Menjajal Trip ke Yogya Bareng “Minhub”

 

 

Screenshot_2019-11-12-12-55-43

Perjalanan saya ke Yogyakarta International Airport (YIA) dimulai dari Bandara Internasional Adi Sucipto di Maguwo.  Bersama kedua bocah dan suami dari Bandung kami menjajal trip ke Yogya a la “Minhub”. Transportasi terintegrasi yang untuk wisata keliling kota budaya yang dipersembahkan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) seperti foto instagram di atas.

Melalui aplikasi KAI Access, saya mengecek jadwal KA Bandara. Rangkaian kereta api yang dioperasikan untuk melayani calon penumpang Bandara YIA di Kulon Progo. Pukul 10.40 WIB, kami bertolak dari Stasiun Maguwo yang persis di depan Bandara Adi Sucipto menuju Stasiun Wojo, Purworejo. Harga tiket dibandrol Rp 15 ribu mulai anak diatas usia 3 tahun.

KA Bandara1

KA Bandara (Foto: Dokumentasi pribadi)

Sebagai rail fans atau penggemar kereta api, kedua anak saya berjingkrak-jingkrak ketika KA Bandara tiba layaknya mendapat mainan baru. Kami segera menaiki gerbong pertama KA berwarna dominan hijau tersebut. Lokomotif KA yang sangat berbeda dengan KA jarak jauh yang biasa kami naiki apabila mudik dari Bandung ke Klaten.

Peemmm… Bunyi klakson khas KA jarak dekat menandai keberangkatan KA Bandara. Penumpang masih cukup sepi karena sepertinya belum banyak yang tahu mengenai moda yang resmi dioperasikan Mei 2019 ini.

KA Bandara2

Kondektur perempuan memeriksa karcis KA Bandara (Foto: Dokumentasi pribadi)

Kondektur yang memeriksa karcis memastikan tujuan perjalanan kami.

“Mau jalan-jalan ya,” ujarnya ramah.

Lihatlah, kedua anak saya sibuk hilir mudik kesana kemari. Menjajal tirai jendela, duduk dari bangku satu ke bangku yang lain, menengok penumpang yang lain, dan bersorak heboh jika melintas palang kereta api. Sayangnya, belum ada tempat colokan atau minuman di depan bangku sehingga tidak praktis saat menaruh tumbler anak yang sedikit-sedikit haus atau minta jajanan.

Stasiun wojo

Stasiun Wojo yang dilengkapi dengan fasilitas ruang tunggu bandara (Foto: Dokumentasi pribadi)

KA Bandara hanya dua kali berhenti yaitu di Stasiun Yogyakarta dan Stasiun Wates. Tak sampai satu jam kami tiba di Stasiun Wojo. Sebelum stasiun Bandara YIA rampung dibangun, Stasiun Wojo merupakan stasiun terdekat menuju Bandara YIA. Di stasiun khusus pemberhentian KA Bandara pun disediakan fasilitas khusus ruang tunggu bandara. Seperti di Stasiun Wojo ini saya dapat melihat jadwal penerbangan pesawat.

Shuttle DAMRI Bandara

Shuttle DAMRI Bandara YIA (Foto: DOkumentasi pribadi)

Selanjutnya dari Stasiun Wojo, kami akan diantarkan oleh shuttle DAMRI. Sembari menunggu DAMRI dan suami yang tengah sholat jumat, saya berkenalan dengan calon penumpang pesawat. Dia seorang ibu muda dengan anak satu yang belum genap berusia dua tahun. Ia mengaku akan pulang kampung ke Pontianak sementara suami karena harus bekerja hanya mengantar sampai bandara.

Saya takjub dengan keberaniannya. Tanpa transportasi yang aman dan nyaman tentulah perempuan takut akan pulang sendiri apalagi repot dengan membawa bayi. Alasannya sendiri memilih penerbangan dari Bandara YIA karena tidak perlu transit dan tiket yang sangat murah. Ia mendapat harga Rp600 ribuan dari maskapai Lion Air. Tiket yang lain sebagian besar diatas satu jutaan.

Mengintip Yogyakarta International Airport (YIA) Kulon Progo

YIA depan

Yogyakarta International Airport (YIA) (Foto: Dokumentasi pribadi)

DAMRI membawa kami menembus jalur selatan Pulau Jawa melintasi perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dengan membayar tiket Rp15 ribu untuk dewasa, sekitar 10 menit, kami sudah tiba di bandara yang berlokasi di ujung barat daya Yogyakarta ini.

Dari Stasiun Wojo, lokasi bandara berada di sebelah kanan jalan raya jalur selatan Palihan Kecamatan Temon. Tujuan kami ke sini bukan hendak melakukan penerbangan tapi jalan-jalan mengintip bandara baru. Seperti tebakan kondektur di dalam KA Bandara tadi.

