Mengendalikan Hama dan Penyakit Melalui Tumpang Sari

tumpang sari jagung dan cabe
Tumpang sari jagung dan cabe (Dokumentasi pribadi)

Tuah pandemi Covid-19 telah memberikan ruang bagi bumi untuk kembali bernapas. Pencemaran lingkungan berkurang. Emisi dilaporkan turun lima persen tahun 2020. Trend gaya hidup ramah lingkungan pun menggeliat. Ini menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap bumi termasuk di bidang pertanian.

Pertanian tak bisa dipungkiri turut memberikan andil terhadap keberlanjutan bumi.  Sektor pertanian menyumbang lima persen dari total Gas Rumah kaca (GRK) nasional tahun 2000 dan meningkat menjadi tujuh persen pada 2005. Penggunaan pestisida “Pest Killing Agent” dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman turut berdampak terhadap pencemaran lingkungan.

Tragedi “Silent Spring” (1958) di Amerika Serikat yang diangkat oleh Rachel Carson menyadarkan efek pestisida yang merugikan udara, tanah, dan air. Pengendalian nyamuk di negara bagian Massachusetts dengan menggunakan pestisida DDT telah menimbulkan kerusakan cagar alam pribadinya.

Pestisida merupakan senyawa kimia yang umumnya beracun. Penyuluh Pertanian Ike Wahyuni mengatakan kurang lebih hanya 20 persen pestisida mengenai sasaran sedangkan 80 persen lainnya jatuh ke tanah. Pengaruh akumulasi residu pestisida pada tanah tersebut menurut Dr Otih Rositianam dari Kementerian Pertanian baru akan hilang dalam 2-3 tahun pencucian.

Setiap sumberdaya hayati memiliki peran dalam ekosistem masing-masing. Punahnya fauna termasuk mikroorganisme bisa mengancam keberlangsungan rantai makanan dan ekosistem itu sendiri yang kembali berujung merugikan manusia. World Health Organization (WHO) dan Program Lingkungan PBB memperkirakan ada 3 juta orang yang bekerja pada sektor pertanian di negara berkembang terkena racun pestisida. Pestisida telah menyebabkan lebih dari satu juta orang di dunia meninggal akibat kanker.

Penyebab kerusakan tanaman dapat diakibatkan dari faktor biotik atau Organisme Penganggu Tanaman (OPT) yang terdiri dari patogen, serangga, dan hewan hama, tumbuhan penganggu dan satwa liar termasuk hewan ternak. Sebagaimana usul Rachel bahwa untuk memerangi serangga harus dengan cara biologis dengan memahami organisme yang hendak dikendalikan.

Untuk meminimalkan penggunaan pestisida maupun insektisida, secara alami dapat menggunakan teknik tumpang sari. Tumpang sari atau intercropping merupakan penanaman lebih dari satu tanaman berumur genjah (lekas berbuah) dalam barisan tanaman yang teratur yang dilakukan secara bersamaan pada lahan yang sama dan terjadi interaksi antar tanaman.

Tumpang sari dinilai lebih meningkatkan kerentanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit dibanding sistem monokultur atau penanaman satu jenis tanaman. Sistem tumpang sari juga dapat digunakan sebagai alat konservasi lahan, meningkatkan kesuburan tanah, dan meningkatkan hasil tanaman. Adanya biodiversitas tinggi akan menyebabkan ekosistem menjadi lebih stabil sehingga begitu mendapat gangguan ekosistem akan segera memulihkan diri sesuai daya dukung lingkungan.

Metode tumpang sari akan meminimalkan biaya produksi karena tidak memerlukan tenaga besar untuk perawatan, pemupukan, dan pengolahan lahan karena semua dilakukan dalam satu waktu. Berdasarkan penelitian Fitriyani, dkk (2019) usaha tani tumpang sari antara brokoli dan pakcoy di Cianjur lebih menguntungkan dibandingkan monokultur brokoli atau pakcoy.

Pengalaman petani menunjukkan banyak tanaman cabai yang terserang penyakit virus kuning, trips, dan antraknosa saat ditanam dengan monokultur. Hal ini berbeda saat ditanam dengan sistem tumpang sari. Penelitian yang dilakukan oleh Fungsional POPT Ditlin Hortikultura, Retno Wikan (2018) menunjukkan bahwa tanaman jagung dapat menghasilkan senyawa tertentu untuk menolak kutu kebul.

Simbiosis mutualisme juga terjadi pada tumpang sari antara kedelai dan jagung. Daun kedelai yang rontok akan menjadi humus dan menyuburkan jagung. Di sisi lain, tanaman jagung berfungsi sebagai pelindung kedelai dari hama. Begitu pula di sektor kehutanan, penelitian Syprianus Ceunfin, dkk (2017) menunjukkan bahwa tumpang sari tanaman jagung dan kedelai dibawah tegakan kayu putih sangat menguntungkan.

Dalam melakukan budidaya tumpang sari setidaknya perlu memperhatikan dua hal, yaitu: Pertama, jarak tanam. Jarak tanam yang terlalu rapat akan menyebabkan tanaman berkompetisi memperebutkan sumberdaya seperti hara, air maupun cahaya matahari. Sebaliknya, jarak tanam yang terlalu longgar dapat menurunkan hasil tanaman karena jumlah populasi tanaman per satuan luas lahan sangat sedikit. Kedua, pemilihan kombinasi tanaman. Kombinasi tanaman dan sistem pertanaman yang tepat akan menghasilkan simbiosis mutualisme. Kombinasi tanaman serealia dengan tanaman legum dianggap terbaik karena kompetisi antar bagian tanaman dalam hal memperoleh sinar matahari dan unsur hara relatif sangat kecil.

Tema “Restore Our Earth” pada peringatan hari bumi tahun 2021 semoga menjadi titik balik bagi kita semua untuk menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan tidak hanya di bidang agrikultur tapi dalam bidang apapun. Jangan sampai begitu pandemi berlalu, bumi kita kembali menanggung beban untuk penggenjotan akibat mengejar pembangunan ekonomi.

Referensi dan bahan bacaan:

Inventarisasi Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Pertanian dan Opsi Mitigasinya dengan Pendekatan Marginal Abatement Cost

Laporan Resmi Praktek Umum Pengelolaan Hutan Tanaman Lestari. Rina Tri Handayani. 2009. Bab Vi dan Bab VIII

(Penilaian Kompetisi dan Keuntungan Hasil Tumpangsari Jagung Kedelai di Bawah Tegakan Kayu Putih. Syprianus Ceunfin a, Djoko Prajitno b, Priyono Suryanto c, Eka Tarwaca Susila Putra)

Rachel Carson dan Pengendalian Pestisida di Amerika Serikat

Savana Cendana 2 (1) 1-3 (2017). Jurnal Pertanian Konservasi Lahan Kering. International Standard of Serial Number 2477-7927 S. Ceunfin et al. / Savana Cendana 2 (1) 1–3 1.

Strategi Menurunkan Kadar Gas Rumah Kaca (GRK) Sebagai Dampak Kegiatan Pertanian

*Tulisan ini terpilih menjadi juara III dalam kompetisi menulis yang diselenggarakan @agreeculture.id dan sudah ditayangkan di laman agreeculture.id

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.