Surat untuk Diriku, Bumiku, Hutanku di 50 Tahun Akan Datang

Teruntuk Diriku, Bumiku, Hutanku di 50 Tahun Akan Datang,

Peringatan Hari Hutan Sedunia dan Hari Bumi 2021 ini adalah yang kedua sejak virus Corona terkonfirmasi di Wuhan akhir tahun 2019 lalu. Orang Jawa menyebutnya kita tengah di masa “pagebluk” atau bencana. Pagebluk COVID-19 ini sendiri masih simpang siur asal usulnya. Yang menarik, katanya berasal dari virus yang berasal dari kelelawar atau trenggiling dari perdagangan satwa liar.

Trenggiling termasuk dalam daftar merah IUCN atau sangat terancam punah. Manis Javanica merupakan spesies endemik Indonesia yang tersebar di Sumatra, Jawa, dan pulau dekat Kalimantan . meskipun secara global beberapa spesies kelelawar  dalam status least concern (LN) atau tidak terancam tapi Rhinolophus trifoliatus dilaporkan menurun dengan status near threatened (NT) atau menuju terancam. Pembukaan hutan dan perburuan satwa liar jika tidak dicegah akan meningkatkan zoonosis. Seperti kita diingatkan kembali akibat pembukaan hutan banyak warga terserang malaria dan kaki gajah akibat infeksi cacing filaria.

Rasanya tidak enak sekali berada di situasi pandemi ini. Kakak di masa emasnya terpaksa sekolah daring, suami dipotong penghasilannya, saya sendiri baru bisa pulang kampung halaman setelah setahun padahal biasanya kapanpun saya mau akan menengok orang tua.

Meskipun demikian, kabar baiknya emisi karbon berkurang lima persen di tahun 2020. Hal yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II. Tingkat polusi di beberapa Negara dilaporkan menurun bahkan pegunungan Himalaya bisa terlihat dari India sejak 30 tahun terakhir.

Apakah itu kabar menggembirakan? Ya, tentu saja. Bumi bisa bernapas dan hutan tak kelebihan beban menyerap polusi karbon. Namun, itu tidak cukup. Sebab, perubahan mendadak ini dikhawatirkan ilmuwan tidak akan berlangsung lama. Usai wabah berakhir, industri-industri akan menggenjot ketertinggalan dan negara-negara akan berpacu membangun kembali perekonomian mereka yang hancur lebur. Akibatnya pemanasan global terus mengancam. Laporan PBB, November 2019 menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan dalam Perjanjian Paris, emisi harus turun 7,6 persen per tahun hingga 10 tahun berikutnya.

Setengah Abad Kemudian…

Tahun 2071, jika aku dianggap sebagai generasi pertama itu artinya aku sudah memiliki generasi ketiga atau cucu. Inilah yang kerap dijargonkan, bumi , air, dan segala kekayaan sumberdaya alam merupakan warisan untuk anak cucu. Tahun 2021 berdasarkan hitungan earth overshoot day, Indonesia jatuh pada 18 Desember 2021. Artinya setelah tanggal 18 Desember, kita memakai jatah anak cucu. Bagaimana jika ini terus berlanjut hingga 50 tahun mendatang. Bisa-bisa jatah untuk cucu sudah kita habiskan.

sumber: overshootday.org

Namun, adanya pandemi memberi napas untuk bumi. Berkat pandemi, banyak orang beralih ke gaya hidup ramah lingkungan, trend bersepeda meningkat, sehingga kemacetan berkurang, buangan karbonmonoksida menurun. Slogan #dirumahaja dulu membuatu urban farming menggeliat. Rumah-rumah nampak hijau yang berarti oksigen meningkat. Bekerja dari rumah menekan laju mobilitas di jalanan sehingga udara lebih bersih.

Sebagai orang tua yang baik tentu aku ingin memberikan warisan terbaik bukan bencana. Sungai-sungai mengalir jernih, ikan dan udang menjadi pemandangan lazim, tak ada sampah menggunung, pengolahan sampah sejak dari rumah, begitu juga limbah. Kota-kota berhutan bukan kota-kota berbeton, energi-energi terbarukan dari air, angin, maupun surya. Tak ada lagi hutan yang bolong-bolong hanya hijau di pinggir. Bumiku tak lagi menitikkan air mata. Lapizan ozon tak lagi bolong-bolong, emisi berhasil diturunkan.

Indonesia menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki opsi target emisi nol pada tahun 2070. Lalu apa yang bisa aku lakukan sekarang agar generasi mendatang tetap hidup berkelanjutan bukan memanen bencana?

