tipis. Bukannya membelikan shampo merk tertentu atau membawa ke salon, ibu merawat rambut saya dengan memanfaatkan seledri yang kebetulan tumbuh subur di kebun kami. Ibu mengambil beberapa batang seledri dan menumbuknya halus. Kemudian setelah ditambah sedikit air, tumbukan seledri yang halus itu diusapkan ke rambut hingga ke kulit kepala. Setelahnya, rambut saya ditutup dengan kain handuk hangat. Itu dilakukan 2-3 kali dalam seminggu. Hasilnya, rambut saya lebat dan tak lagi berwarna “pirang” serta tidak bermasalah dengan kerontokan rambut.

Lidah Buaya

Jika ibu senang memanfaatkan ampas teh, saya terbiasa menggunakan lidah buaya. Sebab, masalah utama wajah saya adalah komedo. Setelah dicuci bersih, kulit lidah buaya dibuang. Dagingnya bisa ditumbuk halus atau diblender. Karena merasa tidak praktis, saya lebih suka memakainya secara langsung dengan mengusapkannya ke bagian wajah. Lebih intens dibagian yang banyak komedo seperti di hidung dan bagian bawah mulut. Usai didiamkan sekitar 10-15 menit kemudian dicuci bersih. Hanya beberapa kali menggunakan, saya ingat waktu itu ibu saya berkata, “kelihatan lebih resik mukanya”. Bahasa kerennya lebih glowing hehe…

Selain itu, saya juga memanfaatkan daging lidah buaya untuk menghilangkan gatal dan ketombe di kepala. Entah mengapa sejak menikah ketombe malah menjadi masalah di rambut. Mungkin akibat gonta-ganti shampo. Ketika memakai lidah buaya anak pertama saya yang masih TK melihat. Rasanya saya seperti de javu moment bersama ibu sewaktu kecil. Kakak pun kepo saya sedang apa? Usai saya jelaskan dia ingin ikut-ikutan. Karena saya percaya, tanaman ini tidak hanya untuk menghilangkan gatal dan ketombe, saya mengusap lembut ke rambut dan kulit kepala Kakak agar rambutnya lebih lebat dan hitam lagi. Jika saya perhatikan saat ini banyak iklan produk kecantikan dan kesehatan yang berbahan tumbuhan bernama latin Aloe vera ini, dalam hati saya berkata sudah sejak dahulu menggunakannya halah….

Belum lama ini, Bu Guru memberi Kakak tugas untuk praktek mengobati luka dari lidah buaya seperti luka terjatuh. Ini termasuk ilmu baru bagi saya. Karena saya belum pernah praktek seperti itu. Setelah luka dicuci bersih lalu diusapkan daging lidah buaya yang mengandung lendir. Sensasi dingin akan menjalar ke bagian yang sakit dan beberapa waktu akan segera menutup lukanya. Wow, berjuta manfaat ya. Karena itu, lidah buaya menjadi tanaman wajib buat saya meskipun sekarang saya tinggal di kota dengan lahan terbatas.

Madu

Justru saya baru mau mengenal madu lebih dekat belum lama ini di tengah kehamilan anak ketiga atas rekomendasi bidan. Manfaat madu sendiri sebenarnya sudah tidak disangsikan sejak nenek moyang dahulu tidak hanya untuk pemanis tetapi juga baik untuk kesehatan maupun kecantikan. Madu adalah produk obat tradisional yang merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).

Saran bidan sebenarnya dalam konteks untuk menjaga kesehatan ibu dan janin selama kehamilan. Namun, saya pernah mendengar jika madu baik juga untuk merawat kesehatan kulit. Nah, setelah mengonsumsi rutin madu dua sendok makan yang awalnya ogah-ogahan, saya justru merasakan perbedaan di kulit saya. Jika dulu kulit saya termasuk cepat kering dan harus sering menggunakan body lotion sekarang rasanya kulit saya lebih lembab sepanjang hari.

