Semangat Membangun Harapan Bersama Kampung Cidadap Berseri “Ecovillage” Astra Bandung Barat

KCB 1

Selepas asar di hari Jumat, 21 Desember 2018, saya, suami, dan duo krucil tiba di Kampung Cidadap Berseri (KCB) RW 12 Padalarang Jawa Barat. Sebelumnya, kami menempuh jarak sekitar 18 kilometer dari rumah kami yang berada Kota Bandung dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam dengan sepeda motor.

Meskipun, belum terdapat gapura KCB layaknya Kampung Berseri Astra (KBA) Pasirluyu Bandung yang bulan November lalu telah saya kunjungi, lokasi KCB tidak sulit ditemukan karena tidak jauh dari Jalan Raya Padalarang Bandung-Cianjur, yaitu jika dari arah Bandung belok kiri sebelum obyek wisata Situ Ciburuy atau di Jalan Andir Kepuh.

Sebuah balai-balai di pinggir Jalan Cidadap pas sebelum tanjakan yang terdapat spanduk bertuliskan Kampung Berseri Astra menjadi perhentian kami. Di balai tersebut terdapat beberapa bocah dan instruktur yang akan berlatih panjat tebing. Seorang pemuda menyambut kami. Paham dengan maksud kedatangan yang kami uraikan, dia langsung berinisiatif memanggil koordinator KCB di rumahnya.

Tak lama kemudian, Kang Anjar Zulfikar selaku Koordinator KCB tiba. Berjalan kaki, kami mulai menyusuri KCB sembari berbincang. Meski duo krucil yang masih balita bergantian melakukan drama dari merengek, minta gendong, tidak mau sama ayahnya, hingga ke kamar kecil; Kang Anjar tetap tersenyum dan sabar mendampingi kunjungan saya hingga selesai.

Semangat itu Bernama “Ecovillage” 

KCB 2

“Ecovillage” adalah tema besar Kampung Cidadap yang diusung berdasarkan empat pilar Kampung Berseri yaitu lingkungan bersih, keluarga sehat (kesehatan), masyarakat cerdas (pendidikan), dan insan produktif (kewirausahaan) menjadi bahan obrolan pertama kami. KCB diresmikan 6 Juni 2017 dan menjadi bagian dari 77 KBA yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ecovillage merupakan sebuah program yang menerapkan prinsip hijau dan mencintai lingkungan dalam segala kegiatannya, tidak hanya menjadi desa yang mencintai lingkungan, tetapi juga turut peka dan berkontribusi banyak dalam proses mewujudkan desa yang asri, hijau, dan bebas dari segala bentuk pencemaran, dengan berbagai kegiatan seperti menanam pohon, mengolah sampah, dan lain sebagainya (http://www.imtli.or.id).

Efisiensi sebagai kata kunci indikator ecovillage pun diterapkan di kampung ini. Di antaranya yang menjadi keunggulan adalah pengelolaan sampah dan upaya mengurangi pemanasan global serta memanfaatkan sumberdaya alam.

Canva KCB 1

Layaknya seorang guide, Kang Anjar kemudian membawa saya tour untuk mengenal lebih dekat dengan geliat semangat untuk membangun kampung ini menjadi lebih hijau dan maju.

Kebun Hidroponik

KCB 3

Daun bawang, cabe, selada, terong, aneka bunga seperti euphorbia, lidah buaya, dan bunga seribu bintang merupakan tanaman yang saya kenali. Tanaman tersebut tumbuh dalam polibag hitam berukuran besar, ada yang menggunakan drum bekas, dan dengan model vertical garden.

Hidroponik merupakan teknik menanam dengan media tanamnya bukan berupa tanah. Kang Anjar mengaku teknik ini dikenalkan oleh Astra. Bahwa ternyata menanam tidak hanya dapat dilakukan dengan tanah tapi dengan air, sekam, maupun sabut kelapa. “Tidak hanya mengenalkan, tapi pihak Astra juga membantu memberikan bibit sayuran kepada warga.”

Bercocok tanam secara hidroponik juga memiliki kelebihan dibanding menanam secara konvensial terutama terkait dengan minimnya dan kurang suburnya lahan. Waktu penyiraman juga terbantu karena Kampung Cidadap akan kesulitan air jika musim kemarau tiba sebab tanaman hidroponik tidak memerlukan intensitas penyiraman yang banyak dibanding dengan media tanah. Untuk mengantisipasi kesulitan air dibangun sumur bor yang merupakan bantuan Astra.

Canva KCB 2

Pengelolaan Sampah Domestik

a. Bank Sampah

KCB 4

Sampah selalu menjadi masalah klasik yang dikambinghitamkan sebagai sumber penyakit dan bencana. Sebagai penghasil sampah sudah seharusnya kita bertanggung jawab. Sampah yang dikelola dengan baik justru akan mendatangkan berkah.

Dengan semangat perubahan tersebut dan menuju kampung hijau dibentuk juga bank sampah. Bank sampah di KCB terdapat di dua lokasi yaitu bank sampah sementara yang berada di gudang sebelah PAUD dan bank sampah induk yang berada dalam satu lahan dengan pembuatan biomethagreen.

