Mitigasi Perubahan Iklim dengan Tanaman Rumahan

Halo Green Buddies,

Sepuluh tahun yang lalu, saat aku masih menjadi mahasiswa, aku termasuk orang yang tidak percaya adanya perubahan iklim. Oleh para climate strikes sekarang telah disepakati menjadi krisis iklim. Bagiku, pemanasan global berlangsung secara alami. Ada atau tidak adanya tindakan manusia, suhu bumi akan naik.

Saat itu, aku berpikir, ini hanyalah strategi Amerika Serikat (entah mengapa Amerika Serikat menjadi kambing hitam :D) untuk menjual produk-produk berlabel “hijau”. Ini asumsi yang sangat menyesatkan yang entah aku peroleh darimana saat itu. Nyatanya, Amerika Serikat menjadi ganjalan dalam implementasi Protokol Kyoto. Negara adidaya tersebut enggan meratifikasi Protokol Kyoto.

Protokol Kyoto gampangnya merupakan persetujuan Negara-negara di dunia untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) agar tidak mengganggu sistem iklim bumi yang merupakan hasil CoP (Conference of Parties) ketiga tahun 1997. GRK yang disepakati dalam Protokol Kyoto meliputi Karbondioksida (CO2), Metana (CH4), Nitrousoksida (N2O), Hidroflourokarbon (HFCs), Perfluorokarbon (PFCs), Sulphur heksafluorida (SF6) yang terlampir dalam ANNEX A. Saat itu, dikutip dari wikipedia.org adanya protokol ini diharapkan dapat mengurangi rata-rata cuaca global 0,02 hingga 0,28 °C pada tahun 2050.

Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang kesepakatan ini, aku pernah mengulas buku karya Daniel Murdiyarso di Mengenal Protokol Kyoto.

Dampak Perubahan Iklim

Iklim berbeda dengan cuaca. Sebab, berbicara iklim artinya berbicara cuaca dalam jangka panjang dalam jangkauan yang luas. Sementara cuaca, bersifat lokal dan dalam jangka pendek.

Indonesia memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan kemarau yang diakibatkan oleh pergerakan angin muson barat dan timur. Saya masih ingat betul saat belajar IPS sewaktu SD, musim penghujan terjadi bulan Oktober sampai Maret dan musim kemarau terjadi April sampai September. Namun belakangan ini, rasanya bulan tersebut tak lagi bisa jadi patokan.

Orang tuaku merupakan petani di kampung. Biasanya para petani mengandalkan musim untuk menanam. Saat musim hujan akan tiba biasanya akan disambut dengan menanam padi. Saat menjelang kemarau akan berganti jagung atau tanaman palawija lainnya. Akan tetapi, pergeseran musim membuat tanaman jagung menjadi busuk karena kebanjiran. Hujan masih saja turun meski harusnya sudah kemarau. Kelebihan air juga membuat tanaman rentan hama dan penyakit sehingga kualitas produksinya menurun. Petani merugi.

Bencana alam seperti banjir menjadi lebih sering terdengar termasuk di negara-negara Barat. Namun tentu saja, tidak semua terjadi akibat perubahan iklim. Daniel Murdiyarso dalam bukunya menyebutkan bahwa variabilitas iklim musiman (musim hujan dan kemarau yang berubah mendadak), tahunan (musim kemarau atau hujan yang berubah periodisitasnya), dan dekadal (kejadian ekstrem seperti El Nino atau La Nina), tidak temasuk dalam kategori perubahan iklim. Karenanya, kita harus bisa menyikapi penyebabnya karena bisa saja banjir terjadi akibat saluran air tersumbat sehingga terjadi genangan.

Aktivitas manusia melepas GRK ke atmosfer telah menghangatkan suhu rata-rata Bumi sebanyak 1,1 derajat Celcius sejak awal revolusi industri pada akhir abad ke-18. Merujuk situs dw.com, tahun 2015, pemimpin dunia melalui Perjanjian Paris sebagai hasil CoP 21 berjanji memperlambat laju pemanasan global di bawah 2 derajat Celcius, atau paling ideal 1,5 derajat Celcius. Namun saat ini menurut lembaga Jerman, Climate Action Tracker dunia sedang mengarah pada level kenaikan sebesar 3 derajat Celcius.

