Dear Tomorrow #1 – Tentang Aku (Maudy Ayunda)

Halo Buddies,

Ini kedua kalinya aku membaca buku “Dear Tomorrow; Notes To My Future Self” karya Maudy Ayunda.

Bisa dikatakan siapa sih yang tidak kenal Maudy Ayunda. Dia yang makin “viral” usai pernikahannya yang sat set dengan Jessei Choi sama sekali tak terendus publik.

Aku sendiri mengenal Maudy melalui film “Perahu Kertas”. Film yang diadaptasi dari novel karya Dee Lestari. Ia berperan sebagai Kugy. Selain nge-fans sama sosok Kugy, cewek mungil dengan impiannya sebagai penulis dongeng, aku mulai kagum dengan sosok pemerannya.

Tak hanya bermain peran, di sini Maudy juga mengisi soundtrack, “Perahu Kertas”.

 

Perahu kertasku ‘kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya

Perahu kertas mengingatkanku
Betapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri

Hidupkan lagi mimpi-mimpi (cinta-cinta)
Cita-cita (cinta-cinta)
Yang lama kupendam sendiri
Berdua, ku bisa percaya

Ku bahagia
Kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada
Di antara miliaran manusia
Dan ku bisa
Dengan radarku
Menemukanmu

Tiada lagi yang mampu berdiri
Halangi rasaku, cintaku padamu

(Perahu Kertas, Ost. Perahu Kertas)

 

Gara-gara “Perahu Kertas” jadi terobsesi ingin melajukan perahu kertas di Pantai Ranca Buaya. Lucunya lupa ga bawa kertas, untungnya nemu kertas di pinggir jalan. Tak ada rotan akar pun jadi. Foto; Dokumentasi pribadi

 

Tentang Aku (Maudy)

Mengawali buku yang juga merupakan self talk Maudy ini, Maudy menulis tentang dirinya. Dia yang memiliki banyak versi. Dalam hal ini, menurut aku ya Maudy itu bisa dikenal sebagai artis, penyanyi, penulis, akademisi…

Namun, yang sedikit orang tahu kalau Maudy kecil merupakan seorang pemalu dan introvert. Ketika ada tamu ke rumahnya, ia memilih mojok untuk membaca. Ia juga pernah menjadi korban bully di sekolahnya karena fisiknya.

… I was shy and introverted.” – hal. ix

Maudy secara personal lebih suka menyebut dirinya sebagai seorang storyteller baik melalui musik, film, maupun tulisan. Ia memiliki passion yang “unik” yaitu suka belajar.

I can never recall a time when i disliked school.” – hal. Ix

Di bab pengantar “About Me” ini, aku salut dengan perubahan Maudy. Menurut aku meski tidak diceritakan ada peran Ibunya. Soalnya aku pernah membaca sebuah artikel tentang ibu Maudy yang dianggap berhasil mendidik anaknya. Ibunya bahkan rela memindahkan sekolah Maudy kecil. Tak sekedar memindahkan, ia juga bertanya kepada Maudy tentang sekolahnya. Jadi, Maudy dilibatkan dalam pemilihan sekolah barunya. Tidak asal memaksakan kehendak.

Maudy kemudian berhasil mengatasi ketakutannya tampil di depan orang banyak. Ia ikut teater, audisi, dsb. Dalam usia yang masih dini.

Sama seperti Maudy kecil, aku juga merasa pemalu, pendiam, dan introvert. Namun, aku baru bisa mengatasi ini ketika aku masuk kuliah. Kala itu, di masa orientasi kami belajar mengenai soft skill di antaranya sikap assertif dan kerja sama yang menuntut aku lebih open.

Dan, aku merasa itu sangat terlambat karena ada beberapa tahun potensi di masa remaja yang aku lewatkan. Kadang terlintas — Jika saja aku lahir di kota besar, jika saja aku lahir dari keluarga berpendidikan, jika saja ada yang mengarahkan, dll… –

Namun, aku bersyukur untuk perjalanan hidup ini.

Saat ini aku adalah seorang ibu, membaca kisah ini juga mengingatkan aku sebagai ibu harus peka melihat tumbuh kembang anak-anak. Saat mau masuk SD sekalipun aku mengajak dialog anakku. Aku punya pilihan sekolah tapi bagaimana agar anak aku juga enjoy, menikmati proses belajarnya, menjadikannya tumbuh “besar”. Akhirnya, dia memang memilih sesuai sekolah incaranku tapi dengan pilihan sendirinya usai aku berikan pertimbangan kelebihan dan kekurangan dengan beberapa sekolah.

Lewat “About Me” ini, Maudy juga menulis tentang apa yang tidak disukainya, apa yang disukainya, dan hal-hal yang membuatnya terus “hidup”.

Renungan tentang masa kecil, kesalahpahaman tentang dia, minuman favorit, hal yang disukai maupun tidak, menurut aku sangat membantu dalam mengenal diri kita.

Hal yang akan membantu menentukan tujuan hidup kita, apa yang harus kita kejar maupun lakukan.

Introduction

Sempat kesulitan mengartikan guilty as charged karena kemampuan Bahasa Inggris yang pas-pasan hehe…

Lantas searching di Google dan nemu dictionary.cambridge.org. Guilty as charged merupakan idiom. Artinya, maknanya tidak sesuai terjemahan per katanya.

Karena masih ga paham, aku WA ke teman yang jago Bahasa Inggris donk.

Kesimpulan aku atau bahasa gampangnya versi aku*(bisa dikoreksi kalau salah ya),

jadi guilty as charged maksudnya:

— Emangnya aku salah kalau kaya gini? —

Semoga bisa membantu ya kali aja ada yang kaya aku kepayahan mengartikan guilty as charged..

Ohya, kalau Manteman tertarik sama buku ini, sudah agak susah mendapatkannya karena bukan buku baru. Tapi, kalau Kalian ingin beli bisa klik di sini ya. Aku rekomendasikan Toga Mas karena terjamin keasliannya dan diskon seumur hidup. Ada bebas ongkie pula. Selalu beli yang original ya^^

Apakah kamu sudah mengenal diri kamu sendiri seperti Maudy Ayunda?

Review Dear Tomorrow ini bakal aku lanjut di postingan Dear Tomorrow #2 ya.

 

 

 

 

 

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.