Mengenal Flora Gunung Gede Melalui Novel “Sarongge”

Cover Sarongge (Sumber: Dokumentasi pribadi)
Halaman depan Novel Sarongge (Dokumentasi pribadi)

Sarongge merupakan novel lama yang aku beli tanpa rekomendasi. Sewaktu jalan-jalan ke toko buku, ilustrasi pohon di cover buku ini memanggilku. Sebuah gambar dengan dominasi pohon berwarna hijau yang segera menjadi medan magnet bagi aku yang berminat pada lingkungan. Judulnya pun membuat aku bertanya-tanya, apa itu Sarongge?

Tak ada blurb layaknya novel umumnya di bagian belakang buku karya Tosca Santosa ini. Gantinya, ada empat kutipan kesan dari pembaca di sana. Tak main-main. Ada nama novelis Ayu Utami yang tenar dengan “Bilangan Fu”-nya, Dosen Universitas Indonesia Faisal Basri (aku familiar karena beliau sering muncul di televisi, semoga aku tidak salah orang), ada pekerja seni Ine Febriyanti yang sudah pula kudengar namanya, dan Suzy Hutomo, seorang pengusaha dan pemerhati lingkungan.

Dari situ aku menyimpulkan novel yang terbit pertama tahun 2012 ini bukan novel biasa.

Sinopsis

Husin dan Karen dipertemukan kembali dalam program adopsi pohon yang dilakukan Green Radio. Sebuah upaya penghutanan kembali lahan bekas Perhutani yang akan diserahterimakan kepada Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Lahan seluas 50 hektar itu digarap 200 warga sebagai kebun sayur.

Tak perlu waktu lama untuk Husin dan Karen segera akrab. Keduanya memiliki pandangan yang sama terhadap alam. Meskipun, tindakannya berbeda. Husin skala lokal bersifat tradisional sedangkan Karen lingkup global dengan sentuhan modernitas.

Husin memperjuangkan pertanian organik yang ramah lingkungan sementara Karen melanglang buana bersama organisasinya. Ia mendampingi warga-warga lokal terutama di wilayah timur Indonesia yang terancam terusir dari tanahnya sendiri oleh para corporate.

Membaca Sarongge

Novel setebal 370 halaman ini diantarkan oleh Ayu Utami. Novelis tersebut adalah teman penulis sewaktu menjadi wartawan. Dari Ayu, pembaca seolah diajak berkenalan lebih dekat dengan penulis. Dari kesehariannya sewaktu bekerja, idealismenya, hingga ranah personal.

Latar belakang ini membuat aku “mengangguk” saat membaca novel Sarongge yang serasa bukan membaca novel (benar tebakanku di awal, kalau ini bukan novel biasa), rasanya ini seperti feature. Sebuah karya jurnalistik yang humanis tapi tetap berdasarkan pada fakta. Tentu saja, karena setting maupun konflik-konflik yang ada di novel ini memang nyata dan bisa ditelusuri. Risetnya pun detail. Untuk setting waktunya diawali tahun 2008.

Sebagai lulusan kehutanan, aku semakin terkesan dengan novel ini. Kenapa? Karena dibagian awal setiap bab, pembaca akan diajak berkenalan dengan nama flora yang kebetulan ada atau disebut di chapter tersebut. Sebelumnya bahkan hingga sekarang, aku belum banyak membaca novel yang memberikan porsi lumayan banyak untuk tumbuhan seperti ini. 

Sebelumnya, aku pernah membaca karya Andrea Hirata dalam tetralogi Laskar Pelangi yang banyak memberikan nama latin pohon dalam ceritanya dan Orhan Pamuk penulis Turki pemenang nobel sastra tahun 2006 yang kerap juga menyebutkan nama-nama pepohonan dalam novel-novelnya. Namun, Tosca seperti mengajak pembaca belajar dendrologi (ilmu yang mempelajari pohon atau tumbuhan berkayu) dengan berbeda.

Flora lereng Gunung Gede yang disebut dalam buku ini, yaitu teter, puspa, rasamala, ki hujan, konyal, cecenut, jamuju, edelweiss, dan bubukuan. Teter merupakan tanaman pengusir hama secara alami. Puspa (Schima wallichii) bisa tahan hidup ratusan tahun. Rasamala (Altingia Exelsa) disebut rajanya pohon hutan. Ki hujan (Engelhardia spicata Lech) endemik asli hutan Indonesia. Konyal sangat cocok untuk penghilang haus dalam perjalanan di hutan. Cecenet atau ceplukan (Physalis angulata) mengandung zat antioksidan sangat tinggi. Jamuju (Dacrycarpus imbricatus Blume) sering juga disebut pohon ratu atau ki puteri. Edelweiss (Anaphalis javanica) sang bunga abadi. Bubukuan (Strobilanthes cernua Blume) sepanjang hidupnya hanya berbunga sekali lalu mati.