YIA 2

Bandara YIA (Foto: Dokumentasi pribadi)

Proyek pembangunan bandara ini belum rampung. Namun, yang saya lihat dengan suami, bandara berstandar internasional ini sudah cukup ramai. Ya, kemungkinan besar adalah karena kemudahan akses melalui transportasi terintegrasi. Selain melalui KA Bandara, perjalanan ke pusat kota Yogya juga bisa menggunakan moda DAMRI langsung ke Terminal Giwangan dengan harga tiket Rp50 ribu per orang dewasa.

Kulon Progo kalah populer dengan kota lain di DIY seperti Kota Yogya, Sleman, Bantul bahkan Gunung Kidul. Bahkan tingkat kemiskinan Kulon Progo tertinggi di DIY dengan nilai persentase 18,3 dan berada diatas angka rata-rata nasional sebesar 9,66persen. Padahal Kulon Progo juga menyimpan banyak potensi ekonomi dan wisata. Di antaranya dekat dengan bandara terdapat Pantai Glagah, kemudian dari plang yang saya baca terdapat Waduk Sermo dan Kali Biru.

Dibukanya akses bandara di daerah perbatasan dan terpencil secara tidak langsung akan memberi dampak pada peningkatan ekonomi masyarakat dan sektor pariwisata. Apalagi nanti jika integrasi Tol Jogja-Solo sudah jadi, daerah ini akan semakin ramai dan berkembang untuk menyambut kedatangan pengunjung.

Capaian Kemenhub tidak hanya telah membuka bandara baru di Yogyakarta. Dikutip dari instagram @kemenhub151, Kemenhub melalui pendekatan Indonesia Sentris membuka keterisolasian dengan memberikan aksesibilitas terhadap Daerah 3TP (Terluar, Terdepan, Tertinggal, dan Perbatasan). Sepanjang lima tahun terakhir sudah dibangun 18 rute tol laut untuk menekan disparitas harga, 891 angkutan perintis di darat, kereta api, laut, dan udara, pembangunan dan pengembangan 131 bandara di daerah rawan bencana, perbatasan, dan terisolir, kemudian untuk meningkatkan konektivitas logistik telah tersedia 39 rute Program Jembatan Udara yang melayani sampai Daerah 3TP.

Karena keterbatasan waktu, kami kembali ke Stasiun Wojo dan urung mengunjungi Pantai Glagah yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari bandara. Kami kembali mengejar KA Bandara yang berangkat pukul 14.04 WIB. Dari Bandara YIA meluncur ke jantung kota Yogyakarta.

Jalan-jalan di Kawasan Malioboro

Jalan-jalan1

Jalan-jalan di Kawasan Malioboro (Foto: Dokumentasi pribadi)

Dulu, ketika baru wacana akan dibukanya bandara YIA, saya merasa lokasinya jauh sekali dari kota. Bahkan saya sangsi jika akan laku. Namun, pikiran kolot saya terbantahkan dengan inovasi layanan dari Kementerian Perhubungan. Dari bandara YIA, kami hanya butuh waktu sekitar setengah jam sampai di Stasiun Yogyakarta menggunakan KA Bandara.

Kata orang, belum ke Jogja kalau belum ke Malioboro. Keluar dari Stasiun Tugu kami tak kesulitan ke Malioboro. Banyak moda yang bisa dipilih mau ojek, taksi, hingga becak. Karena jarak Stasiun Tugu ke Malioboro sangat dekat, kami memilih jalan kaki. Trotoar yang lebar dan letaknya yang lebih tinggi dari trotoar umumnya membuat kami sangat nyaman. Apalagi kami membawa dua anak kecil.

Pedestrian yang dibangun di Kawasan Wisata Malioboro sangat memanjakan wisatawan. Kami bisa berjalan dengan santai dan nyaman tak perlu lagi berjubal-jubal. Daerah ini merupakan kawasan penyangga sebelum sampai ke Kraton Yogyakarta Hadiningrat.

Yogyakarta sebagai kota budaya selalu populer dan menjadi top destinasi yang harus disambangi para pelancong. Dari kawasan ini saja banyak sekali yang bisa dinikmati. Ada Jalan Malioboro itu sendiri, Kampung Ketandan, Pasar Beringharjo yang melegenda, Benteng Verderburg, Monumen Serangan Umum 1 Maret, Monumen Batik, Titik Nol, Taman Budaya, Kraton, Masjid Gede, Taman Sari, Alun-alun hingga sentra Gudeg Wijilan.

