Menyisir Jejak Kesuburan – Candi Barong

Holiday season…! Saatnya pulang ke kampung halaman. Selain melepas rindu dengan sanak saudara, moment ini berarti kami akan melakukan perjalanan. Menyambangi surga-surga tersembunyi di daerah.

Alangkah beruntungnya aku memiliki tanah kelahiran Klaten. Kabupaten yang diapit dua kota tujuan wisata, Yogyakarta dan Solo. Kota yang seakan tiada habisnya akan kekayaan wisatanya baik alam, budaya maupun atraksi buatan manusia.

Hari itu, kami ingin mencari tempat wisata yang dekat dari rumah. Rencananya kami ingin mengejar sunset di Candi Ijo. Namun, berhubung waktu semakin sore atas rekomendasi dari bapak pemilik warung di pinggir jalan, kami singgah di Candi Barong.

Candi Barong ini padahal lokasinya tak terlalu jauh dari Candi Prambanan, tapi sebagai penduduk lokal aku malah baru mengetahuinya termasuk mendengar namanya. *kemana aja ya 😀


Candi Perlambang Kesuburan

Candi Hindu ini menghadap ke arah terbenamnya matahari. Diperkirakan dibangun antara abad 8 dan 9 dengan nama awalnya Candi Suragedug. Pemandangannya ladang dan bukit yang tandus. Pemukiman penduduk pun jarang di sini. Waktu kami menyusuri jalanan rasanya kami malah mau masuk ke hutan yang didominasi tanaman jati yang meranggas. Lahan jati kerap diidentikkan dengan tanah yang berbatu sehingga kurang cocok untuk pertanian.


Konon, kondisi geografis ini yang mendasari pembangunan candi. Sebuah candi yang digunakan untuk pemujaan memohon kesuburan pada Dewa Wishnu dan Dewi Laksmi. Keduanya merupakan pasangan, Dewa Wishnu merupakan pemelihara dan Dewi Sri adalah simbol kesuburan itu sendiri. Karenanya, Candi Barong merupakan perlambang kesuburan. Terkait nama Barong diambil dari arca barong atau kala yang ada di sekeliling candi. Barong dipercaya perwujudan singa atau beruang. Bakhruang/baruang dalam Bahasa Kawi yang merupakan simbol kebaikan atau kemenangan.

Fakta: Bernama awal Candi Suragedug, tapi karena banyak hiasan barong disekeliling candi membuat lebih tenar dengan Candi Barong.

Kalau aku tafsirkan sederhana, kondisi tanah yang sulit ditanami, gersang, berbatu, dan sulit air sebagai ciri kawasan karst menyebabkan masyarakat hidup susah. Untuk mengatasi kehidupan tersebut penduduk membangun candi untuk memohon kepada Yang Kuasa agar dikarunia tanah yang subur. Kesuburan tanah membuat masyarakat bisa merasakan hasil panen dan hidup sejahtera yang berarti kemenangan. Agar kesuburan dan kemenangan senantiasa terjaga maka mereka memohon kepada sang dewa pemelihara. Tentu saja antropolog lebih mengetahui detailnya.

Bertandang ke sini artinya kita belajar sejarah budaya dengan bersentuhan langsung. Kadang belajar sejarah budaya melalui buku bersifat monoton dan membosankan. Ke situs aslinya semua lebih nyantol dan have fun. Kalau kita happy bukankah lebih banyak yang bisa kita serap? Apalagi anak-anak. Di masa golden age atau balita, kaadang sebagian orang tua beranggapan ngapain mengajak mereka ke tempat “aneh-aneh” toh mereka belum mengerti. Eitsss… jangan salah ya, justru di umur inilah mereka mulai mengeksplorasi alam di sekitar yang mereka lihat. Makanya, aku pun tak segan mengajak mereka ke manapun. Karena setiap tempat baik alam, situs, buatan, event merupakan sarana pembelajaran bagi anak. Apalagi tantangan era saat ini lebih “wow” kan, kita sebagai orang tua juga harus dituntut “lebih”.


Sunset Instgramable

Ini bonusnya.Kompleks candi di Bukit Batur Agung tidak terlalu luas. Untuk sampai ke candi utama harus berjalan kaki terlebih dahulu melewati taman dan pelataran lalu naik tangga. Dan lihatlah mentari yang akan ke peraduan itu. Cantik sekali bukan. “Seperti di film-film!” kataku pada suami yang mengabadikan lewat bidikannya.

Terlalu susah mendeskripsikannya dengan kata-kata. Saking indahnya, mata terpaku, geming menyaksikan surya perlahan meninggalkan pohon jati yang disinarinya.  Cahaya keemasan pun mulai menimpa bangunan candi yang reruntuhannya ditemukan tahun 1913 oleh orang Belanda. Nun kejauhan di sisi utara, Merapi pun tak kalah gagahnya. Pesona yang tiada tara.

Sunset atau sunrise menjadi fenomena alam yang mungkin paling dicari traveler atau pemburu fotografi. Bintang terdekat dengan bumi ini selalu menarik.  Walau malam berganti pagi dan siang berganti malam setiap hari, tapi matahari selalu mempunyai sisi berbeda di mana ia dipandang.

Dari puncak-puncak gunung kita rela menembus dinginnya pagi-pagi buta untuk sunrise tercantik. Di tepi-tepi pantai, diiringi deburan ombak kita menanti matahari tenggelam di batas cakrawala. Tentunya dengan faktor keberuntungan juga sebab kadang cuaca tak bersahabat atau awan yang menghalangi sang primadona fotografer.

Kalau tidak ada waktu ke Parangtritis, Candi Barong yang terletak di atas salah satu bukit pegunungan kidul ini bisa menjadi alternatif pecinta sunset.

Kompleks ini masih relatif sepi pengunjung, mungkin karena letaknya yang di atas bukit. Tersembunyi atau mblusuk menembus pepohonan jati di kiri kanan jalan. Tanpa penunjuk arah mungkin tak akan ada yang mengira terdapat candi di lokasi seperti ini.

Tak jauh dari lokasi ini terdapat reruntuhan candi yang katanya akan segera dibangun. Oh iya, dari sini kita bisa melihat tebing breksi yang sedang tenar dengan sunset-nya itu juga lho.

Tips: Berkunjung menjelang senja (bagian akhir perjalanan setelah mengunjungi destinasi lain). Kalau siang hari sebaiknya bawa topi atau payung untuk melindungi dari sengatan matahari. Lebih baik bawa air minum atau cemilan/bekal, warung jauh.

Mau Ke sini?
Tertarik ke sini, jalannya sudah beraspal. Baiknya memakai kendaraan pribadi. Bawa bekal asyik juga karena terdapat beberapa pendopo untuk kita beristirahat. HTM-nya sangat terjangkau hanya 2.000 rupiah saja.

Kalau dari arah Solo belok kiri di gapura perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tinggal ikuti saja jalan tersebut sampai menanjak bukit. Setelah sampai di Abhyagiri kurang lebih satu kilometer di sebelah kanan jalan merupakan lokasi Candi Barong. Tepatnya di Dukuh Candisari, Sambirejo, Prambanan, Sleman Yogyakarta.

Yuk, abadikan sunset versi kamu dan bagikan kisah perjalanan kamu juga ya J

*Foto-foto dokumen pribadi @chidarmadi 

*Artikel ini sudah pernah dipublikasikan di blog pribadi penulis yang lain pada 7 Januari 2018

2 pemikiran pada “Menyisir Jejak Kesuburan – Candi Barong

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.