Selain itu, disebut juga flora dimana Karen singgah saat melakukan misi pelayaran bersama Kesatria Pelangi, organisasi yang diikutinya. Ada rumput laut (Euchema cottini) sumber pendapatan nelayan Pulau Rote. Cendana (Santalum album), flora endemic Sumba, sebuah kayu yang saking istimewanya bukan dijual dalam bentuk balok maupun gelondongan tapi per kilogram. Anggrek Larat yang mulanya ditemukan di gugus Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara. Anggrek yang mengilhami orang untuk membuat persilangannya karena kecantikan warna ungunya yang mencolok dan bunganya tahan lama. Ada pula Sagu dan Hipere, tanaman pangan khas Papua asli Indonesia.

Dalam novel ini, pembaca juga diajak menyelami tokoh Karen, seorang aktivis lingkungan sejati. Lewat tokoh utama perempuan tersebut, pembaca dibuat mengerti begitulah kehidupan seorang aktivis. Ia rela meninggalkan kehidupan pribadi demi kepentingan manusia yang umumnya bergantung terhadap alam. “Perhatiannya tersita oleh hutan-hutan yang menyeretnya ke dunia antah berantah.” (halaman 6).

Lewat tokoh utama laki-laki, pembaca belajar mengenai sosok yang setia, tanggung jawab, idealis, dan tidak mengikuti tren. “Berbeda dengan kebanyakan alumni universitasnya yang antri cari lowongan kerja ke kota, Husin memilih bertani.” (halaman 8).

Sebuah ironi mengenai kesamaan minat memperjuangkan masyarakat terpinggirkan dengan alam yang mendekatkan sekaligus menjauhkan kedua tokoh ini. Meski bertema besar lingkungan bukan berarti novel ini kehilangan romansanya. Lewat tokoh Husin dan Karen, pembaca diajak belajar bagaimana keseharian pasangan aktivis lingkungan ini. Namun pada akhirnya, dalam novel ini seakan tersirat bahwa cinta adalah segalanya tapi bukan segala-segalanya, ada kepentingan yang harus diperjuangkan lebih besar.

Kelemahan Sekaligus Keunggulan

Sebagai lulusan kehutanan, ruang khusus untuk deskripsi flora sangat menarik karena menambah wawasan. Namun, sebagai pembaca biasa justru ini bisa sangat membosankan karena terlalu akademik. Mungkin akan lebih baik jika disisipkan dalam cerita mengingat ini adalah karya fiksi berupa novel. 

Seperti kesan Malika Amanda sebagai pembaca, “Awalnya agak bingung: ini novel kok banyak banget nama latin tumbuhan ya. Tapi makin lama makin merasa novel ini spesial…”.

Begitu juga dengan beberapa aktivitas Karen yang disampaikan lewat surat untuk menginformasikan kegiatannya kepada Husin seperti pembaca sedang membaca berita atau materi kuliah. Namun, kembali lagi sebagai pribadi aku suka karena sangat menambah wawasan.

Buku yang diterbitkan Dian Rakyat ini termasuk berat bagi yang tidak memiliki dasar kecintaan terhadap lingkungan tapi sebaliknya menjadi buku berbobot yang ingin dibaca berulang kali bagi pecinta alam.

Aku merekomendasikan novel ini buat Kalian yang tertarik dan mengikuti isu lingkungan. Buku ini kaya riset yang akan memperkaya dan memperdalam akar konflik masyarakat adat, pemerintah, perusahaan perkebunan, pertambangan, terhadap alam melalui sudut pandang penulis.

Terakhir aku searching, buku karya jurnalis yang memimpin KBR68H, TempoTV, dan Green Radio ini dicetak ulang dalam edisi Bahasa Inggris. Wow… ini membuktikan buku ini memang layak dibaca ya.

Semoga bermanfaat^^

Kalian tertarik membaca novel ini atau malah sudah membacanya, bagi juga kesannya di kolom komentar ya?

Artikel ini sebelumnya telah ditayangkan di Kompasiana.

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.