Sebelum ke bank sampah, sampah rumah tangga disortir terlebih dahulu dengan metode reduce (mengurangi menghasilkan sampah), reuse (menggunakan kembali sampah secara langsung), dan recycle (memilah dan mengelola sampah). Sampah yang masuk kategori recycle  dipilah menjadi organik dan non organik. Sampah organik diolah kembali menjadi pupuk sedangkan sampah non organik yang bernilai ekonomis disetorkan ke bank sampah dan untuk sampah residu yang tidak bisa diolah dan sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) menjadi tanggung jawab masing-masing untuk dimusnahkan atau dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

b. Biomethagreen

KCB 5

Biomethagreen merupakan suatu sistem pengelolaan sampah domestik dengan teknologi tepat guna yang tuntas, simpel, dan ramah lingkungan. Sampah organik yang bersumber dari rumah tangga, peternakan akan melalui proses fermentasi secara an aerob tanpa udara menjadi sesuatu yang bermanfaat berupa energi (biogas) dan pupuk cair.

Kelebihan konsep ini di antaranya tidak memerlukan pencacahan, pembalikan, dan pengayakan; tidak ada unsur kimia dalam pengelolaannya; tidak menimbulkan bau menyengat; dan tidak ada endapan limbah.

c. Composter

kolase 1

Kang Anjar juga menunjukkan saya composter berikut pupuk cair yang dihasilkan. Fungsi dari composter untuk membuat pupuk cair secara sederhana. Sampah-sampah sisa makanan yang dimasukkan ke drum khusus kemudian akan diberi larutan M4. Prosesnya memakan waktu dua sampai tiga minggu hingga menjadi pupuk cair. Pupuk kemudian akan menjadi hara bagi tanaman hidroponik.

Souvenir dari Bahan Baku Lokal

kolase 2

Tak hanya dari aspek pengelolaan sampah untuk lingkungan, kampung ecovillage Cidadap ini juga mengembangkan kerajinan tangan berbekal peralatan yang diberikan Astra seperti bor. Untuk bahan bakunya diambil dari kayu pohon pinus dan jambu batu yang menjadi salahsatu tanaman perkebunan warga.

Untuk kerajinan tangan berupa gantungan kunci ini lebih ditekankan sebagai upaya pemberdayaan perempuan agar dapat mengisi waktu luang menjadi lebih produktif dan bermanfaat. Sayang, souvenir yang ditunjukkan kepada saya masih setengah jadi.

Paud dan Posyandu

kolase 3

Dari lokasi pengelolaan sampah dan kebun hidroponik yang berdekatan, saya kemudian diajak ke Paud Melati II yang menyatu dengan Posyandu/Posbindu untuk lansia. Jaraknya sekitar satu kilometer jika harus berjalan kaki dan menanjak sehingga kami memutuskan menggunakan sepeda motor.

Sepanjang perjalanan, kampung bercat warna-warni cerah semakin membuat suasana semarak. Hampir setiap pekarangan rumah terdapat polibag tanaman. Kami melewati areal persawahan yang kebetulan sedang ditanami padi kemudian masuk ke areal perkampungan dan sampai di lokasi pembentukan generasi cerdas dan sehat sejak dini.

Di dekat Paud berjajar aneka tong sampah dan bangunan kosong yang digunakan sebagai bank sampah sementara. Tak boleh ketinggalan adalah tanaman hidroponik. Ada juga balai-balai yang bisa digunakan ibu-ibu sembari menunggu anaknya. Penempatan tempat sampah yang sudah disesuaikan jenisnya dan kebun ini bisa menjadi sarana anak belajar sejak dini tentang pengelolaan sampah maupun lingkungan.

 Panjat Tebing

kolase 4

Boleh jadi panjat tebing merupakan daya tarik kampung ini yang tidak dimiliki kampung lain. Berbatasan langsung dengan Gunung Hawu, sebagai bagian Karst Citatah yang terbentang sepanjang enam kilometer dari Tagog Apu hingga Rajamandala menyebabkan banyak pemuda menggemari olahraga ini. Aktivitas tersebut biasa dilakukan di Tebing 125.

Kalau tadi saat saya tiba, beberapa remaja sedang pemanasan, di penghujung kunjungan ini saya menyaksikan mereka mulai berlatih memanjat dinding hanya berpegangan pada batu-batu buatan. Pikiran saya langsung terlintas pada Asian Games 2018 lalu, setidaknya tiga medali emas disumbangkan melalui cabang olahraga (cabor) ini.

Sayang, potensi ini belum digarap maksimal. Saya sih membayangkan akan muncul Aries Susanti Rahayu atau Aspar baru dari Kampung Cidadap yang akan mengharumkan nama bangsa di dunia internasional.