Walaupun ketika periksa terakhir menjelang akhir trimester kedua ini, bidan sudah tidak menyebutkan madu di bagian sarannya, saya akhirnya mempunyai kebiasaan baru mengonsumsi madu. Tentu saja, saya memilih madu murni walaupun harganya lebih mahal tapi khasiatnya saya yakin lebih bagus dan terjamin. Ketika saya kebetulan main di laman hutanitu.id ternyata merk madu murni yang diproduksi oleh para petani atau masyarakat hutan cukup banyak. Selama ini saya tahunya hanya produksi dari salahsatu BUMN di bidang kehutanan. Di antara madu yang diproduksi masyarakat sekitar kawasan hutan yaitu:

  • Madu Hutan Leuser yang diproduksi Komunitas Kempra Aceh Tamiang

Madu ini tergolong unik karena lebah tidak mau mengambil nektar yang berasal dari pohon yang menggunakan pestisida kimia sehingga madu yang dihasilkan benar-benar bersih dari pestisida kimia. Petani madu menjaga agar pohon-pohon raja atau tualang tetap ada sehingga si lebah tidak mau pergi. Pohon tualang ini tumbuh di tengah-tengah Hutan Leuser yang masih alami dan asri. Komunitas ini berlokasi di Desa Harum Sari, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang.

  • Madu Hutan Periau yang diproduksi Komunitas Periau Kapuas Hulu

Masyarakat di sini percaya hutan yang terjaga akan menghasilkan kualitas madu yang baik. Komunitas ini berlokasi di Kedamin Darat, Kecamatan Putussibau Selatan, Kapuas Hulu.

  • Madu Hutan Apis dorsata yang diproduksi Komunitas FORESSA

Apis dorsata merupakan lebah yang memiliki kepekaan terhadap polusi. Lebah ini cenderung menghindari daerah-daerah daerah-daerah yang berpolusi atau rusak seperti polusi dari kendaraan ataupun industri. Sehingga madu yang dihasilkan dipastikan alami karena merupakan tolok ukur rusaknya ekosistem di suatu daerah. Komunitas ini berlokasi di Panjang Selatan/Panjang/Bandar Lampung/Lampung.

  • Madu Tengkawang yang diproduksi Komunitas Yayasan Riak Bumi

Madu ini berasal dari Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum yang dikelola dengan sangat baik oleh masyarakat yang tinggal di dalam kawasan TN. Madu hutan dari daerah ini sangat baik dan mutu terjamin dengan menggunakan teknik panen lestari untuk menjaga keberlangsungan lebah hutan dan kawasan hutan itu sendiri serta paska panen dengan teknik penyaringan yang higienis membuat madu hutan berkualitas sangat baik. Komunitas ini berlokasi di Sekutal Vega, Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kapuas Hulu.

  • Madu Hutani yang diproduksi Komunitas Rumah Bantala

Madu hutan ini langsung diperoleh dari hutan oleh petani setempat dengan langsung mengambilnya dengan cara memanjat pohon. setelah dipisahkan dengan sarang lebah, madu disaring dan dikemas dalam wadah kaca steril. Rasanya fruity dan manisnya sedang. Komunitas ini berlokasi di Kuningan, Jawa Barat.

  • Madu Teras Mitra yang diproduksi Komunitas Terasmitra

Madu hutan ini terbuat secara alami dari bermacam-macam bunga tanaman. Berbeda dengan madu ternak, madu hutan berwarna coklat kehitaman karena banyak mengandung mineral, enzim, dan zat bermanfaat lainnya. Komunitas ini berlokasi di Yogyakarta.

#LestarikanCantikmu dengan Peduli Alam Keberlanjutan

Tentu saja tidak hanya tanaman di atas yang bermanfaat bagi kecantikan dan kesehatan manusia baik secara langsung maupun diekstrak atau pengolahan terlebih dahulu. Masih banyak lainnya seperti bengkoang, mentimun, virgin coconut, tengkawang, rempah-rempah, dan produk HHBK lainnya.

Dengan membeli, menggunakan, dan mengonsumsi produk lokal khususnya HHBK berarti ikut memberdayakan masyarakat lokal, menekan angka pengangguran di desa dengan terciptanya lapangan kerja mandiri, dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus berpartisipasi dalam menjaga kawasan hutan dari kerusakan dan kepunahan. Kita pun turut menjadi pahlawan bangsa dengan bangga menggunakan komoditas lokal yang berkelanjutan yang memiliki visi ekonomi lestari.