Akibat krisis iklim telah nyata di depan mata kita. Sayangnya, Indonesia menempati urutan pertama negara yang tidak mempercayai adanya perubahan iklim yang terungkap dalam survei YouGov-Cambridge Globalism Project 2019 (tirto.id).

Sudah waktunya melalui momen Sumpah Pemuda ini #MudaMudiBumi Indonesia mulai bergerak menyusul jejak Greta Thunberg. Seorang climate strike yang masih sangat muda dari Swedia. Dia menganggap orang-orang pejabat hanya berbicara tanpa solusi maupun tindakan. Setiap Jumat, ia bersama pejuang iklimnya melakukan aksi mogok sekolah. Pecan ini sudah memasuki minggu ke-167. Di usia remajanya, ia bisa menggerakkan massa agar pemerintah lebih peduli terhadap Perubahan Iklim hingga isu ini menjadi isu populer di Eropa dan merembes ke seluruh dunia.

Jika masih bingung terkait perubahan iklim aku pernah menulis “Sebuah Pengantar Mengenai Perubahan Iklim“.

Mitigasi Perubahan Iklim Lewat Berkebun

Aku bukan Greta Thunberg. Usiaku juga tak lagi belasan. Tapi bukan berarti lantas aku diam saja menghadapi fenomena ini. Belakangan ini, aku sudah melakukan komitmen dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim dengan hal-hal sederhana yang bisa dilakukan ibu rumah tangga seperti dengan menekuni hobi berkebun.

Penyumbang GRK terbesar adalah karbon sebesar 60 persen yang dipicu oleh pembakaran bahan bakar fosil dengan sumber tebesar berasal dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas. Semua dari kita pun memanfaatkan seperti listrik yang kita gunakan sumber energi utamanya masih berasal dari batubara, kendaraan bermesin pun masih mengandalkan bahan bakar fosil. Namun, tidak usah jauh-jauh, karena saat kita bernapas pun mengeluarkan karbondioksida. Jadi setidaknya, kita harus bertanggung jawab dengan pelepasan karbon sendiri #UntukmuBumiku.

Kampanye menanam pohon seringkali dikaitkan dengan mitigasi perubahan iklim. Sebab, hutan secara global mampu menyerap 20 persen emisi karbon. Secara alami tanaman membutuhkan karbondioksida untuk melakukan fotosintesis. Semakin besar tanaman dan semakin lebar daun tentu saja penyerapan karbonnya lebih besar. Namun, tidak semua memiliki lahan untuk menanam pohon.

Pandemi Corona sejak awal tahun 2020 seakan menjadi momentum masyarakat untuk urban farming dan vertical garden. Keterbatasan lahan di perkotaan tak lagi menjadi soal. Banyak orang berlomba-lomba berburu tanaman hias. Berbagai varietas muncul. Harga pun melambung. Namun, seharusnya trend ini harus menjadi gaya hidup karena berkebun nyatanya dapat membantu mencegah pemanasan global setidaknya dari rumah sendiri. Inilah saatnya #TimeforActionIndonesia untuk mencegah perubahan iklim dari rumah melalui 3M, mulai dari yang terkecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang.

Tanaman hias tak hanya berfungsi sebagai pemercantik ruangan. Ada beberapa jenis tanaman hias yang merupakan pembersih alami polutan dan bisa melepaskan oksigen di malam hari dan menyerap karbondioksida. Tanaman hias ini melakukan jenis fotosintesis yang disebut Crassulacean Acid Metabolism (CAM). Di antara tanaman hias yang mampu menyerap karbon yang ada di kebunku:

Lidah Buaya

Awalnya aku mengenal tanaman ini untuk melebatkan rambut dan menghilangkan ketombe secara alami. Aloe vera ini juga dapat digunakan sebagai pembersih wajah. Saat merantau di Kalimantan, ternyata tanaman ini bisa dibuat makanan jelly. Saat anak sekolah, dari tugas belajarnya aku baru tahu, kalau tanaman hias satu ini juga berguna sebagai penyembuh luka.