Peta kasar KCB

Peta kasar kunjungan ke Kampung Cidadap “Ecovillage” Berseri Astra

Tantangan KCB “Ecovillage”

KCB 10

Dalam perbincangan selama menyusuri kampung, saya menangkap tantangan utama yang dihadapi KCB diumurnya yang baru setahun adalah masih minimnya kesadaran masyarakat. Diakui oleh Kang Anjar seringkali para koordinator sudah siap maju tapi menggerakan warga butuh effort. Namun, bukan berarti ia menyerah sebab banyak hal yang berubah menjadi lebih baik setelah Kampung Cidadap diresmikan menjadi KBA. Produktivitas warga tersalurkan di kebun hidroponik maupun pengelolaan sampah yang lebih modern. Untuk perempuan bisa lebih berdaya guna. Anak-anak muda juga terus menghidupkan kesenian lewat angklung. “Alhamdulillah, ya lebih asri lebih hijau, lebih maju.”

Selain itu, mata pencaharian utama warga adalah bertani tapi seringkali masyarakat dikaitkan dengan aktivitas penambangan illegal yang terus mengancam ekosistem Karst Citatah sebagai sebuah geopark. Beberapa warga yang tergiur dengan hasil yang cepat ikut menambang. Penambangan batu gamping ini semakin lama seakan semakin tak terkendali dan bisa saja akan menghabiskan kawasan kapur.

Karenanya menurut saya diperlukan:

  • Melibatkan masyarakat secara aktif mulai dari ide kegiatan dengan menampung setiap usulan yang kemudian disempurnakan dalam rembug warga. Partisipasi aktif dari warga akan meningkatkan sense of belonging atau rasa memiliki sehingga masyarakat akan bertanggung jawab dengan sukarela atas kesadarannya sendiri.
  • Masifnya kampanye lingkungan untuk terus membuka mindset bahwa menjaga lingkungan terutama kawasan karst yang langka itu sangat penting sebagai warisan terhadap anak cucu. Model kampanye bisa disesuaikan dengan karakteristik masyarakat yang cenderung dalam kegiatan seperti penanaman pohon, konservasi air, kerja bakti membersihkan lingkungan, dan sebagainya.
  • Alternatif sumber penghasilan lain. Pendapatan dari sektor pertanian seringkali dianggap tidak cukup menguntungkan karena bersifat musiman hanya bisa saat panen dan tidak cukup balik modal jika dihitung dengan biaya penanaman maupun pemeliharaan, perkebunan terkadang dianggap sebagai investasi yang lama. Agar dapur bisa ngebul setiap hari masyarakat dapat diajak untuk mengoptimalkan tumpang sari, memaksimalkan panen hidroponik, kewirausaahaan, pengenalan wisata minat khusus (geologi) di Gunung Hawu yang dikatakan mirip Natural Bridge di Virginia, Tebing 125 untuk panjat tebing maupun lokasi hammock, sebab wisata masif justru kadang berdampak kurang baik bagi lingkungan.
  • Mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja. Karena ada peternakan ayam daging yang dikelola warga dan terdapat penggilingan padi.
  • Pembentukan koperasi sehingga selagi menunggu panen tidak tergiur hasil instan. Warga bisa melakukan simpan pinjam yang tidak membebani dan tidak menjerat sehingga bisa menjadi solusi keuangan.
  • Mengaktifkan kembali koperasi unit desa yang membantu dari bahan produksi seperti pupuk untuk pertanian, pakan untuk peternakan, hingga bantuan pemasaran.
  • Pendampingan, pelatihan, dan fasilitas untuk menyalurkan bakat pemuda yang tertarik terhadap panjat tebing. Termasuk digelarnya kompetisi dari lokal hingga nasional bahkan internasional untuk mencari bibit unggul yang bisa ditarik ke nasional.

Canva KCB 3

Harapan Membangun Kampung Cidadap Berseri

KCB 12

Kampung ini konon dinamai Cidadap karena dahulunya banyak dijumpai pohon cidadap. Kayunya bisa digunakan untuk bangunan rumah. Daunnya bisa untuk mengompres saat demam. Pohon merupakan lambang kelestarian dan simbol kehidupan.

Memaknai hal tersebut, harapannya, dengan pendampingan dari swasta seperti melalui coorporate social responsibility (csr) dari Astra yang menjalankan salah satu filosofi catur dharma untuk bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara bisa menjadi jalan keluar agar masyarakat tidak selalu mengkambinghitamkan terhimpitnya beban ekonomi keluarga menjadi alasan klasik untuk harga dari sebuah lingkungan. Pemerintah juga harus hadir di tengah masyarakat sesuai dengan perannya.

Sehingga, Kampung Cidadap Berseri “Ecovillage” Bandung Barat ini suatu nanti bisa menjadi kampung percontohan untuk kampung-kampung yang menghadapi dilema serupa, antara desakan ekonomi dan kelestarian lingkungan khususnya kawasan karst.

kolase 5

Nah, demikian tadi hasil tulisan perjalanan saya di KCB yang rasanya seperti mudik atau pulang kampung ke Klaten. Sebuah kampung dengan pintu-pintu rumah yang terbuka, pekarangan yang luas, dan keramahan warganya yang senantiasa menyapa dan menebar senyum kepada saya. Sebuah kesejukan yang tidak hanya saya dapatkan dalam arti harfiah saja.

Sebuah kampung yang menginspirasi!

Keterangan:
Foto-foto dan gambar dokumentasi pribadi Rina Tri Handayani

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.