Usai bersantap, kami berjalan menuju Taman Pintar Yogyakarta mengikuti keinginan bocah yang sudah tak sabar sejak turun dari kereta tadi. Dari arah Jalan Malioboro, belok kiri di perempatan titik nol. Walaupun saat kami tiba, gedung utama sudah tutup tapi pengunjung masih dapat menikmati wahana di Taman Pintar.

DSC_6770

Trip ke Yogya sekaligus quality time bersama keluarga (Foto: Dokumentasi pribadi)

Di bagian depan ada cap telapak tangan dan kaki ke tujuh Presiden Indonesia, ada Gong Perdamaian, ada taman lalu lintas, ada arena mini outbond, ada peraga observatorium, dan tempat bermain menarik lainnya bagi anak.

Tak terasa azan magrib telah berkumandang. Di area Taman Pintar terdapat masjid untuk bersembahyang bagi Muslim dan toilet dalam jumlah banyak. Keberadaan fasilitas umum ini sangat membantu para pelancong.

Menutup Trip dengan TransJogja

Hari sudah petang ketika anak-anak mau beranjak dari Taman Pintar. Awalnya mereka enggan pulang. Hingga pahlawan itu datang, TransJogja.

“Siapa mau naik bus kota?” tanya saya.

Keduanya pun segera berlari. Maklum di Bandung, kami kerap memanfaatkan DAMRI untuk jalan-jalan ke pusat kota atau mengunjungi Abah. Di dalam bus kota mereka juga bisa berimajinasi seperti film kartun tentang empat bus kota yang bersahabat. Jika di Bandung mereka naik “Tayo” (warna bus dominan biru), di Jogja mereka naik “Rogi” (warna bus dominan hijau).

halte

Halte TransJogja Taman Pintar (Foto: Dokumentasi pribadi)

Kami tak perlu jauh-jauh berjalan, karena halte berada di depan Taman Pintar. Harga tiket TransJogja sangat murah hanya Rp3.500 per orang dewasa. Bus baru bantuan Kemenhub tahun 2016 berukuran sedang yang sangat nyaman. Melewati beberapa shelter dan melenggang di jalan raya Jogya, TransJogja jalur 1A membawa kami kembali ke bandara Adi Sucipto. TransJogja menghubungkan rute-rute tempat menarik di Jogja yang patut diagendakan di trip berikutnya.

trans

Menumpang TransJogja (Foto: Dokumentasi pribadi)

Tiba di halte bandara, berakhir juga trip ke Yogya a la #Minhub hari ini. Sebuah trip terintegrasi yang aman dan nyaman. Kemudahan dan kelancaran transportasi akan memikat semakin banyak wisatawan dalam maupun luar negeri yang berdampak pada peningkatan pendapatan dan kemajuan Indonesia. Target pemerintah mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara pun tercapai.

Melalui kerja keras pemerintah terutama Kementerian Perhubungan sebagai #penghubungIndonesia dan kesadaran masyarakat menggunakan moda transportasi publik akan mewujudkan pemerataan ekonomi untuk Indonesia Maju. Saya berharap semoga kemudahan akses melalui integrasi antarmoda transportasi di Yogyakarta segera diikuti daerah-daerah lain.

Mau jajal trip ke Jogja seperti kami juga?

 

Ohya baca juga artikel tentang perjalanan dan impian transportasi terintegrasi saya sebelumnya Transportasi Terintegrasi Terpadu, Transportasi Masa Depan Indonesia

 

Referensi bacaan:

Kulon Progo Targetkan Penurunan Kemiskinan 2 Persen Per Tahun. www.bisnis.com dipublikasikan 11 November 2019 – 21:56 WIB.

Mirip Transjakarta, Ini Bus Trans Jogja Baru Kemenhub Tahun 2016. www.kaorinusantara.or.id dipublikasikan 28 Desember 2016

 

 

2 pemikiran pada “Menjajal Trip ke Yogya Bareng “Minhub”

  1. Wah enak ya keretanya sepi, warna bangkunya mencrang gitu wkwkwk jadi pengin dudukin. Baru nyadar, sebelum ini Jogja emang ada bandaranya atau enggak sih 🤔 padahal di Jogja banyak bulenya 😂 harga tiket Transjogja belum naik2 ya 😲

    • Iya KA Bandara masih sepi mungkin byk yg belum tahu. Uda ada bandara Adi Sucipto lebih tepatnya pangkalan udara TNI AU. Sekarang ada bandara baru di Kulonprogo yg lebih besar.
      Iya, aku jg kaget dari zaman kuliah masih segitu, busnya uda diperbaharui jd bagus…

Silakan meninggalkan jejak. Insya Alloh saya kunjungi balik^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.