Karena itu, komitmen menjaga keberlanjutan lingkungan melalui gaya hidup maupun penggunaan produk ramah lingkungan seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab para pemerhati lingkungan, para aktivis lingkungan, para pihak terkait tetapi tanggung jawab kita semua. Hal ini misalnya telah ditunjukkan oleh Yayasan Madani Berkelanjutan yang bertujuan memberikan informasi yang tepat kepada orang yang tepat sejak 2017 dan membentuk platform tahun 2018 yang membantu pemikiran dan pemahaman yang sama berdasarkan pekerjaan masing-masing untuk kolaborasi yang lebih baik. Tahun 2021, yayasan ini melibatkan publik dengan menargetkan masyarakat luas untuk meningkatkan kesadaran mereka mengenai masalah hutan dan perlindungan hak-hak masyarakat melalui teknologi daring.

Pemerintah pun harus mengambil bagian di bidang regulasi dan kemudahan dalam memfasilitasi. Perhatian daerah ini misalnya ditunjukkan oleh lingkar Kabupaten Lestari. Sebuah forum kolaborasi yang dibentuk dan dikelola oleh pemerintah kabupaten untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan sejak Juli 2017.

Dalam mendukung produk HHBK, Kabupaten Lestari melalui Pusat Unggulan Komoditi Lestari (PUKL) memiliki fungsi sebagai pusat data dan informasi, investasi lestari, dan pusat pelatihan dan inovasi agar dapat membantu meningkatkan nilai komoditas unggulan dan bersama-sama menekan angka kemiskinan. Seperti dikutip dari Pendiri Agradaya Andhika Mardika bahwa desa adalah kekuatan dan masa depan. Sementara investasi lestari menurut Direktur Fasilitas Promosi Daerah, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Dr Ir Indra Gunawan, tiga hal yang harus diperhatikan dalam investasi lestari yaitu harus yang layak ekonomi, diterima sosial, dan ramah lingkungan

Saat menulis ini saya menyadari ternyata kebiasaan sehari-hari termasuk ritual mandi pun berpengaruh terhadap keberlanjutan bumi kita. Bumi mempunyai kemampuan untuk mengurai tetapi jika jumlahnya berlebihan membutuhkan proses dan waktu yang agak lama. Akibatnya terjadi degradasi lingkungan. Tanah menjadi tidak subur dan tercemar sehingga sumber pangan kita pun terancam. Air bersih pun bakal menjadi semakin langka. Selain tentunya banyak mikro fauna dan biota yang bisa punah padahal mereka mempunyai peran masing-masing dalam sebuah ekosistem.

Karenanya, kita harus bisa lebih bijak dalam menggunakan maupun memilih produk beauty dan wellness yang akan kita gunakan. Jangan hanya karena ingin tampil cantik tetapi mengorbankan lingkungan. Sebab, alam ini bukan hanya milik kita sendiri tapi juga akan ditempati anak cucu kita di masa mendatang. Lingkungan terjaga, masyarakat sejahtera!

Jangan lupa tonton juga video tentang Visi Ekonomi Lestari berikut ya!

Semoga bermanfaat ya^^

Referensi:

https://hutanitu.id/pesonahutan/komoditas-pangan/

http://www.kabupatenlestari.org/berita/read/berdaya-di-daerah-menggali-potensi-lokal-menjadi-peluang-usaha

https://kelingkumanggroup.co.id/news/keling-kumang-dampingi-petani-

https://madaniberkelanjutan.id/2020/01/20/dilema-komoditi-sawit

https://m.liputan6.com/lifestyle/read/4391676/6-perawatan-kecantikan-yang-kurang-ramah-lingkungan

Foto:

Dokumentasi pribadi kecuali foto madu diambil dari hutanitu.id

*Artikel ini masuk 30 besar dalam kompetisi blog yang diselenggarakan oleh BPN x Kabupaten Lestari x Madani Berkelanjutan

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.