Sunda to Java on The Lodaya Train (2)

Menyambung tulisan Parahyangan Scenery on The Lodaya Train, mari kembali menikmati perjalanan kereta api Lodaya. Kereta yang membawa penumpangnya dari Tanah Sunda nan mempesona ke Tanah Jawa yang tak kalah ciamik. Let’s having fun trip!

 

Jpeg

Lansekap Tanah Sunda (dok. pri)

Lansekap mulai berganti dari topografi pegunungan ke daerah yang datar, itu artinya perjalanan mulai meninggalkan Jawa bagian barat menuju Jawa bagian tengah. Sawah-sawah dengan sistem terasering akan mulai digantikan dengan hamparan sawah yang luas sejauh mata memandang. Dari sini, kita sudah meninggalkan jalur kereta di tepi jurang dengan pemandangan di bawah yang indah tapi bukan berarti tak ada lagi yang bisa dinikmati.

Jpeg

Bangunan tua tergerus waktu (dok. pri)

Bangunan-bangunan kuno yang mulai rapuh dimakan usia di sekitar stasiun kereta juga bisa menjadi bukti sudah lamanya sistem perkereta-apian di tanah Jawa. Jaringan kereta api pada awalnya dibangun oleh Pemerintahan Hindia Belanda untuk mengangkut hasil bumi dari tanam paksa. Jaringan pertama yang dibangun yaitu di Semarang yang dimulai pada tahun 1864, kemudian diteruskan Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya hingga terhubung sistem rel di Jawa tahun 1888. Jalur tersebut berkembang hingga sekarang dari satu jalur sekarang sudah double track untuk menambah perjalanan jumlah kereta.

Karena, masih dalam gegap gempita kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72, di sepanjang pemukiman yang dilalui masih banyak warna-warni bendera maupun umbul-umbul. Sebuah usia bangsa yang harusnya sudah matang. Indonesia terus berbenah dari sistem transportasi, infrastruktur namun utamanya adalah kesejahteraan rakyatnya yang adil dan makmur.

Jpeg

Salahsatu pabrik genteng (dok. pri)

Begitu kereta api memasuki wilayah Kebumen, mata penumpang akan dimanjakan dengan pabrik-pabrik tradisional pembuatan genteng. Genteng Sokka yang terkenal kualitasnya sebagai penutup atap rumah. Karena percaya akan kualitasnya ini bahkan bapak saya juga mempercayakan Genteng Sokka untuk melindungi penghuni rumah dari sengatan hujan dan panas, siang maupun malam hari. Mutu genteng yang awet ini dipercaya karena bahan baku tanah liat yang digunakan bagus.

Jpeg

Saluran irigasi peninggalan Belanda (dok. pri)

Pemandangan memang bisa dikatakan cukup monoton hingga menumbuk pada saluran irigasi peninggalan Belanda saat kereta akan mulai memasuki wilayah Yogyakarta. Masuk Yogyakarta berarti kita akan melewati Kali Kulon Progo yang bermuara di Laut Selatan. Kemudian perlahan akan masuk ke kota Yogya. Dari sini kita akan melihat Malioboro, tujuan banyak wisatawan ke Jogja.

Dari sini, saya mulai tidak konsentrasi pada perjalanan. Karena, saya akan berhenti di stasiun berikutnya, Klaten. Kami harus bersiap dengan dua krucil dan barang bawaan.

Okay, sampai ketemu di perjalanan berikutnya, ya 🙂

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

 

 

 

4 pemikiran pada “Sunda to Java on The Lodaya Train (2)

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.