Tidak cukup disitu, sukulen yang gampang dibudidayakan ini dapat membantu kita mengurangi jejak karbon. Apabila ada anggota keluarga yang merokok, Aloe vera ini juga mampu menyerap karbonmonoksida yang dihasilkan dari asap rokok. Selain itu, jika umumnya tanaman mengeluarkan karbondioksida pada malam hari maka lidah buaya dapat menyerap karbondioksida. Tanaman ini juga dapat menghilangkan racun formaldehyde yang dapat berasal dari furniture maupun pewangi ruangan.

Lili Paris

Bunga bernama latin ini Chlorophytum comosum paling banyak ditemui tergantung di langit-langit teras rumah maupun di taman-taman pinggir jalan. Di sebut spider plant karena kelompok tanaman ini membentuk kaki laba-laba.

Lili Paris dapat membersihkan polutan formaldehyde  dan karbonmonoksida. Sehingga, tanaman ini cocok untuk menghilangkan toksik yang terakumulasi di dapur. Penelitian NASA dalam laman greeners.co menyebutkan bahwa jika Spider Plant diletakkan dalam ruangan tertutup selama 24 jam, kemudian diisi oleh 120 ppm CO dan 50 ppm Nitrogen Oksida (NO2) maka tanaman ini akan menghilangkan 96% CO dan 99% NO2.  Yuk, menanam spider plant!

Lidah Mertua

Dulu sewaktu kecil, tanaman ini banyak dijumpai di pinggir-pinggir kali. Malah saat itu kami menganggapnya sebagai sarang ular. Sebab, tanaman ini bergerombol dan bercaknya mirip ular. Karena ada mirip-miripnya dengan ular tanaman ini disebut juga snake plant.

Di perkotaan tanaman ini menjadi tanaman hias. Pertama agak aneh juga karena di kampung dulu rasanya dianggap biasa saja. Bukan sekedar tanaman hias, lidah mertua ini mampu menyerap gas karbonmonoksida dalam jumlah besar. Sansivera juga memiliki kemampuan menyerap gas karbondioksida (CO2) yang berlebihan pada malam hari dan mengubahnya menjadi oksigen. Tanaman ini juga mampu menyaring racun seperti benzena, trikloroetilen, xilena, dan formaldehida(suara.com).

Tentu saja masih banyak nama tumbuhan lain seperti palem gading, sirih gading, anggrek dendrobilum dan lainnya. The Foliage for Clean Air Council menyarankan untuk menghadirkan minimal dua pot tanaman yang efektif menyerap polutan untuk ruangan 30,48 m2(kompas.com). Jika setiap rumah di Indonesia memiliki minimal pot tanaman, tentu saja ini akan sangat membantu pemerintah mewujudkan target Net-Zero Emission (NZE) tahun 2060 mendatang. Sebab, bumi tempat kita tinggal bersama bukan hanya milik pemerintah, swasta maupun LSM. Karenanya, sebagai individu kita juga harus ikut berkontribusi agar bumi tidak semakin panas dengan melestarikan dan menghijaukan lingkungan dimulai dari sekitar. Ohya, saya juga sudah menuliskan komitmen mendukung NZE di Ini Komitmen Saya Mengurangi Jejak Karbon.

“Dengan mengetahui peran tanaman dalam upaya mitigasi perubahan iklim, saya bersumpah akan terus menanam lebih banyak lagi!”

Tanaman apa nih yang sudah ada di rumah kamu?

Referensi:

8 Tanaman Dalam Ruangan yang Dapat Menghasilkan Oksigen (kompas.com)

5 Manfaat Lidah Mertua, Bantu Menyerap Polusi Udara hingga Pembasmi Kanker (suara.com)

It’s Time for COP26. Here Where We Stand (The New York Times)

Kenaikan suhu bumi Lampaui Batas Aman pada 2030 (dw.com)

Protokol Kyoto, (wikipedia.org)

Protokol Kyoto dan Indonesia yang Abai terhadap Masalah Lingkungan (tirto.id)

Spider plant, Tanaman Digantung Toksik Diserap (greeners.co)

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.