Mengenalkan si kecil dengan pohon sejak dini (dokumentasi pribadi)

Sebagai seorang ibu, sering-sering mengajak jalan-jalan ke  alam adalah cara memupuk kecintaan terhadap bumi sejak dini. Bukan sekedar bersenang-senang tetapi juga dengan menyelipkan edukasi. Bahwa pohon merupakan penghasil oksigen dan penyerap bahan pencemar seperti karbonmonoksida. Jika pohon-pohon di hutan ditebang, kota-kota berbeton, bagaimana manusia bisa bernapas? Belum lagi terancam punahnya fauna yang sangat bermanfaat untuk menunjang kehidupan manusia dan menjaga ekosistem. Ketika hujan datang, air tak bisa diserap secara maksimal sehingga menggenang dimana-mana dan mengalirkan apa saja yang dilewatinya.

Bermain di sungai sebagai bagian dari alam (dokumentasi pribadi)

Manusia butuh oksigen untuk bernapas. Satu orang kira-kira membutuhkan dua pot tanaman untuk mencukupi kebutuhan oksigennya. Sejak kecil saya membuat si kecil akrab dengan tanaman. Setidaknya dengan melibatkan mereka menanam atau menyiram tanaman yang telah mereka tanam sebagai bentuk tanggung jawab.

Mengajak si kecil akrab dengan tanaman (dokumentasi pribadi)

 Masalah sampah tak kalah penting. Sedari rumah, sampah harus dipilah. Bagaimana sebagai seorang ibu rumah tangga aku mengajak anggota keluarga agar mulai bertanggung jawab. Sampah plastik yang bisa didaur ulang, sampah organic yang bisa dibuat kompos, hingga food waste dengan mengambil makanan secukupnya dan terbiasa menghabiskannya.

Kita hidup tidak sendiri. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama dan lingkungan. Salah satu cara agar 50 tahun lagi, generasi mendatang, hutan, bumi tetap ASRI terjaga dan Alam Sehat Lestari adalah dengan menanam pohon. Kumpulan pohon akan membentuk hutan yang merupakan sumber kehidupan. Namun, tidak semua dari kita memiliki lahan. Di antara solusinya yaitu adopsi pohon.

Menanam pohon untuk masa depan (dokumentasi Darma Legi)

Adopsi bibit pohon bisa menjadi kado dan jejak hijau kita di masa depan. Saat ini banyak lembaga yang memfasilitasi adopsi bibit pohon di antaranya yang diwadahi oleh Alam Sehat Lestari (ASRI). Adopsi bibit ASRI adalah sebuah cara untuk berpartisipasi dalam program reforestasi melalui dukungan untuk membeli bibit pohon asli Kalimantan, penanaman dan pemeliharaan hingga dua tahun. Banyaknya bibit pohon yang ditebar, maka hutan yang terdegradasi bisa kembali hijau dan memberikan manfaat kepada kita, satwa dan planet bumi.

Orangutan Kalimantan (sumber: alamsehatlestari.org)

Mengapa menanam pohon di Kalimantan bersama ASRI?

  1. Lebih murah

Biaya adopsi bibit termasuk penanaman dan dua tahun pemeliharaan melalui ASRI hanya 100 ribu rupiah.

  • Potensi karbon terserap lebih besar

Satu pohon besar bisa menyerap sekitar tiga atau empat ton karbon. Ini berarti kita mendukung target nol emisi dari pemerintah.

  • Menjaga keanekaragaman hayati (biodiversity)

Dalam satu hektar terdapat kurang lebih 30 spesies pohon di antaranya pohon asli Kalimantan (native species) dan mendukung ekosistem satwa liar endemic seperti orang utan dan burung enggang.

Setengah abad lagi, aku berharap generasi mendatang dengan bangga mengatakan bahwa Indonesia adalah paru-paru dunia, negeri untaian di zamrud khatulistiwa. Ketika dilihat dari citra satelit Kepulauan Indonesia adalah pulau yang hijau. Diriku, hutanku, dan bumiku saling memandang dan tersenyum.

Melalui momentum Hari Hutan Sedunia (21 Maret), Hari Bumi (22 April), dan ulang tahun ASRI (12 Juli) beserta hikmah pandemi untuk bumi mari kita berlomba-lomba memberikan kado hijau terbaik untuk hutan dan planet kita di masa mendatang.

Referensi dan bahan bacaan:

https://alamsehatlestari.org/adopsi-bibit-detail

https://www.forestdigest.com/detail/1123/ktt-perubahan-iklim

https://interaktif.kompas.id/baca/perdagangan-satwa/

https://www.kompas.com/sains/read/2021/02/11/070300223/4-skenario-asal-mula-virus-corona-di-wuhan-menurut-who?page=all

https://www.kompas.com/sains/read/2020/09/11/160200323/ilmuwan-buktikan-pemanasan-global-membuat-virus-sulit-dibunuh?page=all

https://nationalgeographic.grid.id/read/132093480/wabah-covid-19-emisi-karbon-alami-penurunan-terbesar-sejak-pd-ii?page=all

https://travel.kompas.com/read/2020/04/09/210700327/kabar-gembira-di-tengah-pandemi-covid-19-pegunungan-himalaya-terlihat-dari

*Tulisan ini terpilih menjadi salah satu pemenang favorit dalam Kompetisi blog yang diadakan oleh Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI)

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.