Kain “Jarik”, Gendongan Andalan Saat Walking

Halo,

Bu-ibu, ada yang mengandalkan kain jarik juga buat menggendong si kecil sehari-hari? Sebagai informasi, kalau ditempat asalku Klaten, untuk membedakan kain untuk melilit tubuh yang masih dipakai simbah-simbah disana dengan yang digunakan untuk menggendong adalah sebutannya. Kalau yang dipakai sehari-hari itu disebut jarik, sementara yang digunakan untuk menggendong itu lendang bukan selendang ya. Karena kalau selendang lebih kecil lagi ukurannya dan digunakan sebagai pelengkap berbusana atau piranti menari.

Selain itu motif jarik dan lendang berbeda. Jarik warna umumnya coklat – kecoklatan bisa juga putih bercorak. Kalau lendang umumnya warnanya lebih variatif dan cerah dari hijau, merah, biru dengan gambar motif bunga-bunga dan di kedua sisinya bergaris-garis. Sehingga, secara umum lendang disebut jarik. Ukurannya hampir sama untuk semua jarik yaitu kurang lebih 1 meter x 2,5 meter bisa lebih pendek. Kalau di Bandung, jarik ini dikenal dengan nama samping. Karena Kakak dan Abang besar di Bandung sehingga sehari-hari menyebutnya dengan samping. Tapi untuk selanjutnya aku akan menggunakan istilah jarik saja ya karena sudah umum dan lebih familiar. 

Pertama kali menggunakan jarik aku merasa ribet juga. Apalagi menggendong bayi yang baru beberapa bulan dan yang sudah beranjak setengah tahun ternyata berbeda. Untuk bayi yang baru lahir, agak dibelit-belit. Kalau di rumah aku dibantu ibu menggendong. Nah, lucunya waktu si kecil berumur satu minggu dan harus ke bidan untuk imunisasi. Dari rumah sebenarnya aku sudah was-was bagaimana nanti kalau jarik harus dilepas dan aku gak bisa memakainya lagi? Benar saja, jarik pun harus dibuka karena bayi harus ditimbang dulu sebelum diimunisasi. Dalam hati aku cengar-cengir karena berpikir bagaimana membenarkan gendongan nanti. Setelah selesai imunisasi, aku pun segera membopong bayi bukan menggendong. Aku pun beralasan gendongannya dibenerin di luar tapi bidan mungkin tahu alibiku. Akhirnya ia membantuku menggendong sambil berujar setengah bercanda, “Punya anak kok ga bisa nggendong?” 

Cara menggendong bayi yang masih mungil ini memang agak ribet dan terkesan aneh bagi orang Bandung. Malah aku pernah ditanya gara-gara dia melihat cara menggendong yang baginya tidak lazim, “bisa nggendong ga sih?” Kalau menurut bidan yang membantuku, alasan dibelit-belit adalah agar bayi merasa hangat dan aman saat digendong/tidak jatuh atau merosot. Nah, ketika sudah beranjak enam bulan atau sekiranya sudah cukup cara menggendong berbeda lagi. Inilah cara menggendong yang umum seperti yang biasa kita lihat. 

Terlepas dari semua itu, setelah terbiasa dan membandingkan dengan berbagai macam gendongan, aku paling nyaman dengan jarik ini. Mau acara santai, main hingga ke kondangan. Setidaknya tiga alasanku mengandalkan jarik untuk menggendong di antaranya: 

1. Praktis/Simple

Menggunakan kain jarik sangat sederhana. Bisa ditarik-tarik sesuai tubuh anak. Berbeda dengan gendongan modern, terkadang ukurannya sudah ada batasnya. Untuk perawakanku yang kecil, bayi jadi suka merosot. Malah kasihan jadi ga nyaman. Nah, tinggal menyesuaikan, jika mau jalan tinggal dikencangkan kalau mau istirahat tinggal dikendorkan. 

2. Multifungsi

Ketika bayi, jarik selain digunakan untuk menggendong bisa juga digunakan untuk membedong bayi. Bedong bayi ini alasan utamanya untuk menghangatkan bayi ya. Karena bayi yang terbiasa di dalam kandungan ibu harus bisa menyesuaikan dengan sekitar begitu lahir. Kalau untuk meluruskan kaki bayi, itu mitos kalau menurutku. Tapi, bukan menjustifikasi, aku kembalikan ke ibu-ibu dech. Selain membedong, saat sudah besar dan sedang jalan-jalan bisa juga digunakan sebagai alas duduk. Tapi lihat-lihat juga yang mau dialasin yah hehe… 

3. Melestarikan warisan leluhur

Jarik layaknya batik memang sudah terkenal sebagai warisan nenek moyang. Sudah sepantasnya kita sebagai generasi harus mengenal dan bangga kan ya. Saat ke pusat perbelanjaan atau ke kota pun, aku pede-pede aja menggunakan jarik ini. Tapi semua itu balik lagi ke ibu-ibu ya. Merasa nyaman yang mana? Aku pun sudah mencoba berbagai macam gendongan tapi demi kenyamanan ibu dan anak aku pilih jarik. Kalau teman pejalan lebih nyaman yang mana? 


Happy walking^^

*Tulisan ini sudah dipublikasikan di blog pribadi yang lain pada Selasa, 22 Mei 2018

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.